
Hari ini Nayara dan Morgan siap melangsungkan pernikahan. Kedua mempelai sudah saling cinta dan tak bisa dipisahkan lagi. Morgan juga sudah memenuhi mahar yang diminta Nayara.
Sebenarnya Morgan tahu Nayara tak serius meminta semuanya, tapi menurut Morgan tak ada salahnya jika membelikan semua itu untuk Nayara, sekaligus menebus rasa bersalahnya karena telah menikahi Briana.
Mereka berdua kini sedang berdiri berdampingan di pelaminan sambil menyalami para tamu yang datang.
"Aku belum melihat Amora? dimana dia." Nayara mencemaskan calon adik iparnya karena ijab qobul akan dilaksanakan sebentar lagi tapi sang adik belum nampak batang hidungnya.
"Pasti masih di jalan, tunggu sebentar lagi," kata Mama yang ikut mendengar kegelisahan Nayara. Calon mertua itu nampak baik dan sayang pada calon menantunya.
"Aku khawatir Mam, jangan-jangan Belvan macam-macam sama Amora."
Mama tersenyum. "Tidak mungkin, Amora tidak mudah ditindas, dia punya seribu cara untuk meladeni suaminya.
"Syukurlah," Nayara bahagia, Nayara tenang jika Amora baik-baik saja.
Selang beberapa menit, Amora datang bersama Belvan. Pengantin baru itu sama sekali tidak terlihat mesra mereka berjalan sendiri sendiri tanpa bergandengan, tapi mereka memakai baju couple. Belvan nampak memakai batik yang sama dengan Amora. hanya saja gaun Amora dikombinasi dengan kain polos yang senada, menambah kesan elegan bagi si pemakai.
"Kak Nayara ini hadiah dariku, di terima ya, Kak." Adik ipar itu nampak bahagia melihat Morgan juga bahagia, Morgan nampak gelisah di hari pernikahannya, keringat dingin terus membasahi keningnya.
"Makasi Amora," kata Nayara.
Amora nampak sangat bersemangat memberikan hadiah untuk kakak iparnya lalu dia memutar bola matanya mencari Belvan yang entah kemana. Amora kesal melihat Belvan nampak duduk sendirian.
Amora hendak menghampiri Belvan.
Amora tiba-tiba sakit kepala dan mual. "Huek huek."
"Amora kamu kenapa?" Nayara panik melihat Amora mendadak mual dan lemas. Nayara segera menghampiri Amora.
"Tidak tahu, aku tiba-tiba saja sering merasa seperti ini kak," kata Amora sambil meraih lengan Nayara. Nayara membantu Amora duduk di kursi.
"Sudah berapa hari?" Tanya Nayara lagi dengan penuh perhatian. Sudah seminggu lebih.
"Apa kamu hamil?"
"Hamil? mana mungkin hamil Kak? Kak belvan tidak pernah melakukannya tanpa pengaman.
__ADS_1
"Egois sekali dia, tapi saat malam pertama kalian Belvan sedang mabok, dia tidak memakainya, kan?"
"Oh iya, bagaimana bisa aku lupa." Amora menepuk jidatnya.
Nayara segera meminta dokter Arion untuk memeriksa Amora. Dokter Arion kebetulan baru datang bersama kekasihnya.
Novi dan Rangga juga tidak ketinggalan, mereka berdua datang bersama Andre dan Sofi.
Amora dibawa ke salah satu kamar yang kebetulan bersebelahan dengan kamar pengantin.
Belvan, Nayara, Morgan dan mama ikut masuk ke kamar untuk memastikan kondisi Nayara. Mereka belum sempat menyapa semua kawannya.
Melihat Amora sakit-sakitan, Morgan jadi berprasangka buruk, lelaki itu segera menghampiri Belvan dan menarik kerah Belvan. "Sampai terjadi luka serius dengan adikku, aku pastikan kamu akan menderita di setiap tarikan nafas mu," ancam Morgan.
"Memangnya apa yang aku lakukan pada adikmu?" Jawab Belvan enteng.
Belvan selama ini memang tidak pernah melakukan kekerasan pada Amora. gadis itu dimatanya terlalu lucu untuk disakiti. Bisa jadi Belvan merasakan saat ini mulai jatuh cinta pada Amora.
"Aku tidak percaya laki-laki sepertimu sangat pandai bermain dengan api."
"Belvan!" panggil Nayara. Dua lelaki yang sedang bersitegang itu menarik nafas dalam dalam dan pura-pura damai untuk sejenak.
"Apa yang terjadi dengan Amora?" Tanya Morgan, akan tetapi pandangan Nayara hanya tertuju pada Belvan.
"Amora hamil, usia kandungannya sudah satu bulan, Sama dengan usia pernikahan kalian."
"Hamil!" Belvan yang tadinya belum siap memiliki anak, begitu mendengar Amora hamil tiba-tiba hatinya merasakan senang.
"Amora hamil anak kamu, Belvan."
Dalam hati Belvan bergumam," Aku akan jadi ayah. Ini kabar yang sangat mengejutkan, tapi jujur aku sangat senang. Apakah artinya aku sudah menerima Amora menjadi istriku, istri kecilku yang licik."
Belvan segera berlari menemui Amora. Terlebih dahulu dia memeluk Arion yang baru selesai memeriksa istrinya.. "Dek, kamu akan jadi ayah, istrimu tengah hamil."
"Iya Kak. Aku nggak nyangka secepat ini Tuhan memberiku kepercayaan." Belvan melepas pelukannya pada sang Kakak. Dengan hati ragu mendekati Amora yang berbaring.
Nayara, Morgan dan Mama serta Papa yang baru saja bergabung otomatis mundur mereka semua menanti apa yang ingin dikatakan Belvan pada Amora.
__ADS_1
"Kak Belvan aku hamil, di dalam rahimku ada anak kita," kata Amora sambil menatap Belvan dengan tatapan lemah dan sayu.
"Benarkah itu anak kita." Belvan tersenyum lalu menggenggam jemari Amora.
"Aku berani bersumpah." Amora takut Belvan tidak mengakui bayi di kandungannya.
"Sudah, tidak perlu bersumpah, aku percaya, aku akan berusaha menjadi ayah yang baik untuk anak-anak." Belvan meraih jemari Nayara.
Amora tersenyum, hatinya sangat senang. Sedangkan Belvan menciumi tangan Amora tiada henti.
Morgan dan Nayara saling pandang. Dia sangat bahagia melihat Belvan sudah menerima Amora dan bayinya. Ternyata hanya butuh waktu satu bulan bagi Amora untuk membuktikan cintanya yang tulus pada Belvan.
Tak lama Leon dan Briana juga datang, mereka telah mengadakan pesta pernikahan dua hari yang lalu. Leon berniat menikah ulang ketika bayi di perut Briana lahir nanti Sedangkan perut Briana juga mulai terlihat membuncit. Hal yang sama tentu akan dilakukan oleh Belvan dan Amora.
***
Dua jam berlalu.
Morgan dan Nayara sudah resmi menjadi suami istri, acara ijab dan qobul telah usai di ucapkan. Kedua mempelai duduk bersanding bagai ratu dan raja, para tamu mulai menikmati hidangan mewah yang sudah disiapkan.
Morgan duduk sangat gelisah di sebelah Nayara, sesekali tatapannya terlihat jahil dan menggoda, meski ini pernikahan kedua tapi Morgan sangat bahagia serasa inilah pernikahan pertama yang begitu dinantikan. "Sayang, Belvan dan Leon ternyata sangat hebat, istri mereka sudah hamil."
"Emangnya kenapa kalau mereka hebat?" tanya Nayara yang mencium aroma iri pada diri Morgan.
"Aku tentu tidak mau tertinggal jauh dari mereka, apa nanti malam kamu sudah siap sayang." tanya Morgan sambil merengkuh pinggang Nayara
"Entahlah, aku lelah," kata Nayara sengaja membuat Morgan patah semangat.
"Eummm, Sayang kau mematahkan hatiku," kata Morgan.
"Apakah kau menikahiku hanya menginginkan itu?" Nayara tampak kesal.
"Tentu tidak sayang, baiklah aku minta maaf." Morgan menyadari kesalahannya. Nayara nampak mengerucutkan bibirnya.
Tamu undangan sudah merasa kenyang. Hidangan yang disuguhkan sangat memuaskan lidah mereka, satu persatu kerabat berpamitan.
Morgan sangat lega ketika tak ada satupun tamu yang tersisa, yang masih tinggal hanyalah mama dan papa, uncle dan aunty, mereka juga bersiap untuk pulang.
__ADS_1