
Malam ini Nayara melewati makan malam bersama morgan, dengan tak banyak bicara. Hanya sesekali denting pelan terdengar dari piring keduanya.
"Nay, nggak enak ya?"
"Enak kok, Pak."
"Atau jangan-jangan kamu sakit." Morgan sudah panik melihat Nayara malas makan.
Lelaki itu segera berdiri dan menyentuh kening Nayara. Morgan lega ternyata Nayara baik-baik saja.
"Aku baik baik saja." Nayara meyakinkan Morgan.
"Oh iya, kamu baik-baik saja."
Nayara tersenyum. "Aku bukan anda yang mudah sakit."
"Aku juga sudah lama tidak sakit, yang kemaren itu karena aku terlalu memikirkan mu.
Morgan kembali menunjukkan Nayara sesuatu. Kalung liontin yang terdapat nama mereka berdua.
"Nay, aku ada sesuatu untukmu."
"Apa, Pak." Nayara melihat Morgan mengeluarkan sesuatu dari sakunya.
"Nay, aku tidak mau memaksa kamu untuk ingat masalalu kita, tapi aku berharap kamu bisa mengingat dengan pelan karena dalam masalalu kita ada sebuah kenangan yang sangat indah."
"Masa lalu bukanlah hal yang sudah terlewat dan tak mungkin kita kembali lagi." Nayara menolak mengingat karena jika dipaksa kepalanya akan sakit dan kembali ketergantungan dengan obat.
Nayara mengambil kalung liontin dari tangan Reyhan. bentuknya sederhana dan terlihat sekali modelnya sudah lawas.
"Itu dulu milik kamu, dan aku menemukannya ketika baru menikahi Briana. Aku mengambil dan menyimpannya.
Nayara menatap Liontin di tangannya, benar kata Morgan di dalam liontin itu ada ukiran nama mereka berdua.
"Aku tidak pernah ingat memiliki benda ini." jujur Nayara. Morgan bisa tahu Nayara suka sekali bentuknya yang unik.
"Kamu simpan lagi saja, dulu kamu memang suka sekali dengan benda itu."
"Benarkah!" Mata Nayara berbinar.
"Hem, aku tidak bohong," jawab Morgan.
"Jika ingin memakainya, aku bisa membantu," kata Morgan.
"Nanti saja, aku akan memakainya saat aku ingin nanti."
"Baiklah." Morgan setuju dan melanjutkan makannya.
Saat makan malam selesai Nayara pamit ke kamar mandi.
__ADS_1
Nayara pamit pada Morgan dan meninggalkan ponselnya.
Ponsel gadis itu berdering. Morgan berusaha mengabaikan tapi terus berdering.
Morgan akhirnya penasaran dan melihat siapa yang memanggilnya.
"Belvan!" Morgan kesal kenapa lelaki itu selalu mengganggu momen bahagianya.
Morgan akhirnya kembali mengabaikan ponsel Nayara. lelaki itu senang Belvan akhirnya lelah sendiri. Morgan yakin Belvan saat ini pasti sedang kesal karena panggilannya tidak mendapat tanggapan.
Tak lama Belvan mengirim pesan pada Nayara, kalau dia sudah menunggunya di parkiran. Morgan bisa membaca pesan Belvan karena tertera di layar, meski tanpa dibuka kuncinya terlebih dahulu.
Morgan tidak rela jika Nayara pulang cepat karena tahu belvan sudah menunggu.
"Maafkan aku Nay, aku tidak mau Belvan mengganggu malam indah kita." Morgan menyembunyikan ponsel Nayara untuk sementara waktu, dia meminta Tomi untuk menyimpannya sementara di sakunya dan pergi menjauh. Morgan berharap malam ini dia bisa lebih lama bersama Nayara.
Usai dari kamar mandi Nayara berjalan keluar dengan tergopoh.
Morgan yang setia menunggunya tersenyum menyambut Nayara.
"Maaf Pak, harus menunggu lama."
"Tidak masalah, apa sekarang sudah enakan?"
"Iya sudah." Nayara tersenyum malu.
"Em tidak bisa, aku bawa mobil sendiri."
"Biar Tomi aja yang bawa mobil kamu."
"Ah,terlalu merepotkan."
"Nay, sudah ku bilang, aku tidak akan merasa direpotkan." Morgan meminta Nayara dengan suara sedikit memohon.
Akhirnya Nayara setuju, lagi pula dia juga mengantuk dan lelah.
Morgan mengajak Nayara ke parkir, Lelaki itu lebih dulu melihat Belvan sehingga bisa lewat jalan dimana tidak bertemu Belvan.
Nayara yang tidak tahu apa-apa sama sekali tidak curiga kalau Belvan menjemputnya untuk bertemu dengan keluarganya lagi. Belvan lupa memberi tahu Nayara kalau malam ini ulang tahun kak Flo.
Nayara pulang bersama Morgan, Morgan malam ini sangat bahagia karena berhasil mengerjai Belvan dan memenangkan waktu paling lama bersama Nayara.
***
Belvan merasa waktu pulang sudah tiba, Akan tetapi sosok Nayara tidak terlihat juga. Wanita itu juga tidak membaca pesannya.
Belvan memilih langsung datang ke apartement Nayara, akan tetapi justru di melihat wanita itu turun bersama Morgan,
Belvan tahu mereka telah satu mobil dan Tomi memakai mobil Nayara, sopir itu berhenti tepat di belakang mobil Morgan.
__ADS_1
Nayara, melihat Morgan menggandeng tangannya masuk apartement, terlihat tak ada penolakan sama sekali dari wanita itu.
'Nay, kenapa aku merasakan kalau kamu tidak sedikitpun menaruh kebencian pada Morgan, justru kamu terlihat mulai menyukai lelaki itu.' batin Belvan.
"Nayara dan Morgan masuk apartement, Morgan sangat bandel disuruh pulang masih saja kekeuh ingin bermain-main dulu.
Belvan yang kecewa karena Nayara tidak menerima panggilannya, mengekor dibelakang dua orang yang statusnya sebagai atasan dan bawahan itu. Mereka bertiga akhirnya bertemu dalam satu lift.
Entah Tomi ada dimana, mungkin ada di lift lain.
"Belvan! kenapa kau tidak bilang kalau akan datang."
"Bagaimana kau bisa tahu, kamu terlalu sibuk," jawab Belvan sambil menatap Morgan sekilas.
"Van, maaf aku tidak tahu kamu akan datang. aku belum sempat melihat ponsel."
"Belum sempat karena terlalu sibuk." jawab Belvan lagi. Diwajahnya terlihat sekali lelaki itu sedang cemburu.
"Van ... Maaf," Nayara meraih tangan kanan Belvan dan menggenggam dengan kedua tangannya.
Sedangkan Morgan berusaha menahan rasa cemburu yang tiba-tiba memenuhi ruang dada.
"Belvan, tidak usah berlebihan, Aku dan Nayara hanya makan malam, dan saat kamu meneleponnya Nayara ada di toilet."
"Ponselnya sekarang asa padaku, karena Nayara tadi melupakannya saat kami pulang."
Belvan tentu saja merasakan keganjilan, pasti Morgan sengaja tidak memberi tahu Nayara.
"Pak, biar aku lihat panggilan Belvan."
Nayara segera mengambil ponsel dari tangan Morgan. dia membaca semua pesan dari Belvan. Nayara kembali merasa bersalah, dia benar benar tidak tahu kalau Belvan telah menjemputnya. Lelaki itu mengajak jalan-jalan bersama keluarga ke bioskop.
"Belvan, apakah sekarang sudah terlambat?"
"Kalian akan kemana?" tanya Morgan, lelaki itu curiga kalau mereka akan pergi berdua.
"Aku mengajak nayara pergi ke bioskop." Belvan yang menjawab pertanyaan Morgan.
"Nay, bukannya aku melarang kamu pergi dengan Belvan, tapi ingat ini sudah larut malam, kamu harus istirahat."
"Pak, aku sepertinya harus tetap pergi. Apalagi ini keluarga Belvan yang meminta. Aku tidak mungkin mengecewakan mereka."
"Besok kita akan perjalanan jauh, aku tidak mau saat bertemu klien kamu akan mengantuk." Morgan kehabisan cara.
"Nay, apa benar kata Dia? kamu lelah?" Belvan menyibak rambut Nayara, menatap wajah wanita yang begitu dia sukai.
"Belvan, keluargamu lebih penting, jangan sampai kecewakan dia."
Tak terasa mereka sudah tiba di apartement Nayara, karena Nayara akan pergi lagi Morgan memilih pamit pulang. Meski dalam lubuk hati terdalam, Morgan tak rela membiarkan mereka pergi bersama.
__ADS_1