Sekretaris Nakal (Balas dendam)

Sekretaris Nakal (Balas dendam)
Kesalahan


__ADS_3

Leon terpaksa memakan Briana malam ini, ibarat kucing lapar dikasih ikan salmon yang gemoi pasti langsung di embat.


Briana dan Leon menikmati malam yang sangat indah di kamar Leon, tanpa memikirkan suaminya di rumah yang sedang sakit.


Briana sebenarnya tahu kalau Morgan sakit, karena dia sesekali menanyakan kabar tentang suaminya lewat asisten. Tapi Briana yakin ada asisten yang sudah siap menjaganya dua puluh empat jam di rumah.


"Ah Leon." Briana tersenyum melihat Leon melepas semua bajunya. Tubuh kekar yang dia lihat tadi siang kini ada di depannya, bahkan kini tanpa kaos ataupun kemeja. 


"Leon." Briana menggelitik enam pahatan indah di depannya. Tubuh yang keras dan liat membuat Briana yakin milik Leon juga sangat tangguh. 


Meski Briana belum pernah merasakan yang lebih tangguh dari suaminya, tapi Briana merasakan sensasi yang berbeda dari mereka semua.


"Nona, kau sangat menyukai tubuh ini?" Kata Leon yang tau tatapan kagum Briana akan tubuhnya. 


"Ya, kau pasti sangat rajin olahraga." Kata Briana sambil menggigit bibir bawahnya. 


"Tentu, aku tidak bisa lepas dari olahraga."


"Aku suka tubuh lelaki berotot." Briana tersenyum menggoda.


"Benarkah? Apakah kau sering menghabiskan malam dengan banyak lelaki sebelumnya?"


"Tidak, kau jangan salah paham, aku hanya mengagumimu."  


Briana seakan terjebak dengan ucapannya sendiri. Secepatnya wanita itu meralat kalimatnya, Briana terlanjur mengaku pada Leon kalau masih single. 


Sebenarnya cinta Briana hanya untuk Morgan. Semua laki-laki di luar rumah dianggapnya hanya sebagai cemilan saja.  


Leon membuka baju kurang bahan yang dipakai Briana, memberi kecupan dan banyak tanda merah di sekitar leher, makin lama kecupan Morgan semakin turun ke bawah. 


Leon menemukan sumber mata air yang masih kering dan menyesapnya dengan kuat. Briana mengerang keenakan. Leon tahu Briana tipe wanita yang suka sekali diperlakukan sedikit kasar. 


"Leon ahh," Suara Briana keenakan. Briana terus menekan kepala Leon di dadanya agar tidak cepat melepaskan pag*tannya. 


 


Leon tersenyum, Briana kini sudah berada dalam kendalinya. Leon terus menikmati kedua bukit menjulang bergantian dan sesekali menggigit, Briana memekik sakit.

__ADS_1


Leon juga memberi banyak tanda merah di sekitarnya. Leon ingin membuat Briana akan terkesan dan selalu mengingat malam ini.  


Saking serius mengerjai tubuh Briana, Leon sampai tak mendengar ponselnya yang terus berdering, Leon tidak tahu panggilan itu dari Nayara. 


Saat suara panggilan itu terdengar, Leon ingin beranjak, tapi Briana terus menahan Leon agar tak pergi darinya. "Pasti itu ibumu. Hubungi nanti saja setelah kau selesaikan tugasmu."


"Leon apakah kamu sangat sibuk, sampai kau mengabaikan panggilanku. "Nayara sudah tak sabar ingin segera melihat hasil foto yang diambil Leon.


"Dasar laki-laki tak bisa dipercaya, Leon pasti sekarang sedang mencicipi tubuh wanita itu" Kesal Nayara. 


Dugaan Nayara tak salah, sekarang Leon dan Briana sedang mendesah keenakan. Leon dan Briana sedang bertarung. Mereka sama-sama ingin menunjukkan yang terhebat. 


Tubuh basah penuh keringat tampak lebih mengkilap oleh sentuhan cahaya lampu. Briana berteriak histeris tanpa ada yang mampu menghentikan. Setiap teriakan Briana membuat Leon semakin bersemangat untuk menghujam miliknya lebih keras lagi.


 


Permainan mereka selesai setelah dua jam berlalu. Briana yang kelelahan langsung tertidur pulas tanpa sehelai kain. Leon segera menyelimuti tubuh polos Briana  


Setelah nafas Leon normal kembali, dia segera keluar kamar menuju balkon dan menghubungi Nayara. "Nona, ada apa?" Tanya Leon dengan nafas masih ngos-ngosan.


"Leon jujur padaku apa yang telah kamu lakukan dengan Briana? Sampai kau abaikan panggilanku." Nayara kesal.


"Dasar!!" Gerutu Nayara. Sebenarnya Nayara kasihan sama Leon kalau dia akan menghadapi masalah rumit di lain hari karena berurusan dengan Briana. Tapi laki-laki itu tak bisa mengendalikan dirinya. 


"Maaf Nona, apa anda marah?" Leon berusaha menghibur Nayara.


"Tentu aku marah." Sungut Nayara. "Mana hasil foto mesra kalian."


"Baiklah Nona, akan aku kirim sekarang juga." Leon segera mengirim beberapa foto Briana dan dirinya saat melakukan pemanasan diranjang.


Nayara tersenyum puas dengan foto yang dia dapat. "Nayara segera menyimpan dan akan menjadikan sebagai kejutan besar bagi Morgan. Tanpa Nayara ketahui kalau Morgan perlahan juga sudah mencium ketidakjujuran dari semua kelakuan Briana padanya. 


"Nay, ngapain disini?" Suara Morgan dari arah belakang mengagetkan Nayara yang sedang mengamati foto Briana dan Leon di balkon.


Karena saking kagetnya ponsel Nayara nyaris jatuh, untung dengan sigap Nayara bisa mengejarnya hingga tak sampai menyentuh tanah


"Aku sedang melihat pemandangan di sekitar Mansion."

__ADS_1


"Kalau kau betah, kau tinggal disini saja sampai esok, atau sampai Briana pulang."


"Tidak aku akan pulang sekarang." Nayara hendak beranjak setelah mengambil tasnya dimeja. 


"Nay," Morgan menahan lengan Nayara. 


"Aku tidak bisa menginap. Aku harus pulang." Nayara baru ingat kalau dia ada janji dengan Belvan.


"Sudah larut malam, tidurlah disini." Morgan pura-pura menahan sakit di perutnya. Nayara tak percaya Morgan benar-benar kesakitan lagi, setelah minum obat dia tadi sudah baik-baik saja.


"Anda berbohong demi menahanku disini," Kata Nayara sambil menatap kedua bola mata Morgan.


"Ya, aku melakukannya supaya kamu menuruti keinginanku. Di rumah ini aku tak ada teman, hanya ada asisten yang sibuk dengan pekerjaan masing-masing."


"Kau bisa panggil Manager Andre atau Manager Rangga," kata Nayara. 


"Dia hanya akan membuat moodku semakin buruk. Ayolah Nay hanya kamu yang bisa membuat aku bahagia hari ini, aku butuh kamu." Morgan terus membujuk Nayara.


"Baiklah," Nayara akhirnya mengalah. Lagipula besok hari libur, Nayara tidak perlu tergesa gesa ke kantor.


Morgan mengantar Nayara ke kamar pribadinya. Morgan ingin memperlakukan Nayara dengan spesial, Sepertinya Nayara pantas mendapat kepercayaan itu. Sedangkan Morgan akan memilih tidur di kamar Briana. Morgan tidak enak jika meminta Nayara tidur di kamar tamu. Kamarnya terlalu sederhana. Saat itu juga Nayara baru tahu kalau Morgan dan Briana memiliki kamar sendiri-sendiri. 


"Nay kamu bisa mandi dan pakai fasilitas sesukamu." Jika kamu butuh sesuatu ambil saja semuanya ada di lemari.


Nayara hanya bengong menanggapi setiap kalimat Morgan. Kenapa lelaki itu begitu mempercayakan ruang pribadinya. Tetapi setelah dipikir, itu hanya sebuah kamar. Pasti tidak ada dokumen dan barang berharga di dalamnya.


Nayara segera mengambil handuk yang terlipat rapi di lemari, lalu membuka baju dan melemparnya ke ranjang. Setelah semua atribut di tubuhnya terlepas Nayara masuk ke kamar mandi. Nayara menyalakan shower dan mulai menikmati mandinya. Tubuhnya yang lengket terasa sangat segar. Belum lagi ruangan kamar mandi yang luas membuatnya seperti mandi di sebuah taman.


Saat keluar kamar mandi Nayara baru sadar kalau dia tidak membawa baju ganti. Nayara tahu bajunya pasti sudah kotor karena usai dibuat memasak.


Nayara akhirnya memutuskan untuk memakai kemeja Morgan, ogah saja jika dia harus membayangkan memakai baju Briana. 


Morgan yang tak sabar ingin mengajak Nayara menghabiskan waktu bersama di ruang santai, akhirnya dia mendatangi Nayara.  Meski sekedar minum kopi dan makan cemilan ringan, hal itu sudah dinanti sejak tadi. 


"Nay!" Morgan terkejut saat membuka pintu dan melihat Nayara memakai salah satu kemejanya. 


"Maaf, aku terpaksa memakai kemeja ini." Nayara menjewer kemeja warna putih dengan lengan dilipat hingga siku, ukuran yang kebesaran membuat Nayara seperti memakai daster. Bukit kembar milik nayara juga tercetak dengan jelas, karena tak memakai perisai apapun di dalamnya.

__ADS_1


Morgan susah payah menelan salivanya. Otaknya dengan cepat traveling. 'Kenapa Nayara justru makin seksi saat memakai kemeja itu."


  


__ADS_2