
Sebagai laki-laki yang sangat mencintai Nayara, Morgan takut Nayara akan mencintai lelaki lain selain dirinya.
Morgan memeluk kekasihnya. Meski dia cemburu dengan Nayara yang terlihat begitu perhatian dengan Leon. Lelaki itu yakin kalau Leon bukanlah saingan yang sepadan.
"Sayang, jangan bersedih. Jika Leon dan Briana bersatu maka itu akan lebih baik buat kita," hibur Morgan.
"Bagaimana kalau ternyata Briana menipu Leon."
Lagi-lagi Nayara begitu perhatian dengan Leon. Morgan makin kesal.
"Ayolah please jangan bahas Leon, Briana atau yang lainnya, aku saat ini hanya ingin kita menikah."
"Menikah, Aku belum ingin menikah." Nayara berjalan menjauh, dia sengaja ingin menggoda Morgan. Bagaimana reaksi lelaki itu jika lagi-lagi keinginannya di tolak.
"Tunggu apalagi sayang, aku sudah tak sabar." Morgan mengeratkan pelukannya, lalu menciumi tengkuk Nayara penuh dengan ga***h. Nayara dibuat merinding oleh sapuan lidah Morgan di telinganya.
Nayara sebenarnya mulai tergoda oleh sentuhan Morgan, akan tetapi dia tidak akan membuat lelaki itu dengan mudah mendapatkannya.
Nayara berlari ke mobil. Morgan mengejarnya. Nayara mengunci pintu sebelah kiri, Morgan lewat pintu sebelah kanan. Jujur hari ini Morgan sedang ingin mencumbu Nayara. Sebagai lelaki normal, hasratnya lagi naik.
Sudah lama Morgan menginginkan sekretaris nakal yang pernah menggodanya habis habisan, itu menjadi istrinya.
"Jangan berani menyentuhku." Nayara mendorong Morgan ketika lelaki itu duduk merapat dan mencondongkan tubuhnya.
"Aku bukan Nayara yang dulu, yang lugu dan bodoh Tuan Morgan."
"Apa maksud kamu, Nay?"
"Apakah kau yakin ingin menikahiku, disaat aku belum bisa mencintaimu sepenuhnya, karena aku belum ingat siapa diriku."
"Aku berlahan akan membantumu mengingat semuanya, sayang," kata Morgan.
"Baiklah, aku percaya. Tapi bagaimana jika saat pernikahan nanti aku ingin mas kawin yang tidak biasa," kata Nayara lagi. Nayara sedang ingin menguji cinta dan kesetiaan Morgan padanya, dengan meminta mas kawin yang fantastis.
"Apa yang kau minta pasti aku berikan, Sayang," jawab Morgan.
"Aku ingin jet pribadi, dan sebuah pulau. Apa kau sanggup memberinya padaku sebagai mas kawin. Selain itu aku ingin separuh dari saham perusahaan yang kau miliki juga atas namaku."
"Nay, kamu serius ingin itu semua?" Morgan tidak percaya yang diinginkan Nayara adalah harta.
Nayara tersenyum. "Bukankah kau sangat mencintaiku? Aku mau itu semua untuk dijadikan mas kawin, jika kau tidak sanggup, lebih baik lupakan pernikahan."
"No problem, aku akan membelikan semuanya untukmu, dan Tomi akan berangkat sekarang juga untuk mengurus semuanya," kata Morgan.
Nayara pura-pura sangat bahagia, Nayara ingin tahu apakah dia tetap mencintainya ketika keinginannya melampui batas, layaknya gadis matre.
"Kalau boleh tahu kenapa kamu ingin semua itu?" tanya Morgan.
"Sudah kubilang Tuan, aku bukan Nayara yang dulu. Sangat senang saat kau beri boneka beruang dan kotak musik, aku Nayara yang sangat suka dengan harta. Apa aku salah?"
"Tentu tidak, aku akan berikan semuanya dalam waktu dekat. Tapi setelah itu aku tidak mau lagi kamu mengundur pernikahan kita."
"Baiklah Tuan Morgan," jawab Nayara setengah bercanda, dia juga mengubah ekspresinya menjadi senang layaknya wanita matre.
Morgan lalu mengantar Nayara pulang. Sepanjang perjalanan Nayara tertidur di bahu Morgan. Morgan masih terus berfikir dalam hati, benarkah wanita yang dia cintai dengan setengah mati itu telah berubah. Bukan dia keberatan dengan permintaan Nayara. tapi Morgan takut Nayara akan pergi ketika suatu hari nanti dia jatuh miskin.
Nayara yang berhasil membuat Morgan gelisah, dia nampak menahan senyumnya.
Meski sedang gelisah, Morgan tetap berusaha mengelus rambut Nayara dan sesekali menciumnya.
***
__ADS_1
Di apartement.
"Sayang aku langsung pulang, aku harus siapkan semua hal yang berhubungan untuk pernikahan kita."
Nayara mengangguk. "Iya, aku tunggu kabar selanjutnya."
Morgan mengantar Nayara sampai pintu apartment lalu mengecup kening Nayara dan mencium bibirnya penuh kelembutan.
"Morgan apa kamu yakin akan memenuhi syarat-syarat itu?" tanya Nayara saat tautan bibirnya terlepas.
"Tentu, aku sangat mencintaimu. Jangankan semua itu, nyawa pun akan aku berikan."
"Kalau begitu aku minta nyawamu saja!"
"Ambillah." Morgan mendekati Nayara, menempelkan tubuhnya hingga tanpa sisa.
Berada pada jarak sedekat ini dengan Morgan, membuat jantung Nayara terpacu sangat kuat. Lelaki di depannya sungguh telah membangkitkan sarafnya yang semula tidur.
Nayara mendorong tubuh Morgan sebelum Lelaki itu bertindak lebih jauh.
Morgan tersenyum. "Kau masih sama suka sekali mendorong ku dengan kasar."
"Jangan bertindak terlalu jauh, sebelum kita menikah," kata Nayara.
"Awas, setelah menikah aku akan membuatmu tidak bisa berjalan," ancam Morgan.
"Kau mesum." Nayara mencubit perut Morgan.
"Aku mesum hanya padamu, kau sudah cukup umur," canda Morgan.
"Pulanglah cepat! Aku ingin istirahat." Nayara mendorong Morgan.
"Tidak, kau sudah mencium ku sekali tadi."
"Aku mau lagi."
"Ngelunjak." Nayara mengerucutkan bibirnya.
Saat Morgan dan Nayara sedang bermesraan tiba-tiba bibi membuka pintu.
Bibi dengan cepat menutup pintu lagi.
"Bi! kenapa di tutup aku mau masuk." Nayara ingin segera masuk tapi Morgan menahan lengannya.
"Maaf Nona, maaf mengganggu anda." Bibi membuka pintu lagi.
"Tidak, aku akan masuk dan istirahat, kami tidak ngapa-ngapain, Bi."
Morgan hanya tertawa menanggapi tingkah lucu asisten Nayara.
Bibi segera membuka pintu, dengan menutup wajahnya dengan telapak tangannya, lalu membuka telapak tangannya pelan. Bibi tersenyum melihat tak ada adegan yang perlu di sensor ke depannya.
Nayara menatap bibi dengan sebal, karena bibi sudah mencurigainya berbuat aneh-aneh. Morgan hanya tersenyum pada bibi dan melambaikan tangan.
Dengan genit bibi membalas lambaian tangan Morgan. "Tuan, masuk yuk. Biar bibi bikinin kopi."
"Bi, Morgan harus pulang." ujar Nayara dari dalam.
"Maaf Tuan." Bibi menutup pintu apartement, sedangkan Nayara mandi dan ingin segera beristirahat di kasur empuk.
Nayara berusaha untuk mengingat setiap kejadian di masalalunya dengan pelan-pelan sambil tiduran. Saat sedang tenang, Nayara bisa mengingat satu persatu rangkaian kejadian manis dan pahit di masalalunya.
__ADS_1
Nayara tiba-tiba ingat masalalunya saat di putih abu-abu. Nayara mencium Morgan lebih dulu ketika lelaki itu sedang ulang tahun yang kebetulan dirayakan di kelas Morgan.
"Apakah aku dulu seagresif itu sama Morgan. Tidak, ingatan itu pasti ngaco. Tidak mungkin aku begitu tergila-gila dengan lelaki bodoh itu"
Nayara memejamkan matanya mencoba mengingat lagi dengan pelan-pelan. Nayara sedang memaki seorang gadis yang saat itu menggoda Morgan. Nayara mengatakan kalau Morgan adalah miliknya, dia adalah calon istri satu-satunya di masa datang.
"Ahh, benarkah dulu aku segila itu, jadi dulu aku benar-benar over protektif dengan Morgan." Nayara senyum-senyum sendiri sambil menutup wajahnya. "Morgan berarti tidak bohong, ternyata aku dulu sangat mencintainya."
***
Yang menempati rangking pertama, kedua dan ketiga, segera hubungi saya lewat FB Isti Arisandi.
1.Veronica lipat
2.Ginasih nengah
3.Trias yulia
*Yang rajin komentar panjang panjang
Kak Ros
Kak Maya Zaskia
Eka Elisa
*Yang mendapat hadiah karena namanya keluar saat di kocok.
Puspita Erna
Bee
*Kalian semua aku tunggu di FB massenger sampai besok sore ya, Kak. hadiah dikirim besok pagi. Terimakasih untuk semuanya. Salam sayangku untuk kalian semua yang sudah mendukung setiap cerita. Jika kalian rajin IngsaAllah saya akan selalu berterima kasih. Cerita ini belum tamat. Sambil nunggu cerita ini up bisa mampir ke cerita author yang baru ya. (Terlambat Menyadari Cinta)
__ADS_1