
"Amora sejak kapan kau datang?" Rangga yang berniat mengantarkan berkas ke Morgan di malah bertemu Amora.
"Baru saja, sementara aku akan menggantikan Kak Morgan disini, Kamu kerja yang bagus Rangga, kalau tidak aku akan memotong hakimi," canda Amora.
"Baiklah Nona muda galak." Rangga duduk di depan Amora, sedangkan Amora duduk di kursi kebesaran Morgan.
"Kak Rangga apakah Kakak tahu siapa lelaki yang dicintai oleh Kak Nayara."
"Naya? dia gadis yang aneh, sebenarnya hampir semua lelaki mencintainya, tapi tak satupun yang diberi harapan, jadi aku tidak tahu siapa wanita yang disukai Nayara.
"Apakah Kak Rangga juga termasuk laki-laki yang jatuh cinta pada Nayara" Amora menyipitkan matanya menatap gelagat Rangga. akan tetapi Amora tahu Rangga playboy. Nayara tidak mungkin Sudi memiliki kekasih lelaki seperti Rangga.
"Kau kenal lelaki ini?" Amora memberikan foto pada Rangga yang dicurigai itu saingan terberat kakaknya.
"Dia lelaki yang mengincar Nayara, Lelaki itu bernama Belvan."
"Ouhh." Amora melihat Belvan sangat tampan, bisa dibilang seimbang dengan ketampanan Morgan.
Pantas saja Kak Nayara bingung." Amora mengambil lagi foto dari tangan Rangga dan melihatnya lebih dalam lagi.
Rangga pamit pergi untuk melanjutkan pekerjaan.
Diam-diam Amora menaruh kebencian pada Belvan. Amora yang begitu menyayangi Morgan tak ingin ada lelaki lain yang membuat hidup kakaknya begitu sulit.
"Sampai jumpa Kak Belvan," lirih Amora, lalu membuang foto Belvan yang terselip di berkas kerja selama dua bulan yang lalu.
***
"Selamat pagi Nay."
"Belvan, kenapa kamu masuk sembarangan!!" Nayara terkejut sambil merapatkan handuk ditubuhnya.
Belvan menggigit bibir bawahnya. Jujur belvan terpesona akan kemolekan tubuh Nayara. "Aku sebenarnya ingin mengajakmu lari pagi."
"Keluar Belvan, aku harus ganti baju, Sebagai orang berpendidikan tinggi seharusnya kamu tahu ini tidak benar. Setidaknya kamu bisa ketuk pintu dulu!" Nayara berbicara keras dan lantang, untuk melampiaskan kekesalannya.
"Aku sudah mengetuk pintu, mungkin kamu tidak mendengar tadi." Kata Belvan membela diri.
"Mungkin aku memang tidak mendengar, aku di dalam kamar mandi tadi. Sekarang pergilah."
Nayara ingin melampiaskan kekesalannya karena Belvan semakin bertindak semaunya. Dengan raut wajah yang berubah menjadi merah, Belvan keluar kamar Nayara.
Belvan mondar mandir di balkon, dia merasa Nayara benar-benar sudah berubah. Nayara tidak seperti dulu, saat berbicara dengannya pun selalu ketus.
__ADS_1
Belvan menduga Morganlah penyebab semua kekacauan hubungannya. Lelaki itu akhirnya menyusun sebuah rencana untuk membuat Morgan tidak bisa mendekati Nayara untuk selamanya.
Belvan menemui pelayan di dapur, Menarik pelayan ke tempat sedikit tersembunyi supaya tidak terlihat oleh siapapun. Belvan memberikan sesuatu pada pelayan itu.
"Kamu berikan ini ke minuman Nona, beberapa hari ini dia kurang enak badan."
"Apa ini tuan?"
"Ini hanya vitamin, lakukan saja yang aku perintahkan, dan usahakan Nona tidak melihatnya."
"Siap, Tuan."
"Bagus." Belvan lalu pergi dan kembali ke kamar Nayara. Belvan melihat Nayara sudah memakai atribut joging lenglap.
"Sudah siap, Honey." Belvan meatap Nayara dengan senyum seolah pertengkaran tadi hanyalah angin lalu.
"Oke, siap." Nayara keluar kamar dan tak lupa mengunci pintu. Nayara maupun Belvan tidak membawa ponsel karena di pulau tak ada sinyal sama sekali.
Selama joging di pantai pasir Belvan terus berusaha mendekati Nayara. Nayara asyik diajak bicara. tidak marah-marah lagi seperti tadi.
"Nay, setelah kita kembali, aku pastikan Ibu Diana sudah aman ditangan anak buah ku, dan itu artinya kamu harus segera menepati janji.
"Janji, aku sepertinya tidak pernah membuat janji apapun." Nayara berhenti melangkahkan kakinya.
"Kamu yang sungguh pelupa sekarang. Kamu berjanji akan menikah setelah balas dendam pada Briana dan ibu Diana selesai.
"Tidak Nay, aku masih ingat betul kalau kamu bersedia menikah kalau balas dendam itu selesai. Dan kamu pasti ingat apa yang diinginkan Uncle dan Aunty. Kita harus menikah."
Nayara menggeleng pelan. "Belvan."
Belvan meraih kedua tangan Nayara. "Nay, aku berjanji akan menjadi suami yang paling pengertian, aku akan selalu ada disaat kamu membutuhkan," janji Belvan.
"Belvan, aku belum siap." Nayara menunduk memandangi jemarinya yang digenggam oleh Belvan.
"Kamu sudah siap Nay, percayalah kamu tidak akan menyesal. Bukankah kamu bilang kebahagiaan uncle dan aunty adalah segalanya.
"Kamu memang benar, tapi bukan berarti kita harus menikah secepat ini."
"Cepat kamu bilang Nay? Aku sudah menunggu sangat lama, enam tahun aku menyimpan perasaan sayang ini untukmu, Honey."
"Beri aku waktu." Nayara melepas tangannya dari tangan Belvan, gadis yang kini rambutnya dikuncir tinggi menyerupai ekor kuda itu kembali berlari hingga rambutnya bergoyang indah.
Nayara dan Belvan sudah sama- sama berkeringat, matahari sudah menampakkan cahayanya dan panas mulai terasa menyengat di kulit.
__ADS_1
"Belvan kita balik yuk, panas nie," eluh Nayara.
"Oke." Belvan langsung setuju.
Nayara dan Belvan tidak langsung masuk. Dia memilih mengeringkan keringat di balkon Villa.
Para penjaga berkeliling menjaga keamanan. Seolah bahaya tengah mengintai saja.
"Nona Nayara dan tuan Belvan rupanya sudah selesai."
"Iya, no haus banget tolong ambilin minuman donk."
"Belvan mengedipkan matanya pada pelayan memberi kode supaya tidak sampai lupa mencampur bubuk yang diberikan tadi.
"Em Nona Nayara mau minum apa?"
"Em, juice jeruk kayaknya boleh deh."
"Kalau, Tuan?"
"Aku mau teh aja Bi, tapi jangan terlalu manis."
"Baiklah, pesanan yang sangat mudah dan simple," kata pelayan lalu masuk kembali ke dapur.
Wanita itu segera membelah jeruk dan menambahkan gula ke gelas, tak lupa dia tambahkan juga vitamin pemberian Belvan.
Setelah tugas dia laksanakan dengan rapi dan yakin benar, Pelayan wanita satu-satunya itu mengantar minuman pada Nayara.
"Nona, Tuan, ini pesanannya."
"Iya, terimakasih." Nayara segera mengambil minuman jeruk yang diinginkan untuk membasahi kerongkongannya pagi ini.
Belvan mengambil minuman teh hangat yang disodorkan bibi dan meneguknya. Nayara pun sama, dia bahkan langsung menghabiskan satu gelas juice jeruk buatan wanita yang memiliki pekerjaan khusus melayani dirinya itu
"Rasanya segar sekali, Bi. terimakasih." Nayara mengembalikan gelas kosong sambil berterima kasih.
"Tidak usah berterima kasih Nona, sudah kewajiban saya untuk terus melayani anda selama di Villa ini.
"Tetap saja saya harus berterima kasih pada setiap pekerjaan anda untuk saya," jawab Nayara.
Bibi lagi-lagi hanya tersenyum sebelum pergi meninggalkan Nayara dan Belvan.
Nayara tiba-tiba merasa dadanya sesak dan kesulitan mengambil oksigen, wajahnya memucat.
__ADS_1
"Nay, kamu kenapa?" Belvan pura pura tidak tahu apa-apa dan panik.
"Aku tidak tahu Belvan, entah kenapa tiba-tiba aku merasa tubuhku lemas, dan aku merasa ingin minum lagi dan lagi, entah apa yang terjadi?" Nayara memeluk tubuhnya sendiri dan merasa bingung dengan kondisi tubuhnya yang tiba-tiba aneh.