
"Sayang ayo berikan tanganmu, kami semua disini sudah menunggu." Wanita berpenampilan elegan dengan rambut disanggul indah di belakang itu terlihat tak sabar, apalagi malam semakin larut dan acara makan malam juga belum mulai.
Belvan menarik Nayara ke tempat foto, beberapa fotografer sudah siap mengambil gambarnya.
Nayara bingung harus berkata apa, dia tidak kuasa membuat kecewa sosok keluarga penggantinya yang datang dari jauh hanya untuk menyaksikan semuanya.
"Nay berikan jarimu," Aunty mendekati Nayara meminta Nayara untuk memberikan jarinya pada Belvan, Aunty mengira Nayara lagi nervous ketika melihat tubuh Nayara mendadak dingin.
"Aunty dulu juga Nervous, sama kayak kamu hari ini, tapi percayalah Nay, kamu akan lebih Nervous lagi saat menikah nanti.
"Aunty." Lirih Nayara, Nayara memeluk tubuh bibi kesayangannya, Nayara justru merasa sedih karena belum siap, dan Belvan sama sekali tidak membahas malam ini sebelumnya.
Belvan mendekati Nayara. menarik jari wanita di depannya. Aunty terpaksa melepas pelukannya pada Nayara.
Belvan mengeluarkan cincin dari kotak kecil yang dihiasi beludru warna merah. Cincin yang sangat bagus yang mungkin tak ada duanya, karena Belvan lagi memesan secara khusus.
Tidak ada cara lain yang bisa Nayara lakukan selain menerima semua perlakuan manis Belvan malam ini.
"Nay, terimalah lamaran ku malam ini?" Belvan memposisikan diri dengan berjongkok di depan Nayara dengan satu lutut menjadi tumpuan.
Nayara mau tidak mau mengulurkan jemarinya, dia tidak bisa membuat malu siapapun termasuk Belvan dan dirinya sendiri.
"Belvan! pikirkan sekali lagi, yang kamu lakukan ini bukan sebuah lelucon." Flora baru masuk dan langsung membuat kekacauan.
"Kakak kamu benar Belvan, pikirkan sekali lagi," pinta Nayara.
Flora menatap Nayara dengan wajah tidak suka, tapi bagaimanapun dia tidak bisa berbuat banyak karena kemarahan Belvan akan sangat menakutkan.
"Kak Flora, aku lebih mengenal Nayara lebih dari siapapun, jadi aku tahu yang terbaik untuk hidupku." Belvan bangkit dan menghampiri Flora.
"Apapun hasutan Kakak, aku tidak akan pernah goyah, sedikitpun. Jika acara ini mengganggumu, lebih baik pergi dari sini, dan jangan kembali," bisik Belvan di telinga Flora.
"Kamu akan menyesal mencintai dia, dia tidak pernah tulus mencintaimu," kata Flora dengan lirih pula.
Flora kecewa dengan Belvan yang tidak pernah mau mendengar ucapannya. "Baiklah Kakak pergi, Kakak kecewa sama kamu, kamu banyak berubah setelah mengenal wanita ini."
__ADS_1
Flora tersenyum pada Nayara, orang lain yang melihatnya pasti mengira Flora dan Nayara tak ada masalah, tapi Nayara tidak melihat cinta yang tulus dimata wanita yang betah melajang di usia tiga puluh lebih itu.
Flora meninggalkan acara, tapi dengan alasan dia ada kesibukan lain.
Belvan lega kakaknya berhenti membuat kegaduhan.
"Nay, maafkan Kak Flora." Belvan kembali meraih jemari Nayara dan memakaikan cincin berlian di jari manisnya.
Nayara diam membisu, tak ada kata yang bisa dia ucapkan. Nayara memaksa senyumnya ketika semua yang hadir tepuk tangan bersama.
Belvan mengeluarkan satu cincin polos, yang di bagian dalamnya ada inisial huruf Nayara dan Belvan. Dengan tangan gemetar, Nayara memakaikan cincin yang sama dengan miliknya itu dengan hati-hati.
Klinting!
Cincin terjatuh dari tangan Nayara. Nayara berusaha mencari.
"Nay, apa yang kamu lakukan?" Belvan terkejut ketika mendengar suara benda menggelinding.
"Maaf Belvan, aku tidak sengaja." Nayara panik dia harus jongkok mencari cincin yang terjatuh.
"Bram, ini pertanda buruk." Kata Aunty pada suaminya.
"Ya, apakah anak kita terpaksa melakukan semua ini," bisik uncle.
"Tidak mungkin, Nayara dan Belvan sudah bersama sejak lama, siapa lagi yang cocok buat putri kita kalau bukan dia." Maria sejak awal sudah menyukai Belvan. Karena Aunty Maria melihat sendiri Belvan begitu perhatian dengan anak angkatnya.
"Cincinnya belum juga ditemukan!" kata potografer yang ikut mencarinya.
"Cari yang benar, pasti akan ketemu." Belvan meminta mereka semua mencari lebih teliti lagi.
"Periksa sepatu kalian, mungkin menempel di salah satu sepatu kalian."
Semua orang memeriksa sepatu dan highhell masing-masing, dan ternyata cincin itu ada di highhell Nayara.
"Cincinnya ada di highhell, Nona"
__ADS_1
"Benarkah!" Belvan terkejut tak percaya cincin yang dicarinya malah jatuh sangat dekat dan Nayara menginjaknya.
Belvan berjongkok dan melepas highhell Nayara, raut kecewa terlihat di wajah Belvan dan Nayara bisa melihat perubahan itu.
"Maaf, aku tidak tahu, Aku tidak sengaja menginjaknya." Nayara takut Belvan dan keluarganya mengira ini sebuah tanda penolakan darinya.
"Nay, harusnya kamu sedikit hati-hati, untung cincinnya tidak rusak." Belvan mencabut cincin dari alas kaki Nayara.
"Belvan aku minta maaf." Nayara mengambil cincin dari tangan Belvan dan memeriksanya.
"Lekas pakaikan, Honey," pinta Belvan.
"Baiklah." Nayara mengangguk. Semua yang hadir lega karena cincin sudah ditemukan.
Cahaya kamera menyorot ke arah Nayara dan Belvan. Nayara kini lebih hati-hati memakaikan cincin. Akhirnya cincin yang sama tersemat di jari manis Nayara.
Setelah acara memakai cincin selesai, tepuk tangan terdengar begitu riuh. Belvan meminta Nayara menghadap kamera dan tersenyum.
Papa dan Mama Belvan memeluk mereka berdua. lalu berfoto, begitu juga Aunty dan Uncle.
"Nay, terimakasih." Belvan mengecup kening Nayara. Nayara tersenyum pada Belvan.
***
"Kenapa anda malam ini sangat gelisah, Tuan." tanya Tomi.
Tomi tahu kalau tuannya sedang tidak fokus, meski di depannya lembaran berkas dan laptop yang masih menyala.
"Aku mencemaskan Nayara, kenapa dia belum pulang juga."
"Tuan, Nona Nayara bersama Belvan, aku yakin lelaki itu tidak akan menyakitinya."
"Tetap saja aku khawatir Tomi. Belvan memiliki ambisi yang besar untuk memiliki Nayara."
Tomi duduk di depan Morgan dengan senyum-senyum tak jelas." Kalau mendengar ini semua pasti anda sangat senang. Sebenarnya Aku melihat ada cinta di wajah Nona Nayara untuk anda. Yang paling penting sekarang buat Nona Nayara ingat dengan semua masalalu kalian, setelah itu biar Nona Nayara yang putuskan."
__ADS_1