
"Jadi kamu Naya?"
"Iya, aku masih hidup. Kenapa? Apa kamu kaget Briana aku bahkan sekarang ada di sekitarmu dalam keadaan sehat.
"Kamu pasti sengaja operasi wajah supaya aku tidak mengenali?" Kata Briana saat dia tak percaya Naya masih hidup.
"Itu tidak benar, aku melakukan operasi wajah bukan untuk membuat kamu dan ibu Diana tidak mengenaliku. Tapi aku kehilangan wajah asliku karena kebiadapan kamu dan ibumu!"
"Nay, kamu pasti salah paham, kami semua menyayangimu." kata Briana berusaha membujuk Nayara agar tidak melukainya.
"Nay, kita waktu itu masih sangat muda, aku dan kamu masih sama-sama egois."
Nayara mendekati Briana, dia menarik dagu wanita yang begitu dia benci dengan kasar, wajah Briana mendongak menatap Nayara yang sedang sangat marah. Briana belum pernah melihat Nayara semarah hari ini.
"Aku mohon jangan sakiti aku, lepaskan aku Nay." Briana ketakutan karena pisau di tangan Nayara begitu menyilaukan mata, warnanya yang putih dan ujungnya runcing.
"Tidak mungkin Briana, kamu tahu tiga belas tahun aku menunggu momen ini tiba," kata Nayara.
Nayara berdiri dan berjalan memutari Briana yang duduk dilantai dengan tangan di borgol dan diikat dengan tiang.
"Lepaskan aku, Morgan lepaskan aku!" Briana merancau memanggil Morgan.
__ADS_1
"Morgan! Panggil saja suami tersayang mu itu. hahaha" Nayara tertawa keras.
"Suamimu tidak pernah memikirkanmu lagi, karena yang ada dihatinya sekarang adalah Naya. Dia sudah tahu semuanya, bahkan mungkin saat ini dia mencarimu dan akan membunuhmu karena telah menipunya selama ini," kata Kirana.
"Tidak mungkin." Briana menggelengkan kepalanya.
"Lihat ini! Aku memiliki benda kenangan kita dimasa lalu, liontin ini Morgan yang memberiku." Kata Nayara menunjukkan liontin pemberian dari Morgan.
"Jadi, jadi Morgan sudah tahu semuanya?" Briana nampak panik, harapan satu satunya yang bisa menolong sudah tahu semuanya. Briana tidak mengerti
,
"Nay, lepaskan aku, aku berjanji tidak akan membuatmu menderita lagi."
"Apa? Dalam kondisi seperti ini saja kau bilang begitu, Briana mana kalimatmu yang selalu menindas dan mengancam aku selama ini?!"
Briana menggeleng. "Tidak Nay, aku minta maaf."
"Berhenti minta maaf karena aku tidak akan memaafkanmu." Nayara semakin marah.
"Aaaaa, sakit sekali." Nayara memegangi kepalanya yang sakit.
__ADS_1
"Nona, apa yang terjadi?" dua bodyguard hendak membantu, tapi Nayara melarang dengan isyarat tangannya..
"Jangan mendekat, atau kamu akan terluka," bentak Nayara agar dua lelaki itu semakin menjauh.
Nayara yang sudah dikuasai emosi mendekati Briana yang ketakutan.
Briana selama ini benar-benar kecolongan dia tidak tahu kalau Nayara adalah adik tirinya.
"Apa yang akan kau lakukan?"firasat Briana merasakan aura iblis pada diri Nayara.
"Apa yang akan aku lakukan? Aku akan membunuhmu dengan cara yang sangat menyakitkan," jawab Nayara yang berubah sadis dan dingin.
"Jangan!"
"Adikku, berhenti untuk menyakiti. maafkan aku yang tidak tahu apapun ini! Sebenarnya aku hanyalah makluk lemah yang tidak tahu apa-apa!
"Bohong! Kamu ikut semuanya Kak!"
Nayara melempar pisau ke arah Briana dan tepat menusuk dada wanita itu. Setelah melihat pisau itu menancap Nayara memejamkan matanya.
"Aaaa!!!" Briana menjerit kesakitan. darah segar mulai menetes dari dada membasahi baju yang dikenakan.
__ADS_1