
"Mereka berpelukan." Briana tak percaya suaminya datang ke sebuah tempat yang jauh dari kantor untuk bermesraan dengan sekretarisnya.
Seperti dugaan Briana, kalau kedatangan Nayara bukanlah tanpa tujuan.
Briana ingin segera mendatangi mereka, tapi takut kalau Morgan justru akan menceraikan dirinya dan memilih sekretarisnya.
Briana menangis dalam persembunyiannya. Dia segera pergi dalam keadaan kesal, marah dan dendam.
Briana juga tidak percaya kalau Morgan dan Nayara akan semakin dekat seperti hari ini. Rupanya siksaan yang diberikan pada Nayara waktu itu tidak membuatnya jera. Hadis itu masih berani dekat dengan suaminya, bahkan saat ini mereka lebih dekat lagi.
Briana turun lebih dulu, hatinya sakit seperti ditusuk ribuan jarum, tapi dia akan membuat Nayara merasakan lebih sakit daripada ini semua.
Briana memundurkan mobilnya dan menyembunyikan di balik semak. berharap Morgan tak akan tahu keberadaanya.
Tak lama Morgan dan Nayara turun mereka kembali menaiki mobil masing masing menuju kantor.
"Nayara aku tidak akan melupakan semua ini, sekretaris si*lan. Beraninya kau bersandar di dada lelaki yang sangat aku cintai, aku akan membuat wajahmu yang cantik itu menjadi sangat buruk, bahkan Morgan akan jijik melihat wajahmu," umpat Briana saat sendiri di dalam mobil. Wanita itu memilih pergi dan seolah tak melihat semuanya. Sesekali dia memukul kemudi mobil untuk melampiaskan amarahnya.
***
Briana mengadukan semuanya pada Mama Diana. Dia menangis terisak sambil duduk bersimpuh dan menyandarkan kepala di pangkuan wanita setengah baya.
"Mama, Morgan selingkuh dengan sekretarisnya," eluh Briana. Briana berharap Diana akan membantu menyelesaikan semua masalah yang tengah dihadapi, tapi tanggapan wanita itu justru diluar dugaan.
"Itu semua terjadi, karena kamu bodoh."
"Kenapa mama bilang aku bodoh?" Briana tidak mengerti.
"Ya, Andai saja kamu tidak bodoh, Morgan tidak akan selingkuh, siapa suruh menunda kehamilan! Seharusnya kamu bisa memikirkan, kalau Morgan menikahimu itu karena surat wasiat palsu dari adiktiri kamu itu, jika saat ini Morgan selingkuh dan bosan, itu karena kamu tidak mau hamil, kamu takut tubuhmu melar tapi tidak pernah memikirkan Morgan akan meninggalkanmu karena berhubungan dengan wanita sepertimu sangat membosankan. Belum lagi jika Morgan tahu scandal yang telah kau lakukan dengan Leon. Morgan pasti akan langsung menceraikan kamu."
"Mama tahu aku dan Leon dari mana?"
"Kamu kira mama buta dan tuli, Mama melihat kamu dan Leon bercumbu di balkon apartement Leon. Mama juga tahu kamu meminta laki-laki itu datang ketika mama sedang tidur di sofa. Kamu kita waktu itu mama benar-benar tidur?"
"Kenapa mama tidak melarang ku? jika mama tahu semuanya."
"Mama tidak bodoh Briana, Kamu pasti akan melawan Mama didepan Leon." kata Diana segera berdiri, membiarkan Nayara bersimpuh dan
"Siapa yang paling rugi jika aku dan Morgan berpisah? Tentunya yang paling rugi adalah Mama, karena mama tidak bisa menikmati pohon uang itu lagi." Briana kini membalas ucapan Diana yang selalu memojokkan dirinya.
"Diam! Mama tidak mau kamu lemah, kamu harus baikan dengan Morgan, dan singkirkan wanita itu!" kata Diana memberi perintah pada putrinya.
"Tapi Ma, Morgan akan membelanya, wanita itu licik."
"Dasar bodoh, lakukan semuanya tanpa Morgan tahu, kalau perlu kamu harus meminta bantuan pada pembunuh bayaran.
Briana terdiam, meminta bantuan pada pembunuh bayaran sudah dilakukan, tapi Nayara justru tidak menjauh, bahkan dia saat ini semakin dekat dengan Morgan.
Hati Briana sangat sakit diselingkuhi seperti ini, sebelum ada Nayara Morgan hanya miliknya. hanya dia yang disayangi dan satu-satunya.
Laki-laki itu selalu membuatnya puas diranjang, tapi saat ini? bahkan dia pulang dari luar negeri saja tidak menyentuhnya, dia sudah tidak menarik lagi Dimata Morgan.
__ADS_1
"Apa kau sudah dipuaskan wanita itu?!!" Briana berteriak sendiri seperti orang kesetanan ketika ibunya tidak membelanya, malah memojokkan. belum lagi sikap Morgan yang dingin.
Aku akan membuatmu merasakan Sakit Nayara, berani sekali menyentuh Morgan. Laki-laki itu hanya milikku. Siapapun tak boleh memiliki dia, kamu tidak tahu bagaimana aku menyingkirkan adik tiriku demi bisa memiliki dia."
Briana menepikan mobilnya saat pikirannya kacau. bayangan masalalu kembali terlintas di benaknya.
**
*Waktu itu Naya dan Morgan masih sama sama lucu dan polos, Usai diajak keluar kota, Morgan langsung menemui Nayara
Hai Naya aku punya hadiah untukmu.' kata Morgan kala itu*.
'Apa ini?' Nayara bingung.
'Buka saja, kamu akan tahu," kata Morgan berharap Nayara akan suka.
'Naya duduk di bangku dan sibuk membuka hadiah dari morgan.'
'Morgan hadiahnya bagus banget, aku suka.'
'Aku beli khusus untuk kamu dan tidak ada duanya.'
'Jadi toko itu hanya jual satu.'
'Aku minta papa untuk memesannya, jadi tidak dijual langsung.'
'Makasi Morgan,'
'Sama-sama Nay, kamu kan ratu aku adalah raja, seorang ratu hanya akan diberi hadiah spesial oleh raja.'
'Aku janji, selama kamu masih hidup, aku akan setia, aku akan mencintaimu. Tidak ada wanita lain yang ada di hatiku selain kamu.'
Morgan kecil sudah begitu pandai ngegombal saat bersama Naya. Dia sudah merencanakan semuanya disaat usianya masih belum boleh untuk pacaran.
*Saat itu Briana melihat Morgan memberi hadiah pada Naya. Briana juga ingin hadiah itu, Diam-diam Briana merencanakan sesuatu.
Briana mencuri hadiah itu disaat semua orang sedang lelap*.
Briana mengamati hadiah yang sangat bagus milik nayara. Kotak musik itu dia bawa pergi dari kamar Nayara dan dimainkan di kamarnya.
'Beruntung sekali anak cengeng itu dapat hadiah dari Morgan. hadiahnya terlalu bagus buat dia, yang paling pantas dapat hadiah ini seharusnya aku, aku lebih cantik dan tidak cengeng.' dari dulu Briana selalu menganggap dirinya lebih cantik dari siapapun.
Puas memainkan barang pemberian Morgan, Briana memasukkan ke dalam laci dan menguncinya.
Esok paginya, Naya mencari barang dari Morgan yang hilang. Naya sudah tahu yang mengambil pasti Briana, karena ini bukan pertama kalinya.
Dengan kesal dan mata berkaca, Naya mendatangi kamar Briana yang masih terkunci.
Naya menggedor kamar Briana sebelum semua orang bangun.
" Kamu mengambil milikku lagi kan ayo ngaku?" tuduh Naya.
__ADS_1
"Siapa yang mengambil?" Briana memasang wajah menjengkelkan.
"Siapa lagi yang sering mengambil barangku."
"Kalau aku yang ambil mau apa? kenapa kamu pelit sama saudara sendiri, lagipula kamu bisa minta lagi ke dia? atau lain kali kamu minta belikan dua, biar aku tidak perlu mengambil barangmu." kata Briana dengan kedua tangan di pinggang.
"Morgan hanya mau membelikan aku, bukan kamu. Karena dia pacar aku."
"Apa? pacar?"
"Kalian pacaran? kalau begitu aku juga mau jadi pacar dia."
"Briana kamu jahat, kenapa kamu mau ambil Morgan dariku, pacar Morgan hanya aku." Naya marah, dia mendorong tubuh Briana hingga jatuh. Naya kecil sangat posesif saat ada yang ingin mengambil Morgan darinya.
Briana bangkit dan mendorong Naya hingga menempel dinding. Briana mencakar wajah Naya dengan kukunya, Briana membenci wajah Naya yang disukai Morgan.
Naya juga tak tinggal diam, dia membalas Briana yang sangat kasar, wajah keduanya babak belur dan rambut mereka acak acakan.
Begitu Diana mendengar keributan di kamar putrinya, dia segera datang dan mulai melihat pertikaian.
Papa Naya waktu itu sedang dinas ke luar kota bersama papa Morgan, mereka tidak akan pulang dalam beberapa hari, kerja sama dan persahabatan mereka terjalin dengan sangat baik.
Diana yang mendapatkan mereka berdua bertikai, tentu marah besar. "Apa yang kamu lakukan dengan putriku?" sorot mata tajam terlihat di mata Briana dan hanya ditujukan pada Naya.
"Mama, anak jelek ini mendatangi kamarku dan dia menghajarku, lihatlah dia menarik rambutku duluan, dan berusaha terus menyakitiku." Adu Briana. Gadis itu segera memeluk ibunya.
"Kamu memang selalu cari gara gara!!"
*Plakk!
Diana menampar pipi Naya hingga membekas ke lima jarinya*.
"Ampun Tante, Briana telah mencuri hadiahku dari Morgan." Naya memegangi pipinya yang terasa seperti terbakar.
"Dasar anak tidak tahu diri!!"
"Plak!" Diana memukul wajah Naya yang satunya lagi.
"Ampun Tante."
"Mama, aku tidak mencurinya, dia menuduhku." Briana berbohong di depan ibunya.
"Benarkah begitu?!!"
"Iya Ma, aku tidak mencuri."
"Lalu siapa yang mengambilnya kalau bukan kamu?"
"Lihatlah Ma, dia terus menuduhku."Briana bersembunyi di balik tubuh ibunya.
"Dasar anak pembawa sial, kamu sepertinya harus dihukum lebih berat."
__ADS_1
Diana menarik tangan Naya. Naya tentu ketakutan karena hukuman Diana tidak pernah main-main. Diana menyeretnya ke kamar mandi dan mengguyurnya dengan air shower.
Mengikat kaki dan tangannya supaya tidak bisa bergerak, lalu Diana dan Briana pergi tanpa mematikan shower tak lupa dia juga mengunci kamar mandi, mereka keluar untuk jalan-jalan ke mall dan makan makan di restaurant mahal.