Sekretaris Nakal (Balas dendam)

Sekretaris Nakal (Balas dendam)
Leo tertangkap


__ADS_3

Polisi berkumpul di Apartement Leon. Leon sebagai penghuni nomor apartement tersebut segera dipanggil polisi dan dimintai keterangan.


"Siapa lagi penghuni apartement ini selain anda?" polisi menginterogasi Leon di tempat kejadian..


"Hanya saya, Pak"


Sebelum polisi datang, dengan cepat Leon menghilangkan jejak Nayara dan menghapus di jarum suntik yang digunakan untuk membunuh Briana, dan mengganti dengan sidik jarinya, Leon tidak mau Nayara mendapat masalah.


Leon, sengaja menghubungi polisi dan menyerahkan diri, sedangkan Briana dilarikan di rumah sakit untuk di lakukan pemeriksaan berlanjut pada otopsi.


Karena pelaku sudah ditemukan dan mengakui, maka kasus ini tidak diperpanjang lagi.


"Nay, Briana sepertinya telah dihabisi oleh kekasih gelapnya," komentar Morgan saat dia melihat sebuah berita yang ditayangkan di TV.


Nayara yang ikut menyaksikan berita itu dia terdiam tanpa sepatah kata. Nayara sedih sudah menjadi pembunuh, seharusnya Nayara tidak melakukan itu semua pada Briana. bukankah mengurung dalam sebuah penjara bawah tanah akan lebih menyakitkan daripada dengan langsung membunuhnya.


"Leon! Jadi Leon melakukan ini semua untuk menyelamatkan aku." Nayara baru tahu kalau Leon mengubah skenario pembunuhan itu. Harusnya saat ini Nayara yang dikejar polisi karena meninggalkan sidik jari di tubuh Briana dan jarum suntik itu. Bukan Leon.


"Leon? kamu kenal dengan dia?" Morgan menatap Nayara dengan tajam, takut Nayara juga memiliki scandal dengan lelaki bernama Leon itu, karena beberapa hari lalu Morgan juga melihat Nayara bersama Leon.

__ADS_1


Nayara sepertinya masih termakan oleh omongan Briana, Dia tidak mau menjawab pertanyaan Morgan. Nayara memilih memanggil dokter dengan memencet tombol darurat.


"Nay, jika aku ada salah, please katakan padaku, jangan diamkan aku seperti ini." Morgan menarik tangan Nayara yang memencet tombol berkali-kali. " Apa yang kamu butuhkan? beri aku kepercayaan untuk membantu.


"Lelaki menjijikkan, pergi dari sini, aku benci pembohong sepertimu."


"Nay, Nay. Apa yang kamu katakan? Kamu terus marah sejak siuman, apakah kamu sedang dikuasai oleh mimpi buruk, atau ...."


"Berhenti bercanda Morgan. Jika aku minta untuk pergi, maka pergilah." Nayara melotot ke arah Morgan. Morgan tak bisa membiarkan Nayara terus marah tidak jelas.


"Tidak, aku tidak akan pergi sebelum tahu apa yang membuatmu marah seperti ini." Morgan malah mencengkeram bahu Nayara, akan tetapi tidak sampai membuat wanita itu kesakitan.


Morgan menenangkan Nayara dengan memeluk tubuh wanita yang tengah dilanda cemburu itu. "Aku ingin kamu tahu satu hal, kalau aku akan terus berjuang untuk meyakinkanmu kalau kita memang sudah ditakdirkan untuk bersama. Aku senang kamu kembali, kita bertemu lagi setelah sekian lama, bodohnya aku percaya ketika mereka semua menganggap mu mati. Kamu tahu aku selalu datang ke makam dan membawa karangan bunga. Jika kau meragukan cinta dan ketulusanku besok kita datang kesana, kita lihat betapa sering aku kesana, karena setiap aku kesana aku selalu meninggalkan sebuah surat, Aku bodoh, aku berharap kamu bisa membaca surat yang aku tulis dari surga, dan sekarang aku bahkan melihatmu masih hidup meski dalam keadaan kurang baik. Nay jangan siakan kesempatan kedua ini. Please cepat ingat sesuatu. Aku akan meminta dokter untuk melakukan tetapi khusus untukmu, aku yakin ini belum terlambat Nay.


"Tidak perlu, Nayara tidak perlu ingat masalalunya, karena setiap dia ingat, dia hanya akan kesakitan." Belvan yang baru datang segera menjawab sepatah dia patah kalimat yang dia dengar."


"Belvan!" Morgan menoleh, terkejut. Nayara pun sama.


"Belvan, aku minta maaf. Aku tidak memberi tahu kalau aku dirawat disini." Nayara bisa tahu kalau Belvan tengah kecewa.

__ADS_1


"Aku yang harusnya minta maaf, Honey. Aku tadi meeting dengan Klien, jadi aku tidak bisa membaca pesan darimu."


"Pesan!"


Nayara bingung. Morgan bisa melihat ekspresi bingung dari Nayara.


"Iya Nay, aku juga mendapat pesan darimu." kata Morgan.


"Oh, jadi kalian berdua ada disini karena mendapat pesan dari ponselku."


Morgan dan Belvan sama-sama mengangguk.


"Iya, Nay. Aku menemukan kamu di jalan dalam kondisi pingsan," terang Morgan.


"Bro, terimakasih sudah bawa tunangan ku kesini, karena sekarang kamu tidak lagi dibutuhkan, kamu bisa kembali lanjutkan pekerjaan. Maaf jika waktumu terganggu karena pesan itu." Belvan menangkupkan tangannya. Lebih tepatnya seperti orang memohon. Tapi bagi Morgan itu tak lebih dari mengusir secara halus.


"Nay?" Morgan berharap Nayara memintanya untuk tetap tinggal.


"Morgan. Sekarang Belvan sudah datang, benar kata dia, kamu bisa kembali ke kantor. Terimakasih untuk semuanya," pinta Nayara.

__ADS_1


Terus terang Morgan kecewa dengan ucapan Nayara, apa yang dia lakukan seolah tak pernah berarti. Morgan mencoba untuk bersabar, dia yakin ini pasti karma dari kebodohannya.


__ADS_2