Sekretaris Nakal (Balas dendam)

Sekretaris Nakal (Balas dendam)
Kita bersaing


__ADS_3

"Aku mau pulang, Van."


Nayara menatap ke arah jendela, mulai bosan terus berada di dalam ruangan, walau mewah tapi tetap saja ada aroma obat yang menyengat dan membuat perut mual.


"Nggak bisa dong Nay, kamu harus sembuh dulu." Belvan tiba-tiba sudah berdiri di belakang Nayara dengan jarak tinggal beberapa senti.


"Belvan, aku bosan disini." eluh Nayara dengan wajah jutek


"Bosan, atau karena Morgan sudah tidak ada disini lagi, apalagi dia tadi pulang tanpa pamit sama kamu." sindir Belvan.


"Belvan, bukan itu alasannya," ucapan Nayara melunak, dia tahu saat ini harus menjaga hati dan perasaan Belvan, bagaimanapun lelaki itu sudah menyelamatkan hidupnya.


"Lalu apa alasannya, Nay?"


"Alasannya kamu sudah tahu Belvan, Aku pobya dengan semua yang berhubungan dengan rumah sakit."


"Oke, kita akan atur kepulangan mu,"


Nayara tersenyum senang keinginannya selalu dikabulkan oleh Belvan.


Belvan menarik tubuh Nayara ke dalam dekapan, ini pertama kali Nayara tidak menolak saat Belvan memeluknya.


"Nayara, setelah sembuh, aku akan kenalkan kamu pada mama dan papa. Mereka tak sabar untuk ketemu kamu, sudah lama selalu suruh aku bawa kamu ke rumah."


Nayara melonggarkan pelukan Belvan. "Belvan apa yang saja kamu ceritakan pada om dan Tante? pasti kamu sudah cerita aneh-aneh ke mereka."


"Aku cerita ke mereka, kalau aku punya Seorang teman ngeselin, jelek, keras kepala dan super bandel."


"Kamu cerita begitu ke mereka?"


"Bukan itu aja, aku cerita semua tentang kamu, yang cengeng, takut petir, takut gelap, dan ...."


"Kejelekan apa lagi yang kamu ceritakan pada om dan Tante? Dasar nyebelin." Nayara mengerucutkan bibirnya.


"Aku ceritakan kalau kamu sangat pintar bahasa asing dan cantik."


"Gombal banget sih kamu Belvan. Buat aku makin malu ketemu Tante dan Om."


" Aku ceritakan pada Mama semua apa adanya, Nayara. Tidak ada yang aku tambahin atau aku kurangin. Aku berharap kamu dan mama bisa saling kenal dan akrab."


Belvan tak sabar ingin membawa Nayara pada orang tuanya. Nayara juga tak pernah menolak, dia yakin keluarga Belvan orang yang welcome.


-


-


Nayara berkemas untuk pulang, Arion berjanji akan sering mengunjunginya ke apartement dan memeriksa, untuk sementara luka-luka ditubuh Nayara sudah mulai mengering, sekarang yang perlu Nayara lakukan hanya rajin mengoleskan salep anti bekas luka.


Hampir satu jam, Nayara berada satu mobil dengan Belvan. Lelaki itu sangat posesif, ada aja yang dilakukan, Belvan membantu Nayara untuk memakai sabuk pengaman dan terus menerus memberi perhatian yang membuat hati Nayara tersentuh.


Tiba di apartement, bibi segera menyambut kedatangan Nayara dengan pelukan, bibi menangis karena tak dapat informasi tentang majikan mudanya, hingga beberapa hari. Kini dipertemukan lagi dalam kondisi Nayara terluka.

__ADS_1


"Nona, banyak sekali luka penyiksaan yang anda alami."


"Tenang saja Bi, luka ini akan sembuh, karena yang merawat aku adalah dokter Arion Dan tuan Belvan. Kedua adik kakak itu sudah baik sekali padaku." kata Nayara sambil melirik pada Belvan.


"Em, kalian berdua suka sekali membicarakan aku, Bi lekas bikinkan aku kopi aku juga tamu disini." kata Belvan sambil mengerlingkan mata pada bibi.


Bibi, wanita dewasa pengagum cowok tampan itu tersipu. " Den Belvan ih, paling pinter bikin jantung bibi kleser-kleser."


'"Bi, bikin kopinya yang enak, buruan!" pinta Belvan.


"Siap Tuan,"


Bibi dengan langkah gegas ke dapur membuatkan Belvan kopi.


Nayara dan Belvan hanya bisa senyum melihat tingkah lucu Bi Nunik.


Saat ada kesempatan, Bi Nunik juga sudah ke dapur, Belvan segera menggendong tubuh Nayara ke kamar utama, Belvan ingin Nayara cepat istirahat.


Nayara tentu memekik terkejut oleh aksi dadakan yang dilakukan Belvan.


Nayara memukul dada bidang Belvan sebagai hukuman karena membuatnya terkejut.


"Belvan, apa yang kamu lakukan."


" Aku ingin kamu istirahat, kamu harus cepat sembuh Honey."


"Tentu Belvan, aku tidak mau sakit seperti ini terus-menerus." kata Nayara yang tubuhnya siap mendarat di kasur empuknya.


Setelah minum obat Nayara mengantuk, tinggal Bibi, teman satu-satunya untuk diajak bicara oleh Belvan.


"Bi, apakah kita bisa bicara sebentar?"


"Tentu Tuan, bibi akan siap mendengarnya."


Belvan dan bibi keluar kamar Nayara, menutup pintu tanpa menguncinya.


"Tuan, ada apa?" tanya Bibi saat mereka sampai di balkon.


"Bi, apakah Direktur Morgan sering kesini?"


"Hanya beberapa kali saja, emangnya kenapa, Tuan."


"Tidak, aku hanya ingin tanya apakah bibi pernah memergoki mereka ...."


"Memergoki apa tuan?" Bibi tidak mengerti.


"Mereka berciuman?"


"Em, bibi tidak pernah melihatnya." dusta Bibi. Belvan menarik nafas lega. Belvan bisa menarik kesimpulan kalau hubungan Nayara dan Morgan belum terlalu jauh. Belvan seperti punya kesempatan untuk memperjuangkan cintanya pada Nayara.


Padahal bibi pernah sekali memergoki Nayara mencium Morgan lebih dulu, dan mengatakan itu ciuman pertamanya, Bibi juga tidak tahu apa yang sudah dilakukan saat mereka melewati tidur bersama waktu itu.

__ADS_1


"Bi, aku sangat mencintai Nayara, tolong jangan izinkan mereka terlalu dekat. Maksudku anda bisa mengawasi saat Morgan disini."


"Maksud tuan bibi teh disuruh jadi pengganggu?"


"Hehehe, entahlah bibi bilangnya apa, setidaknya jaga Nayara untukku, aku sangat mencintai dia."


"Siap Den," kata bibi. Meski dalam benak bibi tidak yakin kalau bisa. Dia tahu posisi jika dirinya hanyalah seorang Asistent, yang tak mungkin bisa mengabulkan keinginan Belvan.


Setelah selesai berbicara empat mata dengan Bibi, Belvan kembali melihat Nayara dikamarnya.


Belvan melihat tubuh wanita yang sangat dia cintai itu tenggelam dalam kasur empuk dengan selimut dan seprei buku warna putih sambil memeluk boneka beruang.


Belvan mendekati Nayara dan duduk di samping tubuh mungil itu sebentar. Belvan tak bisa mengendalikan diri untuk tidak mengelus wajah baby face yang dimiliki Nayara. CEO yang usianya lebih muda dua tahun dari Morgan itu mendaratkan kecupan singkat di ke keningnya.


"Selamat tidur Nay," Belvan merapikan selimut Nayara.


Belvan ingin sekali bisa menemani Nayara, tapi lelaki itu besok akan terbang ke luar negeri dalam urusan Bisnis, meninggalkan, wanita itu sekarang menjadi hal terberat bagi Belvan.


"Belvan lupa belum pamit pada Nayara kalau ingin terbang keluar negeri, lelaki itu akhirnya menuliskan sepucuk surat.


Belvan juga menemui Morgan terlebih dulu sebelum tiba di rumah.


Morgan datang disebuah cafe yang diminta Belvan, dua singa tak bertaring itu mengadakan pertemuan kecil demi membicarakan Nayara.


Belvan mengatakan kalau dia akan pergi dalam beberapa hari, dia ingin supaya Morgan tak melepas ular buas di rumahnya agar tak melukai Nayara. Belvan juga mengancam, andaikan sampai itu terjadi, bukan hanya Briana, tapi lelaki itu akan pastikan kalau dirinya akan menjadi lawan Morgan paling tangguh dalam dunia bisnis.


"Tanpa kau minta aku pasti akan melakukannya." jawab Morgan sambil menyeruput kopi hangat yang baru saja dia pesan.


"Aku tidak percaya kau bisa melindungi Nayara, menjaga istrimu saja kau tak mampu," jawab Belvan.


"Mungkin kemaren aku sedikit lengah, tapi untuk hari ini dan seterusnya tak akan aku biarkan Nayara dekat dengan orang yang bisa melukainya."


"Kalau bukan karena permintaan Nayara, mungkin aku sudah mencari dan meremukkan tulang wanitamu itu," geram Belvan.


"Lakukan saja yang kau suka, aku tak perduli, jika kau ingin tahu, sekarang dia ada di Singapura. Aku tidak lagi pedulikan dia. Sebentar lagi aku akan menceraikannya"


Mendengar kata 'cerai' dari mulut Morgan membuat Belvan menarik sebuah kesimpulan, kalau dia akan menceraikan Briana demi untuk mengejar Nayara.


"Aku tidak menyangka, kamu tidak lebih baik dari seorang buaya." ledek Morgan.


"Apa yang kamu katakan?" aMorgan zak


"Jangan menganggap aku tidak bisa menebak akal licik laki-laki serakah sepertimu, Kamu melepas Briana untuk mendapatkan Nayara."


"Kenapa? apa kamu takut kalah bersaing denganku?" Morgan semakin membuat Belvan kepanasan.


Belvan hanya tersenyum. "Pejuang sejati tidak akan pernah takut pada siapapun."


"Baiklah, kita akan bersaing secara sehat, siapa yang paling berhak dan pantas memiliki Nayara," kata Morgan sambil tersenyum penuh misteri.


*Hello, Sayang. Siapakah kira kira yang paling pantas untuk Nayara?

__ADS_1


*Jangan lupa ritualnya Like, Komen dan Votenya ditekan ya daripada hangus.


__ADS_2