Sekretaris Nakal (Balas dendam)

Sekretaris Nakal (Balas dendam)
Memanfaatkan kesempatan


__ADS_3

Tiba di rumah sakit Nayara segera ditangani oleh dokter, Ternyata dia memang alergi udara dingin. Setelah minum obat, Nayara sudah baikan, bintik merah ditubuhnya berangsur hilang.


"Morgan makasi ya," kata Nayara.


Mereka berdua kini berada dalam mobil hendak kembali ke Villa. Morgan sering kali menatap Nayara yang samakin hari semakin membuat jatuh cinta.


Nay, berterima kasih saja tidak cukup untuk membalas semuanya," jawab Morgan.


"Morgan, apa kamu akan memanfaatkan kebaikan mu untuk memeras ku? Lalu apa yang kau inginkan?"


"Sebenarnya sangat mudah, dan kamu tidak akan rugi melakukannya."


"Iya, katakan apa yang kau inginkan supaya cukup untuk membalas perbuatan baikmu padaku.


"Yakin?" Morgan memasang wajah tidak yakin.


"Iya, aku tidak mau punya hutang jasa," jawab Nayara. Apa ingin hadiah Arloji? atau kemeja?" ujar Nayara lagi sambil memiringkan tubuhnya menghadap Morgan.


"No no no. Kali ini hadiahnya bukan sebuah barang. Baiklah, kamu harus menepati janji. Karena orang yang ingkar janji itu buruk sekali," kata Morgan.


"Ayo cepat katakan saja, aku akan belikan yang kau inginkan. Kalau bukan barang berarti makanan."


Morgan menepikan mobilnya. Nayara bingung karena Morgan berhenti tepat di depan area persawahan.


"Nay, lakukan sekarang juga."


Nayara memasang wajah bingung. tidak mengerti dengan keinginan Morgan "Apa yang kamu inginkan?" Firasat Nayara mulai tidak enak.


"Kamu cukup berterima kasih dengan satu kali mencium ku."


"Morgan!!" Nayara keberatan.


"Jangan berteriak, kau sudah berjanji. Lakukan saja sekarang."

__ADS_1


"Kau menipuku!" pekik Nayara sambil memukul bahu Morgan berkali-kali.


"Ayo lakukan cepat, cium bibirku sebagai tanda terimakasih."


"Tidak mau dan tidak akan," ujar Nayara kesal. melipat tangannya di dada, bibirnya mengerucut maju hingga terlihat sangat lucu.


"Nay, Ayolah, kamu tidak bisa ingkar, jika kamu tidak mau baiklah biar aku yang melakukannya dan kau tutup mata saja."


"Tidak mau, syarat yang lain saja. Aku akan traktir kamu dengan makan kebab Turki saja gimana?"


Bukannya Morgan setuju tapi dia malah tertawa meledek. Sehari ini Nayara sangat benci dengan tawa Morgan yang membuatnya tak tenang.


"Nay, kamu dulu paling suka jika aku punya banyak waktu seperti hari ini, kamu akan marah jika aku sibuk dengan papa dan tak sempat menelepon mu."


"Benarkah? itu pasti tidak benar. Mungkin kamu yang suka marah saat aku menolak bertemu denganmu, pemarah!" Kirana sedikit agresif dia mencubit lengan Morgan.


"Ya, aku akan pertemukan pada papa dan mama, biar kamu percaya. Papa dan Mama akan pulang satu bulan lagi dari Belanda."


Nayara hanya mengangguk, Nayara tidak ingat bagaimana kedekatan mereka dulu, apakah benar dirinya dan keluarga Morgan dulu saling dekat.


Morgan melihat Arloji di tangannya, sepertinya sebentar lagi akan ada meting dengan klien, Morgan terpaksa mengingatkan kembali tentang janji Nayara.


"Nay, gimana?" Morgan mengangkat alisnya, Nakal.


"Aku mohon Morgan, pikirkan yang lain saja, potong saja gajiku ya, aku nggak apa-apa kok."


"Nggak mau Nay, aku mau kau mencium ku sekarang."


"Tidak!" Nayara terpaksa memasang wajah kesal.


"Oke, nggak mau ya sudah, tapi jangan salahkan aku kalau aku datang ke kamar nanti malam dan menagih janji." kata Morgan sengaja mengerjai Nayara.


"Baiklah, baiklah, aku akan mencium kamu tapi lusa, kalau alergi di wajahku sudah benar-benar hilang."

__ADS_1


"Lusa, oke," kata Morgan setuju, lelaki itu mengangguk girang, dia akan sabar menunggu sampai lusa.


Morgan kembali menyalakan mesin mobilnya. Mobil Lambo*ghini itu berlahan masuk ke barisan mobil kecil lainnya.


Morgan melihat Nayara terlalu asyik dengan pemandangan sekitar, Morgan mengambil kesempatan meraih jemari Nayara dan menariknya ke pangkuan. Ada rasa nyaman yang tercipta saat Nayara tidak menarik tangannya.


Morgan tahu, berlahan Nayara mulai bisa menerima kehadiranya. Meski ingatannya belum pulih sepenuhnya.


Untuk menghilangkan keheningan di dalam mobil, Morgan menyalakan musik romantis dengan volume pelan.


Lelaki itu kembali berbicara untuk mengusir rasa xanggung. "Nay, andaikan Aku dan Belvan berada dalam bahaya, dan ada salah satu yang harus kau selamatkan, kira-kira siapa yang akan kau pilih."


"Siapa ya?" Nayara pura-pura berfikir.


"Emang kamu siap mendengar jawabannya, meski itu menyakitkan?" ujar Nayara lagi.


"Aku siap, Nay. Jawab saja jangan ragu." Morgan berusaha berlapang dada. Firasat Morgan, Nayara akan memilih Belvan.


"Jika kalian berdua dalam bahaya, aku ...."


"Sebelum bahaya itu menimpa diriku, aku akan terlebih dahulu pergi, karena kalian berdua tidak bisa bantu aku." canda Nayara. Morgan yang sudah memasang wajah tegang dia sedikit lega.


"Nay...."


"Morgan...."


"Kalian berdua sama-sama berarti dalam hidupku, jangan memintaku untuk memilih, karena aku tak bisa."


Nayara menatap Morgan dengan tatapan sendu, saat ini saja dia sudah berat melepas salah satu diantara mereka berdua. bagaimana pada akhirnya nanti.


Nayara bersandar di bahu Morgan, dia menemukan ketenangan, dan Morgan sangat senang sekali. dia sesekali mengelus rambut Nayara yang lembut.


***

__ADS_1


Hello teman-teman, aku ada karya baru nie, judulnya ( Terlambat menyadari CINTA). Sambil nunggu novel ini up. kalian bisa baca karyaku yang satunya ya, hari ini sudah up sampai dua puluh bab Lho. yuk ramein dengan komentar kalian.


__ADS_2