
Dasar perempuan tengil, aku tidak sudi menyentuh tubuhmu." Belvan hendak bangkit tapi kesulitan.
"Lalu ini apa? tangan anda lagi-lagi telah mendarat di aset berharga milikku." Amora mengerucutkan bibirnya.
"Kamu lihat aku tadi tidak sengaja."
"Tapi ini sakit, aku harus periksakan ke dokter keluarga anda, aku juga bagian dari keluarga besar anda sekarang."
"Apa, kamu ingin diperiksa oleh kakakku, Arion. Tidak tahu malu. Biarlah aku periksa."
"Jangan!!" Amora berteriak, Amora tidak akan membiarkan Belvan memeriksanya, bagaimanapun dia masih ingat bisikan Nayara waktu itu kalau pernikahan mereka perlu diulang.
Belvan lalu bangkit. "Sejak menikahimu hidupku selalu sial, perutku lapar, kau tidak memasak, mau belanja saja harus ini dan itu, kamu pasti ingin aku mati," omel Belvan.
Amora tidak menghiraukan ocehan suaminya, dia segera merapikan diri dan memakai baju santai. "Kunci mobil mana?"
"Apa? kamu mau pakai mobilku, aku tidak mengizinkan. Bagaimana kalau kamu bawa kabur."
Amora hanya bisa menarik nafas panjang, dia tahu pasti Belvan sengaja menguji kesabarannya.
Amora datang ke sebuah minimarket yang berjualan sayuran lengkap. Bingung ingin masak apa. Akhirnya dia memilih membeli ayam setengah kilo sama telur setengah kilo, tempe dua papan, dan sayur bayam.
'Sepertinya belanja ini sudah cukup, salah siapa, tidak kasih aku uang belanja. Pelit banget," sungut Nayara sambil melangkahkan kaki melenggang pulang.
Belvan sejak tadi melihat Nayara belanja dari jendela kaca. Belvan puas sudah membuat adik Morgan menderita dan menjadikan seperti seorang pelayan.
__ADS_1
Belvan segera pergi dari dekat jendela ketika melihat Amora sudah balik. Dia memutuskan untuk mandi dan berharap saat menikmati masakan Amora nanti tubuhnya sudah kembali fresh.
Tring!
Ponsel Belvan berdering.
"Ada apa, Nay?" tanya Belvan terlihat menahan amarah dan dingin.
"Belvan, apakah kamu marah padaku?"
"Marah? kamu pikir aku harus apa Nay?"
"Belvan, aku tidak bermaksud untuk pergi. Aku hanya tidak ingin pernikahan ini terjadi. Kamu tetaplah sahabatku."
Tut!
"Belvan, jangan tutup dulu," Nayara kesal dengan Belvan, tapi sesungguhnya yang lebih membuat Nayara khawatir adalah kondisi Amora. Bagaimana kalau Amora disakiti oleh Belvan.
Nayara segera menelepon Amora yang baru kembali dari belanja. Dia bertanya pada Amora tentang sikap Belvan saat bersamanya.
"Amora, apakah Belvan menyakitimu."
"Tidak Kakak, bagaimana dia bisa menyakiti wanita kuat sepertiku? aku pasti akan membalasnya."
"Amora segera kabari aku jika Belvan macam macam."
__ADS_1
"Kak Nayara jangan khawatir, Sekarang lebih baik fokus saja pada Kak Morgan, Kak Morgan sudah nggak sabar pengen menikah dan punya anak bersama Kak Naya."
"Anak! Kamu ini suka bercanda Amora, Aku dan Kak Morgan beberapa hari ini hanya mencemaskan kamu. Kita belum memikirkan apapun."
"Kakak kenapa buang-buang waktu memikirkan aku, sudahlah, Kak Belvan bisa ku atasi, lagi pula aku mencintainya, tak ada yang lebih indah yang kita rasakan selain bersama orang yang kita cintai."
"Amora aku nggak nyangka kamu bisa setulus itu mencintai Belvan. terimakasih ya."
"Sama-sama Kak."
"Amoraaaa!! Mana sarapan untukku?" teriak Belvan. Lelaki itu tidak berhenti menindas Amora dengan banyak pekerjaan. Setelah menyuruhnya belanja dengan jalan kaki, sekarang memintanya untuk memasak.
"Kak Naya, sudah dulu ya, aku mau masakin suami dulu. aku yakin kalau aku lulus tes, kak Belvan akan sangat mencintaiku."
"Baiklah Amora, segera kabari Kakak, kalau Belvan berani bertindak bodoh atau menyakitimu."
"Siap, Kak."
Panggilan Amora dan Nayara segera berakhir. Nayara lega ternyata Amora gadis tangguh yang tak bisa di remehkan.
Amora segera mengikat rambutnya tinggi dan mulai melepas cardigan yang digunakan untuk menutupi tangtop nya saat belanja tadi.
Saat memasak pun Amora tak lepas dari baju seksi yang memamerkan kulit putihnya.
Amora menoleh ke belakang, dia tahu Belvan sedang mengawasinya. Amora semakin menunjukkan kepiawaiannya dalam menggoda.
__ADS_1