
"Nay, ampuni aku!" Briana menangis saat Nayara mendekatinya.
"Apakah rasanya sangat sakit?"Nayara menarik dagu Briana.
"Kamu tega melakukan ini semua." kata Briana sambil menahan sakit.
"Siapa yang lebih tega? Kamu dan ibumu atau aku?" Kata Nayara, wanita itu semakin mempererat cengkeramannya di rahang Briana. Briana kesakitan hingga keringat dingin membanjiri tubuhnya. matanya menitikkan air mata.
"Kenapa dulu ibumu tega membunuh kedua orang tuaku? dan kamu juga ikut serta membunuhku?"
"Bukan aku, semua ide dari ibuku, jika aku tidak mau dia akan membunuhku."
"Bohong! kamu dan ibumu sama saja." Nayara mendorong tubuh Briana, wanita itu terkulai, pasrah. Darah tak berhenti menetes membasahi bajunya, membuat wanita itu kesakitan, tatapannya sayu. Bibirnya terus bergetar memohon maaf pada Nayara.
Nayara tersenyum smirk, dia ingat permintaan uncle Bram dan bibi Maria untuk tidak mudah tertipu air mata palsu Briana.
Nayara mencabut pisau yang menancap di dada Briana. wanita itu meringis kesakitan.
"Aaaa, sakit!" Briana mencengkeram kaki Nayara.
"Naya maafkan aku, tolong jangan siksa aku seperti ini, Aku berjanji tidak akan seperti dulu, mari kita mulai semuanya dari awal."
"Aku akan melepasmu dan ibumu jika kau penuhi dua hal."
"Katakan Nay, apa itu?
"Kembalikan kedua orang tuaku dan harta yang sudah kau rampas," kata Nayara.
"Apa yang kau katakan? Itu tidak mungkin Nay. Jika ibumu sudah tiada mungkin itu memang garis hidupnya, dan perusahaan keluargamu sudah bangkrut sejak lama. dan disita oleh pihak Bank, tidak mungkin ibu dan aku bisa mengembalikan lagi," kata Briana berusaha mengatakan apa adanya.
__ADS_1
"Jika tidak bisa, berarti jangan berharap aku akan membebaskan kalian berdua. berarti sudah takdirmu membusuk dalam gudang ini."
"Nay!!!" pekik Briana.
"Jangan berteriak padaku, aku tidak suka!" kata Nayara.
"Nayara, aku berjanji akan berubah," mohon Briana.
"Berubah? Benarkah Briana bisa berubah?" Nayara tidak percaya Briana begitu mudah mengucapkan kata penyesalan.
Nayara hendak pergi meninggalkan Briana, tapi wanita itu menahan kaki Nayara.
"Tolong aku Nayara, tolong jangan tinggalkan aku, aku bisa mati."
"Emang itu yang aku inginkan, aku ingin kamu mati perlahan dan merasakan sakit yang luar biasa, seperti dulu kamu meracuni kedua orang tuaku."
Nayara menghentakkan kakinya, membuat pegangan Briana terlepas.
Saat diluar Nayara berbisik pada dua pengawal, untuk mengurus Briana lalu dia beranjak pergi.
Pengawal menuruti Nayara, dia membawa wanita itu ke rumah sakit terpencil untuk mendapatkan perawatan.
Nayara tidak mau Briana mati dengan sangat mudah, masih banyak hal yang harus dia saksikan termasuk penangkapan ibunya.
Leon yang sejak tadi menunggu di mobil terlihat cemas.
"Kau sangat cemas, Leon." kata Nayara.
"Aku mencemaskan anda Nona." jawab Leon.
__ADS_1
"Benarkah kau mencemaskan aku?" Nayara mengerutkan keningnya.
"Iya Nona," jawab Leon.
"Aku rasa tidak, kau sepertinya mencemaskan kekasihmu," cibir Nayara.
"Saya belum punya pacar Nona."
"Kamu suka Briana?" Tanya Nayara.
"Tentu tidak Nona." Leon terlihat mengemudi dengan gugup.
Nayara tersenyum melihat gugup yang melanda Leon.
Tapi Nayara tidak mau membuat Leon tidak nyaman saat bersamanya, Nayara akan menyelidiki sendiri.
Tiba di apartemen, Nayara meminta Leon untuk pulang. Lelaki itu memarkirkan mobil Nayara di basement dan langsung menghubungi ojol langganannya.
Bi Nunik menyiapkan teh hangat dan makan malam untuk Nayara.
Nayara gelisah karena melihat Leon yang mulai berbeda. Nayara jatuh cinta pada Briana, Nayara takut Leon diam-diam akan menyerang balik demi menyelamatkan Briana.
"Nona." Nunik terlihat ingin bicara sesuatu saat Nayara sedang makan malam seorang diri.
"Iya." Nayara menghentikan makannya sejenak.
"Nona Tuan Morgan masih menunggu anda, dia sangat khawatir dan tidak mau pulang."
"Apaa!! Dimana dia sekarang?" Nayara kesal dengan Morgan yang keras kepala.
__ADS_1
"Maaf Nay," lelaki itu muncul dari pintu luar.