
Morgan benar-benar sakit, asam lambungnya naik, badannya juga panas.
"Tuan, anda harus diinfus, tubuh anda pucat." Tomi lagi-lagi mengingatkan
"Bagaimana aku bisa berbaring di bangsal dengan tenang, jika aku sampai saat ini belum menemukan Nayara."
"Kesehatan anda juga penting, Tuan."
"Cuaca buruk begini dia sangat takut dengan angin dan petir." Di dalam mobil, Morgan terus menatap pada alam yang seakan terus mengamuk, apalagi mereka kini tengah ada di hutan. Morgan ingat betul bagaimana Nayara ketakutan saat guntur dan kilat bersahutan ketika mereka berdua terjebak di kantor di malam itu.
"Tuan, pedulikan juga diri anda." Tomi jadi kasian dengan Morgan yang terus mengkhawatirkan Nayara, hingga nafsunya pada minuman dan makanan pun tak ada lagi. Seharian ini Morgan sama sekali tidak memasukkan apapun ke perutnya.
"Tuan, bukanlah anda bilang Nayara ada bersama Belvan. kenapa tidak anda hubungi dia saja."
"Kamu benar, Aku harus segera hubungi Belvan." Morgan segera merogoh ponselnya di saku jas. Lelaki diseberang sepertinya sangat sibuk hingga panggilan Morgan diabaikan.
"Bagaimana Pak?"
"Melihat waktu panggilan terakhirnya sudah beberapa jam lalu sepertinya dia memang tidak sedang membawa ponsel."
Tanpa Morgan tahu Belvan memang mengabaikan panggilannya karena dia sedang sibuk, Belvan juga tidak mau Morgan tahu Nayara bersamanya karena besar kemungkinan Briana juga akan mengekor kemanapun Morgan pergi.
"Kita temui Belvan, dia sepertinya sengaja ingin membuat jarak aku dan Nayara, Belvan tak ingin aku bertemu dengan Nayara," tebak Morgan sambil menggenggam ponselnya.
"Baiklah, Tuan."
Diperjalanan, Morgan tak pernah tenang, satu-satunya yang menghibur dirinya adalah dengan menatap foto Nayara ketika di Jepang. Morgan sempat mencuri foto Nayara saat gadis itu tengah meregangkan otot-ototnya di balkon sbil menggunakan gaun tidurnya berbahan satin saat di apartement, wajahnya imut dan natural meski tanpa makeup tebal.
Sudut bibir Morgan terangkat, dia mengingat sosok Naya kekasih kecilnya, tanpa sadar bibirnya bergumam. "Kau semakin terlihat seperti Naya kecilku, kenapa aku tidak berusaha mencari identitas dirimu yang sesungguhnya."
Saat mendongak, Morgan terkejut melihat mobil sudah berhenti di depan rumah sakit X.
Morgan kesal dengan Tomi yang terus memaksanya untuk menambah cairan tubuh karena tubuhnya pucat dan lemas.
"Tomiii!" pekik Morgan.
"Maaf Tuan aku melakukannya demi kebaikan anda."
"Morgan terpaksa kali ini menurut pada Tomi, lelaki yang menjadi sopirnya bertahun-tahun.
Tomi terlihat masuk lebih dulu, tentu dia meminta pihak rumah sakit untuk segera bisa bertemu dokter tanpa melewati antrian panjang. Tomi mengatakan kalau majikannya sedang membutuhkan perawatan secepatnya.
__ADS_1
"Tuan, mari masuk, kita langsung temui dokternya."
Morgan dapat pelayanan kelas VVIP, para CEO tentu tidak mau bersusah payah untuk antri.
Dokter Arion yang sedang berdua dengan Nayara, tiba-tiba mendapat telepon dari pihak informan kalau sedang ada tamu spesial seorang CEO yang ingin ditangani langsung olehnya.
Morgan diperintahkan masuk oleh perawat, sedangkan Arion masuk ke ruang prakteknya lewat pintu belakang.
Arion terkejut melihat yang datang adalah Morgan. Tetapi Morgan tetap santai, karena dia sudah membaca papan nama yang tertulis di bawah pintu tadi.
.
"Kukira lelaki seperti anda tak akan pernah sakit!" ujar Arion sambil memeriksa tensi darah Morgan.
"Aku tidak sakit, aku hanya sedang kecewa pada diri sendiri." Usai diperiksa, tensi darahnya ternyata turun drastis, Morgan diminta untuk berbaring.
"Sama saja, akhirnya kamu menyiksa diri dan sakit." kata Arion yang kini menekan perut Morgan. Arion seperti punya dendam kesumat pada Morgan dan lelaki itu ingin menunjukkannya.
Morgan memekik, "sial, kau sepertinya memanfaatkan kesempatan ini untuk menyiksaku. kalua bukan Tomi memaksa. pasti aku akan meminta dokter pribadiku yang merawat.
-
-
Tomi tertarik untuk melihat lebih dekat, perawat yang masuk juga nampak memakai seragam yang berbeda, kecantikan para perawat membuat jiwa Tomi ingin melihat lebih dekat.
Tomi mengintip pada kamar spesial itu, Alangkah terkejut Tomi melihat Nayara tengah berbaring lemah, wanita itu nampak disuapi oleh perawat.
"Tuan harus segera tahu kalau Nayara ada disini."
Morgan yang sedang diberi infus penambah cairan tubuh nampak terus mencoba menghubungi anak buahnya, menanyakan perkembangan tentang pencarian Nayara.
Tidak tahunya Tomi dari luar sudah membawa informasi penting.
"Tuan, aku melihat Nayara," bisik Tomi, lelaki itu tidak mau mengundur waktu sedikitpun dalam memberi informasi.
"Dimana Tomi?" Morgan segera bangkit dari ranjang dengan mata berbinar. " Bagaimana kondisinya? apakah dia baik-baik saja?"
"Tidak Tuan, Nayara terluka parah, sekujur tubuhnya terdapat luka.
"Benarkah Tomi? Antar aku pada dia Tomi, aku ingin tahu kondisinya sekarang." Morgan tak sabar, dia segera turun dari brankar.
__ADS_1
"Baik Tuan."
"Morgan dengan tak sabar, bergegas mendatangi tempat Nayara dirawat. Morgan ingin memeluk tubuh mungil Nayara dan mendekapnya sangat lama.
"Tok! tok!"
"Nona ada tamu, apakah anda ada janji dengan seseorang."
"Tidak suster, katakan aku tidak mau menerima tamu siapapun, kecuali Belvan," kata Nayara menolak dengan tegas, Nayara tidak mau bertemu siapapun, dia juga khawatir jika yang datang orang suruhan Briana.
Suster menyampaikan yang dikatakan Nayara pada Morgan dan Tomi."
"Maaf Tuan, Nona tidak mau bertemu dengan siapapun, kecuali tuan Belvan." Dengan polosnya suster mengatakan semuanya.
"Benarkah dia berkata seperti itu." Entah kenapa hati Morgan mendadak sensitif mendengar kalimat kalau Nayara hanya mau bertemu dengan Belvan.
Morgan duduk di bangku panjang di taman, seperti lelaki pecundang. Dia merasa kalau Nayara hanya butuh Belvan. Hanya Belvan yang paling berarti dalam hidupnya.
Morgan tidak sadar kalau dia pernah menolak Nayara, dia pernah berkata kalau akan selalu menjaga keutuhan rumah tangganya.
"Tomi, Nayara marah padaku." kata Morgan gelisah.
"Tidak mungkin,Tuan. Nona Nayara tidak mungkin marah, jika tahu anda sudah berjuang keras mencarinya. Bahkan sekarang anda sakit karena memikirkan dia."
"Kau pasti hanya ingin menenangkan aku saja Tomi," Morgan nampak memejamkan mata berkali-kali dan menarik nafasnya panjang.
"Apakah Nayara memungkinkan untuk di dorong di kursi roda," tanya Morgan.
"Iya Tuan, sepertinya bisa kalau dilakukan dengan hati-hati
Morgan akhirnya menuliskan sebuah surat dan meminta perawat untuk memberikan pada Nayara, Morgan mengatakan kalau dia menunggu di taman.
Morgan sengaja tidak ingin memaksa masuk, hanya karena sebuah alasan, dia ingin tahu apakah kehadirannya berarti untuk sekretarisnya itu.
Sudah satu jam Morgan menunggu, tapi Nayara tak kunjung keluar. Morgan akhirnya tahu kalau Nayara benar-benar hanya ingin ditemui Belvan karena lelaki itu yang lebih dulu menyelamatkannya.
Tomi, sebaiknya kita masuk Nayara sepertinya tidak akan datang."
"Iya, Tuan. udara luar kurang baik dengan kondisi tubuh anda.
Di balik pohon Nayara tersenyum, Nayara sebenarnya sengaja membuat Morgan menunggu, Nayara semakin semangat melihat Morgan semakin merindukan dirinya. Wanita itu bisa tahu, secara tidak langsung Morgan sudah mulai membutuhkan hadirnya, mungkin bukan hanya sebagai sekretaris, tapi juga sebagai orang yang diinginkan.
__ADS_1