Sekretaris Nakal (Balas dendam)

Sekretaris Nakal (Balas dendam)
Melarikan diri.


__ADS_3

Setelah Morgan mencium Nayara malam itu. Nayara terus saja memikirkannya dan melamun. Dia sungguh dalam dilema, kenapa dia tidak bisa menolak, dan bahkan kejadian itu terus saja membayanginya.


Jika Morgan ada di masalalunya yang terlupakan, Belvan lelaki yang selalu ada di masa sulitnya sekarang.


Keduanya sama-sama pernah berarti dalam hidup Nayara.


Morgan tiba-tiba kembali mengusik lamunan Nayara menutup mata wanita yang tengah duduk di tepi pantai menikmati indahnya sunshine.


"Morgan berhenti mengusikku, aku ingin sendiri."


"Aku sejak tadi mencarimu, aku khawatir kau pergi," jawab Morgan.


"Bisakah tinggalkan aku sendiri." Nayara mengurai pelukan Morgan dan berjalan menjauh.


"Tidak bisa Nay, aku harus membuatmu ingat semuanya."


"Aku tidak ingin ingat apapun, apakah anda mengerti!!" Nayara tiba-tiba marah. dia tidak bisa mengontrol emosinya.


Morgan tak percaya Nayara akan benar-benar menolak mengingat semuanya.


"Kamu yakin tidak ingin ingat semuanya Nay?" tanya Morgan dengan raut kecewa.


"Tidaaak!!"


"Ya, jika itu memang keputusanmu, aku bisa apa Nay." Morgan memperlihatkan wajah putus asa, dia nampak menyerah. Akan tetapi tidak dengan tekatnya. Morgan akan terus berjuang membuat Nayara ingat semuanya.


Rasanya sangat tidak adil jika dia harus ditinggalkan dalam kondisi Nayara amnesia.


Lelaki itu pergi, memilih untuk memperhatikan Nayara dari kejauhan. Memberi Nayara waktu untuk menenangkan diri.


Dan disaat Morgan sedang terpaku memikirkan Nayara. Tomi datang mendekati Morgan. " Tuan. Mertua anda ada di rumah, kelakuannya sangat meresahkan para asistent.


"Sejak kapan?" Tanya Morgan.


"Sejak anda datang ke Villa ini," kata Tomi. Apa kita suruh penjaga untuk mengusir dia."


"Biarkan dia disana dahulu. Biar aku sendiri yang akan bertindak."


"Baiklah Tuan." Tomi akhirnya menjauh dan menghubungi para penjaga untuk tetap bertahan dengan kelakuan Diana.


***


Diana memanggil Tuti selaku pimpinan asisten.


"Tuti, kenapa Nyonya Briana tidak pulang? dan tidak bisa dihubungi?"


Firasat Diana mulai tidak enak, tak seperti biasa Briana tak memberi kabar.


"Saya tidak tahu Nyonya, Biasanya juga dia akan pulang sendiri," ujar Tuti malas.


Diana makin panik, dia akhirnya mencoba mencari Briana ke teman-teman dan ke kantor. Akhirnya Diana menemukan sedikit informasi kalau Briana terakhir kali pergi bersama Nayara.


"Nayara pelakor itu! Jadi sekarang Morgan tidak bersama Briana melainkan bersama pelakor itu. Jadi yang dikatakan Briana benar kalau Nayara itu memang tidak bisa dianggap remeh.

__ADS_1


Diana meminta pada beberapa orang suruhan untuk mencari putrinya. Akhirnya keberadaan Briana terendus juga. Diana segera menyusul Briana ke sebuah tempat dimana putrinya disekap.


Sampai di bangunan tua itu, Diana dengan licik mengendap-endap mencari keberadaan Briana.


Diana menemukan putrinya yang tengah di borgol dan berbaring lemah di brankar kumuh.


"Briana!"


"Mama!"


"Stttt." Diana memberi kode supaya jangan berisik.


"Briana, siapa yang melakukan semua ini Nak?"


"Siapa lagi kalau bukan Naya, Sialan itu Ma."


Diana pura-pura menjadi pegawai catering yang di utus oleh Nayara.


Setelah memastikan semua tidak curiga dengan penyamarannya, Diana segera masuk. Kini Diana berhasil membawa Briana lari ketika para penjaga telah memakan makanan yang dia bawa.


Tiba di mobil Diana segera memacu mobilnya kencang meninggalkan bangunan tua yang tak seberapa jauh dari kota itu.


"Naya ternyata memang masih hidup, dia tidak lagi polos dan bodoh seperti dulu lagi, Ma," kata Briana.


"Maksud kamu?"


"Naya sekarang sangat cerdik, dia menggoda Morgan dengan tubuhnya hingga suamiku tak lagi peduli, bahkan dia sama sekali tidak ingin mencariku, saat Naya ingin membunuhku."


"Kurang ajar, kamu tidak boleh pisah dengan Morgan Briana, kamu harus bersama dia, bagaimana keuangan kita kalau kamu berpisah sama Morgan."


"Tapi Morgan mencintai Naya Ma, jika dia cerita semuanya, tentu Morgan akan percaya dan kita terbukti selama ini berbohong.


Kamu belum tahu yang telah terjadi, jadi jangan menyerah, temui Morgan dan bicara kalau semua sandiwara ini Nayara yang meminta.


"Bagaimana kalau Morgan tidak percaya."


"Masih ada cara kedua sayang." Diana membisikkan cara kedua yang harus dia lakukan jika Morgan menolak percaya cara pertama.


Briana tersenyum. Dia memeluk ibu kandung yang sangat menyukai uang itu, Bahkan Briana sendiri tidak sadar kalau ibunya juga memanfaatkan dirinya untuk mendapatkan banyak uang.


Briana dan Diana pulang ke Mansion, dia menunggu Morgan untuk pulang dari liburan bersama Naya di Villa.


***


Dert! Dert!


"Hello Honey."


"Hallo Belvan."


"Honey kapan kamu pulang?"


"Dua hari lagi."

__ADS_1


"Kabari aku segera kalau kamu sudah pulang, aku sangat merindukanmu."


"Iya."


"Honey kau ada kejutan untukmu."


"Apa?"


"Pokoknya ada, cepat pulang."


"Kenapa harus pake rahasia."


"Biar surprize."


"Hahaha, Kamu bisa saja." Nayara tertawa. Morgan tahu kalau Belvan yang meneleponnya.


Morgan yang melihat semuanya tanpa sadar merasakan panas di dadanya. Morgan berusaha untuk sendiri di balik pohon kelapa dan memukulkan tangannya hingga berdarah.


"Nay, Mungkin ini salahku yang tidak mencarimu selama ini. Hingga kau menghukum ku dengan membuatku cemburu dan merasakan sakit seperti ini."


Morgan duduk di kursi dan membiarkan dadak menetes dari sela sela tangannya.


Nayara yang bosan di tepi pantai, dia kembali ke Villa. Tidak melihat Morgan ada di dalam Villa Nayara mencarinya.


Nayara akhirnya menemukan Morgan yang tengah merenung seorang diri.b


"Morgan!"


"Nay, tolong pergilah, aku sedang ingin sendiri."


"Hm baiklah." Akan tetapi Nayara tidak langsung pergi, dia memilih berdiri mematung karena merasakan Morgan sangat aneh. Nayara melihat darah di punggung tangan Morgan dan gadis itu mendadak panik.


Nayara segera berlari masuk ke dalam Villa dan mengambil kotak P3K. Setelah dibantu Tomi Nayara akhirnya menikam kotak yang dicarinya.


Nayara jongkok di depan Morgan dengan ekspresi panik. "Apa yang telah terjadi, bukankah menyakiti diri sendiri seperti ini sangat bodoh," omel Nayara.


Morgan terkekeh. "Sekarang tidak sakit lagi karena kamu ada disini untuk mengobati," kata Morgan.


"Hm, Jangan lakukan ini lagi. Aku tidak mau anda ataupun orang terdekatku terluka.


"Aku tidak janji," jawab Morgan.


"Kenapa? Anda harus berjanji. Kalau ini yang terakhir."


"Tidak bisa, aku tidak bisa berjanji selama kami masih berhubungan dengan Belvan."


"Morgan, jangan seperti anak kecil, mana Morgan yang dingin dan cuek."


"Morgan tidak bisa dingin dan cuek kepada Naya. Karena jiwa mereka sesungguhnya sudah dijodohkan sejak kecil," jawab Morgan.


Nayara diam tak menanggapi ocehan Morgan yang terlalu kekanakan, dia memperhatikan tangan Morgan yang sudah selesai dibalut dengan kain kasa. Tak lupa Nayara juga memberi obat anti infeksi.


"Sudah selesai." Nayara fokus melihat hasil kerja kerasnya.

__ADS_1


__ADS_2