Sekretaris Nakal (Balas dendam)

Sekretaris Nakal (Balas dendam)
Dendam sudah berakhir


__ADS_3

"Nay, apa kamu masih ragu untuk memakannya?"


Briana dan Leon sangat berharap Nayara mau menerima kotak kue darinya. Wanita itu kembali mengulurkan pada Nayara, dimatanya terlihat sebuah ketulusan. Nayara menerima pemberian Briana meski dia tidak berniat memakannya.


"Jika urusan kalian sudah selesai, sebaiknya kalian pulang," pinta Nayara, kali ini ucapannya lebih pelan, tak ada amarah lagi


"Nona, terimakasih sudah memaafkan kami." Leon nampak terharu dan matanya berkaca kaca. Leon lalu menarik lengan Briana dan menggandeng wanita yang tengah hamil muda itu. Briana memang sedikit pucat dan sedikit kurus.


Sebelum masuk kembali, Nayara menatap punggung Leon dan Briana. Nayara masih terus bertanya-tanya. Benarkah Briana berubah? Apakah wanita sejahat Briana bisa berubah?


"Leon membalikkan tubuhnya saat Nayara masih berada di posisi yang sama, yaitu memandang punggungnya. "Nona, ada satu lagi yang ingin aku sampaikan, Briana sudah hamil sebelum kami menikah. Untuk menutupi rasa malu dari teman-temannya kami akan menggelar pesta pernikahan kecil, dan aku akan menikahinya secara resmi jika anak itu sudah lahir.


"Aku akan datang," kata Nayara.


Briana nampak tersenyum senang. "Aku mohon datanglah, meski pesta itu tidak mewah."


Nayara mengangguk. Briana mengakrabkan diri dengan memeluk Nayara.


***


Selang lima menit kepergian Leon dan Briana, Morgan datang. Melihat Nayara melamun Morgan segera menghampiri wanita yang sebentar lagi akan dihalalkan itu.


"Sayang ada kabar gembira untukmu." Morgan membungkuk di belakang Nayara sambil mengecup pipi kekasihnya.


"Apa itu?"

__ADS_1


"Aku sudah mendapatkan pesawat jet terbaru dan sebuah pulau yang indah untuk kita bulan madu, semua aku beli dan langsung atas namamu, dan aku juga bawa sertifikat perusahaan, kamu tinggal tanda tangani disini, kamu atau aku pemilik perusahaan itu tak pernah ada bedanya."


Nayara meraih jemari Morgan di pundaknya. mengelus jemari tangan lelaki yang dulu dicintai setengah mati itu, sekarangpun sama, setelah ingat semuanya Nayara tidak mau jauh dari Morgan.


"Nay, cepatlah menikah denganku, aku sudah tak sabar ingin memilikimu seutuhnya. supaya kamu tidak perlu tinggal di apartement lagi, aku nggak sabar tinggal serumah sama kamu."


Nayara mendongak. "Kenapa kamu mau memberi semuanya kemewahan untuk calon istrimu? padahal dia belum menjadi siapa-siapa kamu? bagaimana kalau aku menipu? setelah dapat semuanya aku kabur?"


"Aku tak masalah jika penipu itu kamu, wanita yang aku cintai." Morgan menahan kepala Nayara agar tetap mendongak. lalu mengecup bibir merahnya. Ucapan Nayara tidak di buat serius, dia menjawab dengan candaan.


Nayara kesal, calon suaminya orang yang terlalu loyal. Seharusnya Morgan tidak semudah itu menyerahkan hartanya.


"Kau dan aku sudah diciptakan untuk bersama, aku tak akan lengah dalam menjagamu untuk kedua kalinya. Aku tahu jika kamu ingat semuanya kamu pasti yang tidak bisa jauh dariku,' ledek Morgan.


"Sayang kau tidak menyuruhku masuk?" Morgan merasa sudah terlalu lama di luar.


"Oh, iya masuklah." Nayara menarik jemari Morgan dan menggandengnya ke dalam.


Tiba di depan pintu Morgan segera mengunci pintu kembali. Nayara nampak menunggu. Keduanya memiliki rasa rindu yang sama, membuncah dan sangat dalam.


Setelah melihat sekeliling tak nampak keberadaan Bibi. Morgan segera memeluk Nayara dan mengecup bibirnya. "Aku kangen, aku rindu."


"Sama, aku juga merindukanmu," balas Nayara sambil memeluk pinggang Morgan.


Menyadari nafas Morgan mulai tak beraturan dan dadanya berdegup kencang, Nayara segera melepas pelukannya dan menjauhkan tubuhnya dari Morgan. Nayara takut tidak bisa mengendalikan diri.

__ADS_1


"Morgan, kita jangan terlalu dekat seperti ini, tubuhmu sangat panas, aliran listriknya sangat kuat."


Morgan tersenyum. "Dulu aku tidak seperti ini, tapi entahlah sekarang aku jadi seperti ini."


"Dulu kita berdua masih kecil," jawab Nayara. "Sekarang berbeda, Jika kau lepas kendali aku bisa hamil."


"Menikahlah denganku Sayang. Aku tak sabar melihatmu hamil." Morgan menggigit telinga Nayara.


Menyebut kata hamil, Nayara jadi ingat Briana yang tengah hamil muda.


"Leon dan Briana juga akan menikah, aku diminta datang di pesta mereka, apakah kamu juga mau datang? Briana juga sudah hamil anak Leon," kata Nayara


"Wah, hebat sekali mereka. Sejak kapan mereka bekerja sama." Morgan tak percaya Briana benar-benar jatuh cinta dengan Leon. padahal baru satu bulan yang lalu masih mengemis cintanya.


"Entahlah." Nayara mengedikkan bahunya tidak tahu.


"Aku juga mau kamu cepat hamil. Malam pertama nanti aku ingin kita langsung melakukannya sepuluh kali," canda Morgan.


Nayara yang sedang menyodorkan buah jeruk, karena terkejut buah jeruk di tangannya menggelinding semuanya dari piring karena gemetar.


"Kamu sudah gila? apa ingin membuatku tak bisa berjalan selama satu minggu."


"Aku hanya bercanda, Sayang," kata Morgan. Jika tamunya sampe malam, mungkin lima kali saja.


Lima kali bagi Nayara masih sebuah cobaan berat, karena dia pernah baca sebuah artikel kalau malam pertama itu sangat menyakitkan bagi wanita.

__ADS_1


__ADS_2