Sekretaris Nakal (Balas dendam)

Sekretaris Nakal (Balas dendam)
Briana dan Leon menemui Nayara.


__ADS_3

Esok telah tiba, karena sekarang hari minggu Nayara memilih bergelung dengan selimut di atas ranjang hingga mentari terus beranjak naik.


Sedangkan di seberang sana ada yang sedang mencemaskan nya bahkan lelaki itu mondar mandir di kamarnya tanpa tujuan yang jelas. Siapa lagi kalau bukan Morgan, lelaki itu berulang kali menelepon. Untung bibi mendengar dan memberi tahu kalau Nayara masih tidur.


Nayara sedang bermimpi menjadi pengantin Morgan, sepertinya ingatan Nayara berlahan sudah mulai pulih, Satu persatu kebersamaan dengan Morgan sudah terungkap, Nayara semakin sadar kalau dulu hidupnya adalah Morgan.


***


Leon tiba-tiba mendatangi Nayara di apartement Nayara.


Leon mengetuk pintu, dan bibi segera membuka dengan semangat.


"Tuan Leon?" Bibi terkejut Leon tidak sendiri.


"Bi, saya ingin bertemu dengan Nona Nayara." Leon nampak sangat berharap.


"Nona masih tidur." jawab Bibi ketus.


"Kalau begitu izinkan saya masuk dan menunggu di dalam," mohon Leon.


"Maaf, anda tunggu diluar saja." Bibi menutup pintu kembali karena Leon bersama dengan Briana.


Dengan hati-hati bibi masuk ke kamar Nayara, membisikkan kalimat kalau sekarang Briana ada di luar bersama Leon.


"Leon dan Briana kesini?" Nayara segera bangun dan menyibak selimut yang menutupi tubuhnya, menguap sekali menghilangkan rasa kantuk.

__ADS_1


Nayara segera ke kamar mandi untuk membersihkan diri sekalian. Dia tidak mungkin menemui tamu dalam kondisi baru bangun tidur.


Usai mandi Nayara memakai baju santai lalu keluar menemui Leon dan Briana.


Ceklek!


Nayara membuka pintu, wajahnya tiba-tiba menjadi muram begitu melihat Leon dan Briana.


"Nona!" Leon langsung jongkok di kaki Nayara.


Nayara memundurkan kakinya beberapa langkah. "Hey apa yang kamu lakukan, Bangun Leon!"


"Saya akan terus bersujud di kaki anda Nona sebelum anda memaafkan saya."


"Nona, aku mohon jangan putus hubungan baik diantara kita, Keluargaku pasti akan sangat membenciku jika tahu aku menyakiti anda."


"Aku tidak perduli Leon. Pergilah dari sini segera, aku benar-benar tidak ingin ada urusan apapun lagi diantara kita. Aku sudah memecat kamu semenjak kebohongan yang kamu sembunyikan terungkap," kata Nayara.


Briana nampak diam di belakang Leon. Briana yang dulu begitu sombong, sekarang kesombongan itu tidak terlihat lagi. Dia nampak seperti wanita sederhana dengan pakaian sederhana pula.


"Nay, aku tahu kamu benci pada Leon karena aku, jika kamu ingin aku pergi dari hidup Leon, baiklah aku akan pergi, mungkin dengan seperti ini semua akan kembali baik-baik saja," kata Briana.


Nayara mengerutkan keningnya, "Benarkah apa yang kamu katakan? kamu sekarang baik banget Briana. rencana baru apa yang sedang kamu mainkan?" Nayara tentu tidak percaya, kata bijak seperti seorang malaikat itu keluar dari bibir Briana.


"Tidak ada Nay, aku hanya ingin hidup tenang tanpa merasa ketakutan lagi, aku akan berusaha memperbaiki masa lalu yang buruk, tolong ampuni kesalahanku dimasa lalu, Nay." Briana nampak mengiba.

__ADS_1


Nayara tidak percaya Briana sangat berbeda dengan yang dulu dia kenal.


"Briana, apa racun yang aku berikan dulu membuat kamu kembali bereinkarnasi menjadi sosok baik seperti ini?" Nayara merasa apa yang dia lihat seperti mimpi.


"Saat koma, aku mengalami hal yang mengerikan, aku berada dalam kegelapan dan selalu ketakutan. Mungkin itu buah dari kejahatan yang aku lakukan selama ini. Jadi tolong beri aku maaf Nay, setidaknya biarkan aku dan Leon hidup bersama merawat buah hati kita nanti." Briana ikut bersimpuh di depan Nayara seperti Leon.


"Nona, percayalah padanya, dia sudah berubah dan tidak akan berani mengusik anda lagi, kalau itu terjadi akulah orang pertama yang akan menentang perbuatannya."


Nayara nampak diam, dia belum yakin kalau Briana sudah berubah, akan tetapi apa salahnya jika dia memberi Leon dan Briana kesempatan untuk bersatu, mereka terlihat saling mencintai.


Nayara bingung harus berkata apa, jika musuh sudah menyerah, akankah dia harus terus menyakitinya. Jika itu dia lakukan apa bedanya dengan Briana yang dulu.


Nayara membalikkan tubuhnya, dia ingin pergi dari dua orang yang masih duduk di depannya bertumpu dengan lutut itu.


"Nay!" Briana memberikan kantong kresek yang isi dalamnya terlihat sebuah kardus ukuran sedang.


"Apa ini?" Nayara ragu antara menerima atau menolak.


"Ini cake red velvet kesukaan kamu." Briana menyodorkan kardus itu karena Nayara tidak segera mengambil.


Melihat keraguan dimata Nayara Briana jadi mengerti. "Oh maaf. Kamu pasti mencurigai aku membubuhkan racun pada kue ini. Baiklah aku akan makan beberapa potong biar kamu percaya."


Nayara membiarkan Briana makan beberapa potong, Nayara hanya melihat saja, lagipula dia tidak akan memakan kue pemberian Briana. Anak dari wanita yang sudah membuatnya menjadi yatim.


*Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2