
"Tomi, sini bantu aku!" Nayara sengaja memanggil Tomi karena sejak pagi laki laki itu tak ada kerjaan. Nayara juga berharap Morgan berhenti menjahilinya jika Tomi ada didekatnya.
"Emang aku nggak ganggu Nona."
"Tentu tidak, Tomi. Justru aku senang." Nayara tersenyum manis ke arah Tomi yang melangkah mendekat, ikut bergabung.
Nayara memberikan semangkuk sup daging dan perkedel kentang, meminta Tomi untuk membawanya ke meja makan.
Sedangkan Nayara merapikan dapur bekas memasak dan Morgan mencuci bekas wadah yang dipakai.
"Kenapa aku yang mencuci piring harusnya ini bagian Tomi," protes Morgan.
Tomi dan Nayara saling pandang dan tersenyum.
"Itu Karma karena sudah pura-pura tergores pisau."
"Sudah Tuan tinggalkan saja, biar saya yang bersih-bersih." Tomi tidak tega membiarkan majikannya mencuci piring kotor.
"Jangan Tomi! ini hukuman untuk lelaki tidak setia seperti dia, sudah beristri tapi masih saja mau menggoda pacar orang."
"Aku tahu kamu belum
"Tomi, kamu bereskan meja saja, Urusan dapur biar aku dan Nayara." Morgan menerima konsekuensinya sudah memeluk Nayara tanpa izin.
__ADS_1
"Baiklah Tuan, paling tidak aku sudah menawarkan bantuan."
Tomi kembali untuk mengambil sambal dan daging empal. Daging empal buatan Nayara dijamin empuk dan bumbunya juga meresap.
Setelah semua beres, mereka bertiga makan bersama, Morgan fan Tomi nampak makan dengan lahap.
"Rasanya tidak kalah dengan di restaurant."
"Iya, Tuan. Nona Nayara emang calon istri the best. Beruntung laki-laki yang jadi suaminya nanti.
"Uhuk." Morgan tersedak mendengar kalimat Tomi baru saja. Tomi memang benar, Mendapatkan cinta Nayara adalah keberuntungan terbesar, Morgan akan berusaha dan terus berjuang mengalahkan siapapun yang jadi pesaingnya.
Morgan merasa makhluk paling bodoh, dulu saat Nayara menggodanya dengan selalu tampil seksi dan menantang, dia abaikan begitu saja. Andaikan dia dulu tidak berpegang teguh pada janji yang ternyata palsu, pasti Nayara sekarang sudah menjadi milik seutuhnya.
***
Nayara sedang tiduran diatas ayunan, Morgan keluar sambil membawa secangkir kopi dan segelas teh.
"Nay, belum ngantuk," tanya Morgan.
"Belum, aku masih ingin lihat bintang."
"Nay, aku senang kamu sedikit demi sedikit sudah mulai bisa mengingat masalalu kita," kata Morgan sambil menatap bintang, wajahnya menggambarkan kebahagiaan yang sangat besar.
__ADS_1
Nayara bisa melihat ketulusan di mata Morgan, dia juga tidak bisa berbohong kalau diam-diam nyaman ada di dekat lelaki pemilik wajah tampan nan berotot itu. wajah oriental yang sangat disukai kaum hawa.
"Nay, aku bawakan teh hangat." Morgan memberikan teh yang sejak tadi di tangannya.
"Terimakasih, Nayara tersenyum lalu duduk, memberi sedikit tempat untuk Morgan di dekatnya. Ayunan yang ada memang di modifikasi bisa digunakan untuk duduk berdua.
"Nay, ternyata kita terhubung di masalalu," kata Morgan, kita dulu saling mencintai, kamu juga tidak ingin aku dekat dengan siapapun," kata Morgan lalu meletakkan kopi di meja, lelaki itu duduk kembali, hanya ingin melihat wajah Nayara yang selalu bersinar bagai purnama.
Nayara tidak bisa berkata-kata, dia hanya diam. Akankah dia mencintai lelaki yang sudah pernah menjadi suami saudara tirinya.
Morgan menarik dagu Nayara. Wajahnya mendongak menatap manik hitam milik lelaki.
Dalam sepi, Morgan dan Nayara tersihir oleh suasana romantis. Nayara memejamkan mata saat Morgan menyentuhkan bibirnya ke bibir Nayara. Ciuman mereka semakin lama semakin dalam dan menuntut.
Morgan melepas tautan bibirnya ketika Nayara mendorong tubuhnya. "Kita tidak boleh seperti ini."
"Kenapa Nay?"
"Aku tidak bisa mempermainkan perasaan Belvan."
"Tapi aku melihat kamu juga mulai nyaman dengan kebersamaan kita." Morgan sedih Nayara selalu membentengi dirinya.
"Aku tidak bisa menyakiti Belvan, dia terlalu baik." Nayara mulai menggeser duduknya sedikit menjauh.
__ADS_1
"Nay, bisakah kita kembali seperti dulu? Kau mencintaiku, dan aku mencintaimu? Memaafkan kesalahanku, yang telah menikahi Briana, Dan lupakan Belvan."
"Lalu bagaimana dengan Belvan? Dia juga memiliki hati yang bisa sakit, perasaan yang bisa terluka."