
"Mpphh mpphh" Nayara menggelengkan kepala.
"Nona, kenapa tidak kita buka saja lapban di mulutnya, wanita ini pasti ingin bicara sesuatu."
"Oh, ya kamu benar, dia pasti ingin buat pengakuan kalau selama ini dia sudah sering mesum di kantor."
Briana menarik lakban di mulut Nayara dengan keras hingga menyisakan rasa amat perih di bekasnya.
"Ayo bicaralah Nayara, Apa yang ingin kau katakan?" Briana mencekik Nayara, jari jempolnya menancap di kerongkongan, Nayara mendesis kesakitan. "Pasti semua dugaanku itu benar adanya, Kan?Katakan!!"
"Ti-tidak." Nayara menggeleng sambil menahan rasa sakit di sekujur tubuhnya, tapi dalam hati dia sama sekali tidak akan menyerah, andaikan ada siksaan yang lebih kejam lagi, dia akan tetap tegar menghadapinya.
Saat ini, mungkin Briana tengah bahagia karena merasa dirinya telah menang, tapi untuk nanti, mungkin dia yang akan menangis darah, karena Nayara sudah bertindak lebih jauh lagi dari yang dibayangkan.
"Kami di kantor tidak pernah melakukan apa yang kau tuduhkan." Nayara berusaha menjelaskan yang sebenarnya. Tapi rasanya percuma. Briana sudah kalap dan sangat bernaf*su untuk melukainya.
"Bohong! Semenjak ada kamu, dia lebih sering membela dirimu daripada aku. Jadi rasakan ini."
Plakk!
Briana menampar pipi Nayara, membuat lukisan merah di pipi putih nan halus itu.
"Ahk." Nayara ingin sekali memegang pipinya, tapi sayang tangannya terikat.
Merasa kesal karena Nayara tidak menyerah dan minta ampun, Briana masih mencoba melukainya dengan beberapa kali cambukan di punggungnya. Andai terlihat, mungkin punggung itu kini sudah dipenuhi dengan luka.
Briana mulai bosan bermain dengan cambuk, dia melempar benda laknat itu pada salah satu anak buahnya supaya lekas disimpan di laci.
Diotak wanita sadis itu kembali terbesit ide baru yang lebih menantang.
"Bondan!"
"Siap Nona." Pimpinan penculik maju setelah namanya dipanggil
"Ikat dia di tiang aku ingin mengajaknya main-main sambil berdiri, pasti posisi duduk seperti ini sangat membosankan, dia sudah seharian ini duduk saja kan."
"Benar Nona." Lelaki yang dipanggil Bondan maju di urutan paling depan, lelaki itu dengan cepat membuka gembok tangan beserta kedua kaki sekalian.
Dengan kasar lelaki pemilik tubuh kekar itu menyeret Nayara menuju tiang. Kebetulan di gudang ada beberapa tiang berdiri menjulang tepat di tengah bangunan.
__ADS_1
Nayara diseret oleh Bondan dan kawannya, dalam keadaan perut kosong, tubuh mungilnya didorong hingga kepalanya membentur tiang, kening Nayara memar dan sedikit lecet hingga mengeluarkan darah.
Briana senang menyaksikan kekejaman anak buahnya. Melihat Nayara semakin terluka semakin besar rasa puas yang dia rasakan.
Tangan Nayara di tarik ke belakang hingga melingkar pada tiang. Pergelangannya kembali di borgol hingga dia hanya bisa berdiri dan bergerak berputar.
"Briana, salah apa kamu sekejam ini?" Apa yang kamu pikirkan belum tentu benar." Nayara berbicara keras sambil menatap Briana dengan sorot mata tajam.
Briana menganggap tatapan mata Nayara adalah perlawanan, Nayara sama sekali belum memohon untuk diampuni.
"Jangan memandangku seperti itu, aku benci kau memandangku Naya. Kita tidak sekelas, bahkan pembantu di rumahku saja derajatnya lebih tinggi di mataku daripada kamu."
"Bondan! ambilkan air," titah Briana.
"Siap Nona, air minum atau air buat mandi, Nona?"
"Bondan! Aku tidak suka bercanda," pekik Briana dengan kasar.
Bondan tahu dia telah salah bicara, Bondan segera mengambil ember dan mengisinya dengan air keruh.
"Nona ini air lumpur yang anda minta." Bondan memberikan dua ember air berisi air keruh
"Nayara mengakulah padaku, apa saja yang telah dilakukan Morgan padamu? Apakah kalian pernah tidur bersama.
"Tidak pernah Briana!" Nayara menggeleng.
"Oh, tidak pernah ya, kalau mencium bibirmu?"
"Hentikan omong kosong ini Briana, aku tidak melakukannya." Nayara kali ini berusaha meronta, tapi sama saja, borgol di tangannya terlalu kuat.
"Oh, pasti kalian baru PDKT, iya kan? Ngaku Nayara."
"Wanita gila!" Nayara Emosi, sejak tadi Briana terus berkata tanpa ada satupun yang benar.
"Berani sekali kau bilang aku gila! Hah." Briana mengambil seember air lumpur dan menyiram ke tubuh Nayara.
Nayara merasakan perih di sekujur tubuhnya karena air lumpur itu mengenai luka di tubuhnya. "Aaaaa."
"Hahaha, Ayo katakan ampun pada Nona Briana Nayara," Briana menarik rambut Nayara yang sudah bercampur dengan lumpur.
__ADS_1
"Tidak akan Briana, aku tidak akan minta maaf, aku tidak melakukan itu semua."
"Ayo minta maaf dan cium kakiku." Briana makin kuat menarik rambut Nayara hingga rasanya kulit kepalanya sudah lepas dari tengkoraknya.
"Ah, kau akan menyesal Briana, kau sudah membuat aku merasakan semua ini." Nayara mulai memperlihatkan kekuatannya dengan ucapannya.
"Aku tidak akan menyesal! Kamu pikir kamu siapa hah?" Briana kembali mengambil seember air yang dipenuhi dengan lumpur hijau yang tentunya banyak kuman dan bakteri di dalamnya.
Nayara menunduk dan memejamkan mata menghindari kotoran masuk ke mata.
"Nona, sepertinya anda sudah terlalu banyak buang energi anda untuk menyiksanya, bagaimana kalau kita istirahat dan bicarakan soal …." Bondan menggesek ibu jari dan jari tengahnya.
Briana tahu kalau Bondan sedang menagih bayaran yang sudah dijanjikan kemarin.
Briana tentu tidak berbohong dengan janjinya, beberapa gepok uang tunai sudah disiapkan dalam koper.
Mereka berlima mengikuti Briana kemanapun dia melangkah. Sudah tak sabar ingin tahu rasanya memegang uang puluhan juta.
Nayara dibiarkan sendiri dengan tubuh berlumuran lumpur dan perut yang lapar.
'Kamu kuat Nay, kamu pasti kuat. Biarkan untuk saat ini Briana bahagia dan menganggap ini adalah kemenangan yang berhasil dia gapai, tapi yakinlah kalau ini adalah senjata untukmu menghancurkannya dilain hari.'
Nayara menunduk merasakan sisa-sisa perih akibat cambuk dan perlakuan kasar mereka, Nayara berharap Belvan atau Morgan akan menyelamatkan dirinya.
***
Morgan kehilangan jejak, Briana cukup pintar dengan mematikan ponselnya, Morgan jadi susah untuk melacak keberadaannya.
"Aku semakin yakin Briana adalah dalang dibalik semuanya," ujar Morgan pada sopir pribadinya terpercaya.
"Benar Tuan, Aku lihat istri anda memiliki perasaan tidak suka yang berlebihan pada Nayara.
"Jika memang seperti itu, kasian Nayara, dia saat ini pasti sedang mendapat perlakuan buruk dari Briana."
" Anda harus hati-hati Tuan, jika Nona Briana tahu anda ikut campur, maka istri anda akan semakin murka dan kejam dalam menyiksa."
" Kamu sepertinya banyak tahu rencana dia."
" Iya Tuan, saya pernah mendengar pembicaraan Nona dan rencana melukai Nona Nayara, tapi saya tidak pernah menyangka kalau sampai melibatkan tangan para lelaki bayaran."
__ADS_1
"Kukira Naya dulu menjodohkan ku dengan Briana sebelum kepergiaannya, karena dia wanita yang pantas menggantikan posisinya di hatiku, ternyata aku salah. Briana memiliki sifat yang sama sekali tidak dimiliki Nayara." Kenang Morgan saat satu persatu sifat asli Briana mulai terlihat.