
"Maaf Leon, aku mungkin tadi salah melihat." Nayara kembali masuk ke mobil dan Morgan menyusulnya.
Leon mengangguk, tapi wajahnya sangat tegang.
"Leon ingin bermain-main denganku," geram Nayara bercampur kecewa.
"Nay, kenapa kamu tidak langsung menangkap wanita itu?" Tanya Morgan.
"Aku ingin lelaki itu jujur padaku dengan sendirinya, siapa wanita yang menemani harinya. Jika dia terus berbohong jangan salahkan aku kalau aku harus mengakhiri hubungan ini, dan aku tidak pernah maafkan pengkhianat."
Nayara dan Leon memang memiliki hubungan baik seperti saudara karena kebaikan Nayara selama ini pada keluarga Leon. Nayara berharap hubungan ini tidak akan pernah putus. Begitu juga hubungannya dengan Belvan.
"Lalu kapan kita menikah, Sayang?" Morgan kembali menyinggung soal pernikahan. Dia sudah tidak sabar ingin memiliki Nayara seutuhnya. Morgan menatap Nayara dengan ekspresi serius.
"Entahlah." Nayara menjawab acuh dan justru menatap ke depan dengan tatapan kosong.
"Nay, kamu sengaja buat aku nunggu lama, kamu tahu Nay, aku takut banget kehilangan kamu lagi."
"Morgan, Briana masih hidup, bagaimana jika dia menggodamu lagi, bukanlah kamu dulu sangat mencintainya." Nayara kesal ingat Morgan pernah berbagi peluh bersama Briana, dan sekarang wanita itu masih hidup, Nayara mulai cemburu.
Nayara juga bingung dengan perasaannya, padahal dia berencana akan menghancurkan mereka dan pergi setelah semua beres, tapi dia kini malah terjebak dengan cinta sang direktur.
"Nay, cepatlah ingat semuanya, biar kamu tidak lagi terus mencurigai ku mencintai Briana. Kamu satu-satunya yang aku cintai." Morgan menggunakan jurus maut untuk merayu, dia mengedipkan satu matanya membuat Nayara ingin menusuk dengan dua jarinya.
Morgan gemas melihat Nayara yang belakangan ini selalu ketus. Morgan makin suka dan terus menggodanya.
"Ikuti Leon, aku ingin memastikan kalau aku tidak salah."
"Nay buat apa?"
"Buat memastikan kalau wanita itu Briana."
"Kenapa kamu tidak mau ketemu mantan istri?" Ledek Naya.
Morgan hanya bisa sabar jika setiap saat Nayara menyindirnya. Menikahi Briana memang kesalahan terbesarnya. Morgan tahu Naya akan sulit melupakan semua itu.
***
Leon nampak celingukan sebelum membuka pintu penumpang untuk Briana.
Leon dengan buru-buru membawa Briana masuk ke apartment barunya, rupanya Leon sudah pindah ke apartement yang baru yang sama sekali Naya tifak tahu.
"Apakah semua aman?" tanya wanita yang baru saja turun dari mobil.
"Aman, ayo kita masuk. Cepat dikit."
__ADS_1
"Tunggu Leon ponsel dan tas aku ketinggalan." Wanita itu turun memakai penutup wajah dan topi yang sengaja di tenggelamkan di kepala lebih dalam.
"Morgan, apakah seluet yang dimiliki wanita itu sama dengan bentuk tubuh milik istrimu?"
"Biar aku melihatnya?" Morgan ikut menatap ke arah yang sama dengan Nayara.
"Aku sudah lupa, sepertinya bukan. Nay kamu terlalu berhalusinasi bisa saja dia kekasih Leon." Morgan tidak bisa mengenali wanita itu dengan baik.
"Keterlaluan, Suami macam apa kamu, sudah menikmati tubuhnya berkali kali tapi bilang lupa."
"Ya, setiap kali bercinta dengannya, aku selalu mengingatmu," kata Morgan.
"Laki-laki emang paling jago betbohong," sungut Nayara.
"Benar, aku memang tidak pernah mengatakan pada siapapun." Morgan terus membela diri.
Leon nampak masuk di apartement, Nayara mudah sekali mengikuti karena lelaki itu tidak naik lift, rupanya kamarnya ada di lantai bawah yaitu lantai dua.
Morgan masih ada di mobil, dia akan menyusul setelah dia menerima telepon dari asistennya.
Nayara memasang penutup wajah dan terus mengekori Leon. Nayara terpaksa hanya bisa menemukan kamar baru Leon tanpa tahu apa yang dilakukan selanjutnya. Karena Leon dan Briana segera masuk dan menguncinya.
Tidak salah lagi wanita itu pasti Briana, tapi setidaknya hari ini aku sudah menemukan tempat tinggal mereka yang baru.
Di luar kamar Nayara menghubungi Leon, dan untung nomor laki-laki itu tidak berubah.
" Iya Nona. Maaf Nona apakah ada tugas yang sangat penting yang harus aku kerjakan?"
"Tidak Leon, aku senang kamu sudah keluar dari tahanan. Maaf aku sudah lama tidak menjenguk mu karena saat itu aku sedang dalam masalah berat."
"Nona jangan merasa bersalah, aku baik-baik saja."
"Baiklah Leon, sekarang beristirahatlah, maaf jika aku mengganggu."
"Tidak Nona, katakan saja jika ada yang ingin anda katakan."
"Oh iya, aku hanya ingin tahu apakah kamu akan kembali ke apartement lama?"
"Tentu Nona, aku akan ke apartement lama."
"Apa kamu tidak takut? Apartement itu tempat Briana menghembuskan nyawa terakhirnya."
"Tidak Nona, yang membuat Leon takut hanyalah kemarahan anda," kata Leon.
Nayara tersenyum miring, tak percaya kalau Leon akan membohonginya juga.
__ADS_1
"Baiklah, sampai jumpa Leon. Aku sedang sibuk sekarang."
Nayara menutup panggilan teleponnya dan kembali ke mobil. Morgan yang menyusulnya ikut kembali lagi setelah sampai tengah jalan.
"Sayang kamu sangat kesal."
"Bagaimana tidak, ternyata di dunia ini tidak ada yang benar-benar bisa berkata jujur apalagi setia."
"Sayang, aku sudah jujur padamu." Morgan mengecup kening Nayara yang bersandar di samping mobil.
***
Di dalam kamar hotel lantai dua tempat Leon dan Briana tinggal.
Briana mendekati Leon dengan memakai baju tipis berbahan satin warna merah muda.
Briana duduk dipangkuan Leon dengan manja. Leon merengkuh tubuh kekasihnya dan mencium bibirnya gemas. Leon lalu membaringkan tubuh Briana di sofa dan mulai membungkukkan tubuhnya. Mereka berdua saling menatap hingga iris hitam itu saling beradu. "Leon, lambat laun Nayara akan tahu kalau aku masih hidup."
.
"Kamu takut?" Tanya Leon.
Briana mengangguk. "Aku takut Nayara akan kembali membunuhku."
"Tenang, aku akan melindungi mu dan bayi kita. Asalkan kamu berjanji akan berubah dan tidak mengulangi kesalahan yang sama."
"Leon, terima kasih sudah menolongku." kata Briana tersenyum. Leon telah terperangkap oleh pesona Briana, apalagi wanita itu selalu memberinya kepuasan disaat tubuhnya membutuhkan. Lambat laun Leon tak bisa jauh dari Briana.
Leon kembali melucuti tubuh Briana, menindih tubuh yang akhir-akhir ini sudah menjadi candunya. Sehari saja tidak ada penyatuan keduanya akan merasa hampa dan kesepian.
"Ahhhh." Suara Briana memenuhi ruang tamu apartement kala Leon menghujamkan miliknya.
"Kamu benar sedang hamil sayang? kalau boleh tahu berapa minggu usia anak kita?" Tanya Leon tak berhenti memaju mundurkan miliknya.
"Sekitar dua minggu." jawab briana dengan suara terengah, mata Briana merem melek menikmati rasa nikmat yang kini menjalar ke seluruh tubuhnya.
"Jika seperti itu, kita harus hati- hati, aku akan menyentuhmu seminggu sekali."
Lama sekali, Briana pasti akan kesepian, tapi bagaimana lagi, berbohong dengan adanya bayi di rahimnya akan membuat Leon terus melindunginya.
Bosan dengan posisi terlentang Briana bangkit dan mendorong tubuh Leon. Briana segera berdiri dan duduk di pangkuan Leon dengan posisi berhadapan. Posisi seperti ini Briana sangat suka, dia bisa bebas bergerak naik turun dan Leon bisa menikmati dua pepayanya dengan leluasa. Sesekali leon menyesap seperti bayi.
Peluh keduanya menetes membasahi sofa. Dengan sigap leon menggendong tubuh Briana seperti anak koala dan membaringkan di ranjang. Permainan keduanya semakin panas hingga menggapai puncak berulang kali.
Leon dan Briana telah menjalani cinta terlarang, karena Briana belum bersedia dinikahi oleh Leon. Briana belum yakin bisa melupakan Morgan dan hidup sederhana.
__ADS_1
Akan tetapi berlahan Briana mulai memikirkan cinta Leon yang tulus. Sedangkan cinta Morgan tak pernah ada untuknya, cinta Morgan hanya untuk Nayara, ketika ingin bercinta saja, Briana dulu harus menambah bubuk penambah gairah setiap hari agar lelaki itu sudi menyentuhnya.