Sekretaris Nakal (Balas dendam)

Sekretaris Nakal (Balas dendam)
Hamil (Bagi-bagi sedikit pulsa)


__ADS_3

Briana membuka matanya usai diperiksa. Dia terkejut ada Dokter di dekatnya. 


"Dokter! Kenapa ada dokter?"


"Nay, apakah kau meminta dokter ini untuk menyuntikkan racun ke tubuhku?" Briana beringsut dari tempatnya berbaring lalu duduk dengan bersandar pada sisi ranjang.


Briana terlihat ketakutan. Nayara merasa Briana memang bukan seperti yang dulu. Wanita itu sekarang menjadi penakut dan mudah panik. Nayara merasa menyakiti wanita yang lemah tidak lagi seasyik seperti yang di bayangkan, apalagi dia tahu Briana sekarang hamil.


Nayara sangat kesal, balas dendamnya harus terhalang oleh bayi yang ada di rahim Briana. Tidak mungkin dia akan menyakiti nyawa yang tidak berdosa.


Dan Leon? Akhh bagaimana dia akan memisahkan calon ayah dan bayinya.


Nayara memilih untuk berfikir ulang, dan menghubungi orang suruhannya supaya melepaskan Leon, sedangkan Briana bingung kenapa Nayara tidak menyiksanya seperti biasa.


"Nay, apa yang kamu rencanakan? Mengapa kau tidak menyiksaku seperti biasa?" Briana mengejar Nayara yang sudah sampai di pintu keluar.


"Anggap saja ini hari baikmu, dan aku lagi berbaik hati, tapi ingat Briana, orang-orangku akan terus mengawasi mu. Tak ada gerak gerik mu sedikitpun yang akan terlewati oleh pantauan ku."


Nayara lalu berjalan keluar sambil menenteng handbag di tangannya.


Briana memanggil Nayara. "Nay, apakah kamu menyembunyikan sesuatu." Tanya Briana.


Nayara berhenti lalu menoleh. "Ya, aku berbaik hati karena kau ternyata hamil, semoga bayi itu memang bayi Leon."


"Hamil," Briana menunduk, memandangi perutnya, tangannya mengelus perutnya yang rata. Ekspresi terkejut tak mampu dia sembunyikan lagi.


Briana merasa dia sangat ceroboh, setelah koma beberapa hari karena efek racun yang diberikan Nayara, wanita itu tidak lagi melindungi dirinya dengan KB.


Akan tetapi Briana tidak menyesal dengan kehadiran bayi di rahimnya, karena bayi itu, Nayara berhenti menyiksanya, setidaknya dia aman dalam waktu sangat lama.


Saat Nayara hendak meninggalkan apartement, Nayara melihat Leon berlari tergopoh-gopoh dari arah parkiran. Hanya hitungan menit Leon sudah sampai di apartemennya.


Nayara melewati Leon begitu saja seolah tidak pernah saling mengenal. Nayara sengaja melakukannya karena kesal dengan Leon yang telah berkhianat.


"Nona! maafkan aku Nona." Leon berusaha meraih lengan Nayara, akan tetapi dengan sigap Nayara menghempas tangan Leon.


"Nona, maafkan aku karena cinta aku lemah." Leon menatap kepergian Nayara dengan penyesalan yang dalam.


Nayara sama sekali tidak menghentikan langkahnya, apalagi menoleh, wanita itu terlanjur kecewa yang sangat dalam.


"Aku berjanji akan membuat Briana sadar dan tidak melakukan kesalahan lagi Nona, aku berjanji!!" Leon merasa menjadi lelaki yang sangat bodoh. Tapi bagaimana lagi, dia juga butuh cinta, dan cintanya tidak memandang pada siapa akan berlabuh.


Briana bisa melihat betapa setianya tangan kanan Nayara yang sekarang menjadi kekasih itu.


Briana mengejar Leon dan menghiburnya. "Leon, Nayara butuh waktu aku yakin dia akan mengerti."


"Briana, kamu tahu, aku berhutang budi banyak banget dengan Nayara." Leon nampak frustasi.

__ADS_1


"Aku tahu, tapi aku berharap kamu juga perhatikan aku yang sedang mengandung ini. Apa kamu tidak ingin melihat darah dagingmu yang telah tumbuh berkembang di tahimku"


"Tentu aku ingin melihatnya, baiklah sekarang kamu ganti pakaian, kita siap-siap ke dokter, aku akan mandi dulu.


"Baiklah." Briana menurut. Karena wanita itu juga ingin tahu dengan mata kepalanya sendiri perihal kehamilan yang dikatakan oleh Nayara.


Briana memakai baju seksi seperti biasanya saat ingin ke Dokter. Leon nampak memandanginya dari atas hingga bawah.


"Leon apa ada yang aneh?"


"Sepertinya aku harus membelikan baju untukmu, semua baju yang kau miliki tidak pantas untuk di pakai di luar apartement. Baju baju itu hanya boleh dipakai di depanku." kata Leon mulai introver dan bucin.


Briana menatap tubuhnya, dia sadar kalau bajunya terlalu seksi, baju itu masih baju lama yang digunakan untuk menggoda Morgan.


Leon segera mencari toko yang menjual baju terdekat dengan apartement, setelah mendapatkan baju yang lebih longgar dan menurutnya pas untuk dipakai Briana Leon segera meminta Briana memakai. Briana nampak lebih anggun dengan baju tidak terlalu terbuka.


Leon lalu mengantar Briana ke sebuah klinik bersalin. Leon memutuskan akan terus mengantar Briana setiap bulan ke klinik tersebut.


Dokter segera menyambut kedatangan Briana  dan Leon. Sepasang kekasih itu segera masuk dan melakukan pemeriksaan.


Dokter meminta Briana berbaring, Dokter mulai memeriksa tensi, serta tinggi hemoglobin yang dimiliki, dan masih ada banyak serangkaian pemeriksaan lainnya. seperti test jantung test gizi dan terakhir test urine, syukurlah semua baik baik saja.


Perawat yang membawa hasil test dari ruang laboratorium nampak senang, dia segera melaporkan hasil pemeriksaan pada Briana.


"Aku akan jadi ayah." Leon nampak bahagia. 


Sedangkan Briana terlihat gelisah. Tidak menyangka yang dikatakan Nayara benar. Dan Briana memikirkan hidupnya yang akan turun drastis. 


"Tentu aku senang," jawab Briana berusaha tersenyum. Leon memeluknya di depan dokter. 


"Dokter, betapa usia kandungan istriku?" Tanya Leon. 


"Baru dua minggu, dan istri anda harus sangat hati-hati karena kandungannya lemah.' tapi jangan khawatir nanti akan aku beri obat penguat kandungan. 


"Tolong dokter, usahakan yang terbaik untuk calon anak kami."


"Tentu, itu sudah tugas kami." Dokter segera mengambil segepok vitamin untuk diminum Briana setiap hari, setelah pemeriksaan selesai mereka berdua pulang dengan hati bahagia.


***


Nayara menangis sendirian di tepi laut, entah kenapa dikecewakan Leon membuat dirinya sangat sakit. Tapi Nayara menyadari kalau Leon juga butuh cinta dan cintanya jatuh pada Briana.


"Sayang aku kembali. Aku sudah mencarimu kemana saja dan akhirnya aku menemukanmu disini." Morgan memeluk Nayara dari belakang lalu mengayun tubuh rampingnya berlahan. Morgan juga menciumi leher belakang Nayara.


"Emm, maaf aku lupa memberi tahu kalau aku disini." Nayara menoleh dan tersenyum.


"Sayang aku dan keluarga akan datang melamarku."

__ADS_1


"Jadi seharian pergi dariku, merencanakan semua itu, dan sekarang baru memberi tahu aku." Nayara menyeka airmatanya.


"Iya, tidak ada lagi yang perlu kita tunggu. Aku ingin segera menikahimu. Apakah kau tidak ingin cepat menikah denganku?"


Nayara mengangguk pelan. " Jika tidak ingin, aku pasti pergi ketika misiku berhasil."


"Tapi kenapa kau menangis." Morgan mengusap wajah Nayara.


"Aku kehilangan orang yang sangat setia padaku." Melihat Nayara yang menangisi Leon hati Morgan dibakar cemburu. Morgan mengira Nayara memiliki perasaan pada Leon.


"Kamu berlebihan sayang, apakah hubunganmu dengan Leon sejauh itu?" Morgan melepaskan pelukannya."


"Kamu cemburu kedekatan ku dengan Leon!" Nayara bertanya pada Morgan yang tidak senang dengan ekspresi dirinya yang berlebihan.


"Tentu, kamu menangis seperti di khianati kekasih saja."


"Leon itu seperti saudara bagiku, Morgan."


"Kamu berlebihan Nay, dia hanya orang yang bekerja denganmu saja." Morgan menatap bola mata Nayara yang memerah dan besar. 


"Entahlah kamu anggap dia apa, yang jelas aku merasa dia membuatku sangat kecewa, dan aku ingin melampiaskan semuanya dengan menagis."


*******


*Hallo semuanya, Mam mau bagi pulsa dengan nominal kecil untuk :




3 orang Yang rajin kasih hadiah entah       berupa bunga, vote atau poin.




3 orang yang rajin kasih komentar.




2 orang yang dipilih secara acak. 



__ADS_1


Dan jangan mengeluh jika updatenya lama ya sayang. Mam sedang hamil sembilan bulan dan sebentar lagi menghadapi masa persalinan. jadi agak kurang fokus dan deg-degan. Doakan semoga persalinan lancar ya dan semoga tetap bisa menulis terus.


*Nama teman-teman yang dapat hadiah akan diumumkan di bab berikutnya.


__ADS_2