
Nay!" Morgan terkejut melihat penampilan Nayara malam ini.
"Maaf, aku tidak bawa baju ganti."
"Jika aku tidak boleh memakainya biar aku ganti lagi dengan bajuku yang tadi saja." Nayara kembali masuk.
Morgan menahan lengan Nayara."Tidak, bukan itu maksudku, pakai saja baju yang kau mau, tapi baju itu tampak sedikit kebesaran."
Morgan dengan susah payah meneguk salivanya. Menetralkan nafas dan jantungnya.
"Baiklah, aku pinjam baju ini untuk malam ini." Nayara keluar kamar melewati Morgan, laki-laki itu lagi-lagi hanya bisa menahan nafas sambil mengekor Nayara.
Nayara dan Morgan duduk di ruang santai disana dia bisa sambil melihat pemandangan kota, duduk manis sambil menikmati secangkir kopi hangat.
"Pemandangan sangat indah." komentar Nayara.
"Iya, ini tempat favorit aku saat dirumah ini," jawab Morgan.
"Aku suka tempatnya, anginnya sejuk." kata Nayara yang bosan duduk. Dia berdiri di pagar sambil berpegangan dengan besi teralis.
Angin berhembus kencang, Nayara takut masuk angin, dia memeluk tubuhnya yang hanya dibungkus dengan kemeja tipis.
Nayara memejamkan mata, sepertinya dia pernah berada di posisi yang sama, melihat pemandangan yang sama, tapi ini pertama kalinya dia menginjakkan rumah ini, tidak mungkin dia pernah kesini.
Nayara mencoba mengingat kapan dan dimana dia melihat pemandangan dan tempat yang begitu mirip dengan mansion Morgan.
Terus mencoba mengingat, tapi yang terlintas di ingatannya lagi lagi hanya bayangan Briana yang mendorongnya ke kolam dan menenggelamkan tubuhnya.
"Kenapa Nay?"
"Tidak, udaranya dingin, anginnya kencang." jawab Nayara gugup, wajahnya mendadak menjadi pucat.
"Baiklah kita masuk saja," tanpa memberi komando Korgan segera membopong tubuh nayara, membawanya masuk dan merebahkan di atas sofa.
"Nay apakah penyakitmu kambuh? Apa kau bawa obatnya, Tanya Morgan panik.
"Aku sudah membawanya, tapi aku harus mengurangi konsumsi obat itu, karena aku bisa ketergantungan."
"Terus apa yang bisa aku lakukan?" kata Morgan sambil menatap wajah Nayara, panik membuatnya terlihat gugup.
"Nayara diam, dia sebenarnya butuh sesuatu yang bisa menghangatkan tubuhnya."
Nayara makin mengigil. Morgan yang tak mendapat jawaban dari Nayara dia berinisiatif untuk melakukan sesuatu. Morgan menyelimuti tubuh Nayara dan mendekapnya sangat lama. Hingga akhirnya Nayara tertidur.
Morgan tersenyum melihat wajah Nayara yang tertidur pulas, lalu dia membaringkan tubuh Nayara di sofa.
Tak lama laki-laki itu juga ikut tertidur. Mereka tidur di sofa lebar yang muat untuk dua orang hingga pagi hari.
__ADS_1
Nayara yang terbiasa tidur sambil memeluk guling, malam ini dia merasa gulingnya lebih hangat dan lebih besar.
Jam empat pagi para Asisten sudah bangun untuk membersihkan rumah.
Tuti terkejut melihat tuannya tidur dengan seorang wanita dalam satu sofa hingga semalaman.
Para asisten akhirnya memilih pergi lagi dan menyapu lantai yang lainnya.
Nayara terkejut setelah setengah sadar dia merasakan guling yang dipeluknya memiliki tangan dan kaki, dan Nayara juga tak sengaja menyentuh ekor Morgan yang ada di depan.
"Nayara segera membuka matanya dan berteriak, karena ekor Morgan begitu besar meski sedang tidur.
"Pergi lelaki mesum, jadi semalaman kau telah memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan.
"Tentu, salah siapa tidak memakai pelindung." Bisik Morgan genit.
"Apakah sungguh terlihat jelas." Nayara mendadak gusar diperhatikan dadanya yang memang terlihat lebih menonjol.
"Tentu, kemeja itu sangat tipis."
"Karena otak anda mesum, jadi fikiran anda juga kotor." Nayara menutup kedua dadanya.
"Kau mengatakan aku mesum?"
"Lalu apa sebutan untuk laki-laki yang suka melihat dada perempuan kalau bukan mesum?"
Morgan tidak suka Nayara mengingatkan dirinya tentang Briana.
Morgan tidak ingin perdebatan ini di dengarkan oleh asistennya, dia segera membawa Nayara ke kamar dan menguncinya.
"Pak Morgan apa yang anda inginkan?"
"Aku ingin kamu di kamar saja, aku tidak mau mereka berfikir aku telah menodaimu," jawan Morgan.
Mereka berdua ada di kamar, dan Nayara makin senang karena dia bisa bermain di kamar yang luas itu dengan sesukanya.
"Jika anda mengurungku di kamar, apa yang akan mereka fikir nanti?"
"Lebih baik disini, jika kau ada di kamarku, sekuat apapun kau berteriak tak akan ada yang mendengarnya.
Nayara tertawa melihat tingkah lucu Morgan. Lelaki itu ikut tertawa, tak percaya dia akan sedekat ini dengan sekretarisnya.
Nayara memilih duduk di sofa sambil membaca buku milik Morgan.
Sedangkan lelaki itu memilih untuk tiduran. Morgan menyandarkan kepalanya di bahu Nayara. Didekat Nayara morgan menemukan ketenangan yang selama ini tidak pernah ditemukan pada wanita lain.
"Nay, bolehkah aku aku tahu apa yang membuat kamu memiliki trauma?"
__ADS_1
"Itu tidak penting." jawab Nayara asal.
"Tapi penting bagiku." Morgan masih berharap Nayara, adalah kekasih masa kecilnya.
"Aku tidak ingin cerita, semakin aku mengingatnya, aku merasakan sakit yang luar biasa, dan aku takut justru aku tidak bisa mengingat masalaluku intu selamanya."
"Apakah kamu pernah mengalami kecelakaan sewaktu kecil?" tanya Morgan.
"Tidak," jawab Nayara.
"Jawab yang jujur Nay, apakah kamu pernah mengalami kecelakaan?
Nayara bingung harus menjawab apa, sebenarnya dia takut identitasnya terbongkar meski Morgan saat ini ada di pihaknya sekalipun.
"Tidak, aku hanya punya trauma masa kecil saja, tidak pernah ada kecelakaan," jawab Nayara. Namun wajah Nayara yang pucat membuat Morgan semakin penasaran dengan rahasia Nayara di masalalu.
"Baiklah, jika kamu tidak ingin cerita, aku tidak akan memaksa." ujar Morgan.
Tapi dalam hati kecilnya, Morgan akan mencari tahu sendiri lewat orang kepercayaannya. Morgan memutuskan untuk tidak mendesak Nayara lagi.
Morgan hanya ingin Nayara merasakan kenyamanan ketika berada di dekatnya.
Morgan memilih mencium pipi Nayara yang terlihat menegang beberapa saat tadi.
Nayara tak kuasa menolak sentuhan bibir Morgan di pipinya. Nayara benar-benar berhasil dengan rencananya. Kini Morgan telah jatuh dalam pelukannya.
Semakin hari Morgan merasa kalau Nayara di dekatnya adalah Naya gadis kecilnya yang sangat dia cintai.
***
Di negara asing, Briana dan Leon layaknya pengantin baru yang sedang berbulan madu. Melarikan diri dari musuh, justru mendapat sejuta kenikmatan.
Kebetulan apartement Leon dilengkapi dengan kolam renang pribadi. Leon dan Briana baru bangun tidur karena kelelahan.
Terpikat dengan pesona Leon, Briana lupa akan jati dirinya yang sudah bersuami. Setiap saat dia bercumbu mesra dengan Leon tanpa rasa bersalah.
Mereka bercumbu dimanapun yang dia mau, di kamar mandi, di ruang makan bahkan di gazebo.
Setelah lelah, Briana ingin meregangkan ototnya dengan berenang di kolam, Briana berenang memutari kolam dengan baju seksi membuat Leon kembali tergoda, Leon yang sejak tadi memilih berjemur di bawah sinar matahari pagi sambil menatap Briana. Lelaki itu sekarang terjun kembali ke kolam dan mengejar Briana.
Briana menggoda Leon dengan meneggelamkan diri.
Dengan mudah Leon mendapatkan tubuh Briana di dasar kolam dan mengangkat tubuh mungilnya. Leon menggendong Briana dan menempelkan di dinding kolam. Kaki Briana menggamit pinggang Leon seperti anak koala.
"Apa kau menginginkan lagi?" tanya Leon yang melihat Briana masih terus menggoda dengan memeluk tengkuknya erat. Membiarkan Leon leluasa mengecup dadanya.
***
__ADS_1
.