Sekretaris Nakal (Balas dendam)

Sekretaris Nakal (Balas dendam)
Belvan kembali.


__ADS_3

"Nay, kamu dimana?" Belvan mengkhawatirkan Nayara. Kata Bibi dia semalam tidak pulang.


"Aku ada di perusahaan, aku lembur Van, ini saja baru mau pulang"


"Oh. baiklah. kapan ada waktu. Mama sudah tak sabar ingin kamu datang. Bagaimana kalau aku menjemputmu sekarang. Aku ingin ajak kamu ke mall untuk belanja baju couple terlebih dahulu."


"Emang harus couple ya? kan ini bukan acara yang special Van."


"Nay, sederhana seperti apapun acaranya, kalau bersama kamu, aku anggap itu special.


Mendengar ucapan Belvan Nayara jadi tak bisa berkata-kata lagi. Nayara tidak bisa menolak Belvan yang begitu tulus menginginkan dirinya lebih dari sahabat. Apalagi Uncle Bram sangat mendukung Belvan yang jadi suaminya kelak.


"Belvan maafkan aku, aku nggak mungkin bilang kalau semalam udah tidur di rumah Morgan."


Nayara segera pulang dengan cepat, sekitar tiga puluh menit dia sampai di apartement, Nayara sangat terkejut sudah ada Belvan duduk di balkon Apartemennya.


"Nay." Belvan langsung memeluk Nayara dari belakang, dua hari tak bertemu membuat Belvan sudah sangat merindukan Nayara.


Nayara terkejut dengan sikap Belvan, laki-laki itu tak seperti biasanya dia lebih dering memeluk Nayara. Belvan sepertinya takut akan sesuatu. Belvan takut Nayara akan meninggalkan dirinya.


Belvan, sejak kapan kamu datang?" tanya Nayara sambil melepaskan pelukan Belvan.


"Baru saja Nay," jawab Belvan.


"Oh, kamu kenapa nggak masuk, biar bibi buatkan minuman, atau cemilan apa, gitu."


"Aku sengaja nunggu kamu datang, Nay."


Nayara menggandeng Belvan masuk, menemani lelaki itu duduk di ruang tamu.


"Belvan bagaimana kerjaan kamu?"


"Sudah beres, dan aku ingin cepat pulang karena sudah kangen sama kamu." kata Belvan yang terlihat bercanda namun dia mengucapkan tulus dari hati.


Nayara menanggapi juga dengan senyum tipis di bibirnya.


"Nayara, bagaimana rencana kamu, apa sudah beres"


"Tinggal nunggu Briana pulang dari luar negeri."


"Syukurlah."


Belvan mengelus rambut Nayara dan menyelipkan di belakang telinga, tanpa sengaja Belvan menatap sebuah tanda yang tak pernah dilihat sebelumnya.


Raut wajah Belvan berubah menjadi sedikit kecewa, namun Belvan berusaha untuk bersikap biasa.


Di leher Nayara ada bekas merah, sang pemilik leher sendiri tak tahu sejak kapan bekas itu ada dan karena apa.

__ADS_1


Nayara saat ini bingung, kenapa wajah Belvan tiba-tiba berubah.


"Nay waktu kamu lembur di kantor ada berapa orang?"


"Berapa orang ya? lupa aku," jawab Nayara asal. "Soalnya aku nggak perhatiin sih."


"Kenapa Belvan?" Nayara mengernyit.


"Ah, nggak aku cuma penasaran saja."


Meski Belvan tidak menjawab jujur tapi terlihat sekali ada yang sangat ingin dia ketahui.


"Belvan kamu kok lihatnya gitu sih?" Nayara tak enak hati Belvan terus menatap wajahnya dengan intens, lelaki itu sepertinya penasaran dengan sesuatu.


"Nggak ada apa-apa. Kita jadi sekarang?" tanya Belvan.


"Iya, jadi." aku akan mandi dan ganti baju dulu ya." Nayara segera masuk, mata Belvan tak berhenti mengekori gerakan tubuh Nayara. Terutama jalan Nayara.


'Kalau gue sayang dia, gue harus percaya, gue nggak boleh buat dia ilfil," gumam Belvan sambil mengusap wajahnya.


Nayara melepas baju kotornya di kamar, lalu mengambil handuk kimono. Setelah memakai penutup rambut dia segera ke kamar mandi. Nayara mandi menggunakan shower saja biar lebih cepat. Kalau di bathup akan lebih lama. Mengingat Belvan sudah menunggunya.


Usai mandi, Nayara segera memakai make'up Nayara terkejut melihat dilehernya ada bekas merah.


"Apa ini?" Nayara memperhatikan lebih dalam lagi, Nayara mengira itu sebuah noda, tapi setelah diusap dengan kapas tak mau hilang juga.


Nayara sekarang sadar kalau Belvan terus menatapnya pasti karena tanda merah itu. Nayara berusaha menggosok dengan kapas, akan tetapi bukan malah hilang, tapi malah semakin membesar.


Nayara kesal dia akhirnya menutup dengan amanplas. "Malam ini Belvan memintaku bertemu dengan keluarganya, pasti akan menggelikan jika aku memakai amanplas ini di leherku."


Nayara menggerutu sendiri, dia sungguh kesal dengan tanda merah dilehernya.


Nayara kembali keluar setelah selesai mempersiapkan diri. Belvan tampak merenung sambil menatap ke arah luar jendela, lelaki itu tak sebahagia ketika baru datang tadi.


Belvan terlalu asyik dengan lamunannya, sampai dia tidak menyadari Nayara datang.


"Van, kita jadi belanja ke mall?" tanya Nayara berusaha untuk bersikap seperti biasa.


"Iya, maaf aku tidak tahu kalau kamu sudah siap." Belvan beranjak dari duduknya lalu menggandeng Nayara. Belvan mendadak lebih irit bicara. bagaimanapun Nayara adalah wanita yang paling dia sayangi, tentu ada sedikit rasa tidak rela wanitanya di sentuh oleh lelaki lain.


Saat di mobil, Belvan memasangkan sabuk pengaman untuk Nayara. dia tidak usil dan banyak menggoda seperti biasanya. Belvan mendadak menjadi pendiam.


"Belvan kamu kenapa?" Tanya Nayara.


"Kenapa? aku baik aja Nay. Aku baru saja perjalanan jauh, mungkin kurang tidur."


"Bagaimana kalau ditunda saja? kamu mending istirahat."

__ADS_1


"Tidak Nay, aku sudah tidak sabar ajak kamu jalan, waktu kuliah kita hampir setiap hari. Sekarang sudah hampir sebulan kita belum jalan-jalan sama sekali. Bulan ini aku juga memenangkan tender. Sepertinya aku harus belikan kamu hadiah.


"Belvan bisa nggak sih kamu nggak merepotkan diri kamu, kamu itu terlalu loyal sama aku selama ini. Sedangkan aku nggak pernah lakukan sesuatu yang berarti buat kamu."


"Nay, tetaplah di sampingku, itu sudah cukup bagiku." Belvan menoleh ke arah Nayara untuk waktu yang lumayan lama.


"Tapi Belvan?" Nayara menatap kedua bola mata Belvan bergantian.


"Aku tidak mau kehilangan sahabat terbaik seperti kamu Belvan."


"Nay tapi aku mencintaimu?"


"Bagiku sahabat lebih diatas segalanya Belvan. Bahkan cinta itu sendiri," kata Nayara.


Jika sudah membahas masalah cinta dan persahabatan, Belvan dan Nayara akan terus berdebat dan tidak akan ada habisnya.


Sampai di Mall, Belvan dan Nayara keliling-keliling terlebih dahulu untuk mencari gaun yang baginya cocok untuk dipakai malam ini, meski tidak couple Belvan malam ini mengambil kemeja yang warnanya senada dengan gaun Nayara.


Setelah membeli gaun, Nayara dan Belvan masih muter lagi ke penjual arloji, Belvan ingin membeli Arloji untuk dirinya sendiri. Akan tetapi sebelum tiba di penjual Arloji Belvan berhenti di penjual perhiasan.


"Nay berhenti sebentar."


"Belvan, ngapain kita berhenti di sini, katanya mau beli arloji."


"Bentar Nay, aku tadi seperti lihat anting bagus banget."


"Anting? buat apa kamu beli anting." Nayara terus menarik Belvan tapi justru dia yang ketarik oleh tubuh kekar Belvan. Nayara akhirnya ikut Belvan memilih perhiasan


"Sudahlah Nay, bentar aja aku pengen beli perhiasan."


"Buat siapa? jangan bilang kamu mau belikan aku."


"Kan tadi sudah aku bilang, aku menang tender. Aku harus traktir kamu."


"Belvan, tapi nggak perlu perhiasan, aku nggak suka."


"Nay, kamu pake perhiasan ini khusus untuk malam nanti."


"Belvan, apakah mama kamu suka wanita yang berpenampilan glamour?"


"Enggak, aku cuma ingin menunjukkan kalau kekasihku adalah yang paling cantik di malam nanti"


Nayara hanya bisa mengikuti kemauan Belvan, lelaki itu jika sudah memiliki kemauan sangat sulit untuk dicegah.


Saat memilih anting dan kalung yang pas, Nayara melihat Morgan ada di toko Arloji yang hendak dia datangi. Morgan tanpa sengaja juga melihat Nayara sedang mencoba anting dan kalung yang dipilihkan Belvan.


Nayara sudah menolak permintaan Belvan mencoba banyak anting, tapi lelaki itu keras kepala. Belvan ingin yang terbaik buat Nayara.

__ADS_1


*Teman-teman yuk bagi Like komen dan Vote.


__ADS_2