
"Pak Morgan jangan seperti ini, lepaskan tangan anda."
"Kenapa Nayara? bukankah kau sebelumnya menggodaku, kenapa kau sekarang berubah?" Morgan makin senang membuat Nayara tersipu. Digesek-gesek dagunya yang kasar, ke punggung Nayara.
Nayara memejamkan mata merasakan sensasi geli yang timbul karena kumis Nayara yang belum tumbuh. Nayara yang biasanya tak suka disentuh, saat ini seolah tunduk oleh sentuhan Morgan.
"Aku tidak ingin menggoda Anda, karena lelaki seperti Anda hanya akan mencintai satu wanita, dan itu istri anda," jawab Nayara berusaha menjauhkan lehernya dari dagu Morgan.
Nayara yang diam-diam sudah mengubah total rencana awal untuk menggoda Morgan, justru saat ini lelaki itu yang menggodanya.
Sedangkan rencana kedua sudah mulai berjalan dengan membuat Briana diceraikan Morgan karena dia akan membuat seolah Briana selingkuh dengan Leon.
"Lepas, Tuti dan asisten anda yang lain melihat." Nayara menoleh pada Tuti yang mengintip dari jarak jauh. Tuti sebetulnya hanya memastikan saja kalau Morgan tidak marah pada Nayara.
Yang difikirkan Tuti justru tidak terjadi. Nayara dan Morgan bahkan sekarang terlihat romantis.
'Syukurin untuk Nona Briana kalau Pak Morgan ternyata punya selingkuhan. Wanita culas dan tidak perhatian seperti Nona Briana memang pantas diselingkuhin. lagi pula Nona Nayara lebih cantik dan lebih menyenangkan, tidak galak, tidak main tangan, dan lebih perhatian.'
"Tuti, pergilah, kau tidak sopan mengintip tuanmu seperti itu. Atau aku akan menyerahkan pesangon terakhirmu. " Morgan berteriak ke arah Tuti. Morgan tahu tuti mengintip karena rasa tak nyaman di wajah Nayara dan selalu melihat ke arah Tuti bersembunyi.
Tuti keluar dari persembunyian. "Maaf Tuan, kalau begitu Tuti akan pergi mencuci, tapi bagaimana dengan acara masaknya?"
"Sudah, selesaikan saja tugasmu, aku akan makan bubur buatan Nayara saja.'
"Tapi anda tidak suka bubur, Tuan."
"Ya, itu karena bubur buatanmu rasanya hambar."
Dengan wajah kesal Tuti pergi ke ruang cuci. Tuti kesal masakannya di bilang tidak enak.
"Baik Tuan, kalau begitu Tuti akan pergi." Tuti berjalan pelan menuju tepat pencucian. sebenarnya dia masih penasaran pada dua orang di dapur, apakah tuannya akan mencium wanita yang tengah memasak itu, Tuti akan puas jika melihat semuanya langsung.
"Aku akan menata makanan ke meja makan, lebih baik anda tunggu disana, Anda sudah membuat para asisten itu berfikir macam-macam, aku tidak mau mereka menganggap aku wanita penggoda."
'Kau memang menggodaku Nayara, setiap pahatan indah dan lekukan di tubuhmu ini selalu menggodaku.' batin Morgan, lelaki itu kembali mengeratkan pelukannya dan menggelitik punggung Nayara.
"Kau yang mulai, kau pikir aku tidak ingat." Morgan mengingatkan pertama kali Nayara datang ke perusahaan.
"Tapi sekarang aku sadar, Belvan lebih cocok untuk menjadi kekasihku, dia masih lajang, tampan dan juga seorang CEO. beberapa hari lagi dia akan mengajakku bertemu pada keluarganya," curhat Nayara.
__ADS_1
Nayara sengaja mengacaukan Mood Morgan dengan mengatakan semuanya. Nayara yakin jika Morgan memiliki perasaan padanya, dia akan marah atau ekspresinya akan berubah menjadi kesal.
"Nay, jangan pernah katakan dia di depanku. Mendengar nama laki-laki itu saja, mood ku mendadak jadi buruk." Morgan melepas pelukannya di pinggang Nayara. laki-laki itu pergi ke ruang makan dan duduk seperti manekin.
Pikirannya terus berkelana memikirkan sejauh apa hubungan Nayara dan Belvan.
'Apa mereka sudah pacaran? Bodoh sekali jika aku tidak tahu. Tapi kapan mereka pacaran? Nayara tidak boleh bertemu dengan orang tua Belvan.'
Morgan kesal sendiri di ruang makan sambil mengamati Nayara yang memasak di dapur. Entah kenapa rasa tidak rela begitu besar bergelayut dihatinya. Morgan berlahan sadar kalau perasaannya pada Nayara itu bukan hanya sebatas hubungan sekretaris dan direkturnya. Ada perasaan yang lebih dari semua itu.
Nayara meneruskan masaknya hingga beberapa menu selesai. Nayara sesekali melihat Morgan yang menatapnya dengan pikiran yang melayang ke angkasa dan terombang-ambing oleh angin.
Setelah udang krispi dan capcay matang, Nayara segera membawanya ke ruang makan, meski harus bolak balik karena sendirian, wajahnya bahagia karena setelah dicicipi semuanya rasanya pas, sesuai harapan.
Morgan terhenyak dari lamunan begitu Nayara datang, berdiri dan segera menghapus keringat Nayara dengan tisu, ketika melihat leher Nayara mengeluarkan banyak keringat.
Gadis yang tengah membungkuk menata makanan itu terkejut karena perlakuan dari Morgan.
Nayara membiarkan Morgan melakukan semuanya, Nayara akan sangat senang kalau rumah ini juga dilengkapi CCTV. Nayara tak bisa membayangkan bagaimana wajah Briana disana jika kebetulan melihat semuanya.
"Nay, kamu sampai berkeringat begini?"
"Masakannya nanti ke campur keringat," canda Morgan.
"Biarlah, lumayan nambah rasa asin di sayur."
"Nggak papa sih, kalau sayurnya plus keringat kamu. Mungkin aku nanti makannya lebih lahap." Morgan tersenyum. Senyum yang sangat tampan sampai hati Nayara klepek-klepek.
"Sudahlah, sekarang lebih baik anda mulai sarapan." Nayara mengambilkan piring dan mengisi dengan bubur sum-sum tak lupa Nayara memberi bawang goreng untuk taburan dan ayam yang sudah dicincang dan dimasak menyerupai abon.
Morgan menghirup aromanya, yang harum semerbak.
"Nay, kamu nggak makan sekalian."
"Nggak, aku ingin melihat anda makan."
"Hem, baiklah, nanti aku suapi."
"Nggak perlu, aku tidak lapar."
__ADS_1
"Kalau begitu aku juga tidak mau makan."
"Ya, baiklah, aku akan makan." Nayara mengambil piring dan mengambil menu yang sama dengan Morgan.
Makan malam hari ini jujur membuat Morgan tersentuh, makan dengan menu yang dimasak sendiri oleh orang yang dia sukai.
"Nay rasanya kok gini ya?" Morgan mencecap berulang kali dan kerutan di keningnya semakin terlihat.
"Kenapa Pak? Apa nggak enak?"
"Enak banget, makasi ya. Kayaknya mulai hari ini aku bakal suka makan bubur ayam. Tapi asalkan kamu yang buat."
Nayara hanya menanggapi dengan senyuman sambil menikmati bubur buatan perdananya, karena lagi-lagi Nayara harus Googling dan mencari resep yang menurutnya paling mudah dan enak.
***
"Ahhh!" Briana meracau saat Leon bermain main di puncak gunung kembar miloknya. Lampu dipadamkan lebih lama membuat suara-suara erotis terdengar di sekelilingnya.
"Leon ...." Briana menekan kepala Leon agar lelaki itu bisa bermain di gunung kembarnya lebih dalam.
Leon tak menyangka Briana akan membiarkan dirinya melakukan semuanya, dan dia justru sangat menyukai permainan lidah Leon.
Leon segera membawa Briana ke kamar untuk melanjutkan rencana berikutnya.
Leon tadinya ingin membawa ke kamar Briana. tapi wanita itu mengatakan kalau dia tidak ingin bertemu ibunya.
Leon akhirnya memutuskan membawa Briana ke kamar miliknya, Leon segera merebahkan wanita dalam gendongan yang sudah setengah mabok itu ke ranjang empuk.
Setelah Briana terlihat pasrah dan menunggu perlakuan berikutnya, Leon mengambil ponsel. Akantetapi Briana menahan.
"Lupakan benda itu sejenak, tidakkah aku cukup menarik di matamu," kata Briana, merasa Leon tidak fokus dengannya yang sudah tak sabar ingin disentuh.
"Apakah kau tidak takut jika aku membuatmu hamil?" Leon berusaha memberi rasa takut pada Briana.
"Aku tidak akan hamil," kata Briana meyakinkan.
Briana merasa alkohol yang diminumnya kini memberi efek begitu panas. Briana melepas baju yang kurang bahan. keringat mulai muncul dari sekujur tubuh.
Sebagai lelaki beriman lemah, Leon sejenak melupakan pesan Nayara. dia tidak bisa menahan gejolak di dadanya yang teramat besar.
__ADS_1
Batin Leon berperang antara memakan makanan lezat yang sudah siap untuk dinikmati didepannya, atau mengabaikan dan membiarkan sia-sia begitu saja. Leon kini dalam dilema.