
"Kamu masih yakin ingin menikahi gadis itu?" Kata Flora saat menghubungi Belvan.
Flora saat ini sedang makan malam di sebuah restaurant, dia sebenarnya ada pertemuan dengan klien, tidak ada niatan untuk membuntuti Nayara dan Morgan, hanya saja kebetulan mereka bertemu. dan kesibukan Flora bertambah saat melihat mereka bersama, Flora ingin tahu seberapa dekat Nayara dan Morgan, sampai sampai wanita itu menyewa Villa didekat Villa yang ditinggali Morgan.
"Kakak sepertinya terlalu ikut campur urusan Belvan." jawab Belvan kurang suka, nada suara belvan tak seperti biasanya saat bicara dengannya yang penuh kasih sayang.
"Kakak begini karena kakak sayang sama kamu. Harusnya kamu percaya sama Kakak. sejak awal Kakak sudah merasakan kalau cinta Nayara tidak tulus." kata Flora sambil mengaduk aduk minuman yang dia pesan.
Sedangkan Belvan sangat sibuk dengan pekerjaannya di kantor. "Kak, bisa nggak jangan berprasangka buruk, lagian Nayara berada disana sekarang karena sebuah pekerjaan, tak pantas jika aku terus curiga dan berprasangka buruk."
"Okey, good. kamu memang adikku yang paling baik. paling pengertian, paling penyayang. Tapi percayalah padaku suatu saat kamu akan menyesal." Flora menutup panggilannya, sebelum Belvan kembali menjawab.
"Gila, sebenarnya pakai mantra apa si Nayara itu sampai sampai Belvan begitu percayanya." Gerutu Flora.
"Kamu jahat banget sih Flo, sama pacar adik Lo." protes sahabat Flora.
"Dia adik aku satu-satunya, yang pantas dapatin dia adalah wanita baik-baik, bukan wanita murahan semacam Nay. Sejak awal bertemu, Belvan sudah perlakukan seperti ratu, aku khawatir adikku akan dikuasai dia."
"Ya. itu artinya kamu cemburu, adikmu dimiliki wanita lain, kamu nggak rela kalau ada wanita yang lebih diperhatikan daripada kakaknya. Lucu banget sih kamu Flo." Sahabat Flora tertawa geli melihat Flora yang terlalu ikut campur. Tapi Flora tidak peduli, baginya Nayara tidak pantas untuk Belvan.
"Terserah kamu, tapi aku kasihan aja sama adik kamu, kalau sampai cintanya kandas."
"Adik gue akan bersyukur karena memiliki kakak yang baik seperti gue."
"Entahlah, terserah kamu, Flo. Kalau saran aku jangan terlalu ikut campur," ujar Selly.
"Maaf aku tak bisa sesantai itu, aku nggak mau kalau Belvan, adikku satu-satunya tidak bahagia dalam pernikahannya.
"Ya, udah jika kamu tahu yang paling bisa bikin buat adik kamu bahagia, good." Sepertinya Shelly juga malas berdebat. dia memilih untuk mengakhiri obrolannya. "Tapi ingat baik buat kamu belum tentu baik buat adik kamu."
***
__ADS_1
Malam telah tiba, udara di villa menjadi begitu dingin menusuk kulit. Nayara tidur di kamar dan Morgan tidur di ruang tamu bersama Tomi.
Tiba-tiba tubuh Nayara panas dan keluar bintik-bintik merah.
Nayara terkejut melihat tubuhnya sendiri yang demikian menggelikan.
"Apa yang terjadi dengan tubuhku?"
"Nayara melihat dirinya di cermin dia sangat malu kalau sampai Morgan melihatnya."
"Pagi hari Nayara tidak keluar sama sekali. Morgan awalnya mengira Nayara bangun kesiangan. Lelaki itu ke dapur terlebih dulu, membuat teh untuk Nayara dan kopi untuk diri sendiri.
Tomi, kamu bikin sendiri ya," kata Morgan.
"Siap Tuan." Tomi yang baru saja mandi dia ikut ke dapur untuk membuat kopi.
"Apakah Nayara belum bangun?" Morgan bertanya pada Tomi.
Begitu Tomi mengatakan Nayara kurang enak badan, Morgan segera menghampiri kamar Nayara. "Nay buka pintunya aku mau bicara."
"Bicara saja, aku akan mendengarnya." Nayara mendekati pintu berharap Morgan akan tenang hanya dengan berbicara meski terhalang oleh pintu.
"Nay, buka pintunya. Apa benar kamu kurang enak badan?"
"Ya, aku kurang enak badan, sebaiknya kita berbicara seperti ini dulu, aku sudah mendengar kalimat anda dengan jelas.
"Jadi benar kata Tomi kalau kamu sedang kurang enak badan." Morgan bukannya diam di luar pintu, justru ingin cepat masuk dan melihat kondisi Nayara. "Buka pintunya, atau aku akan masuk dengan caraku sendiri."
"Jangan, aku tidak ingin bertemu denganmu sekarang, aku mohon mengertilah." Nayara berusaha meyakinkan Morgan kalau dia akan baik-baik saja.
Morgan bukannya tenang dengan sikap Nayara yang demikian aneh, dia justru semakin panik. Morgan yakin Nayara sedang dalam masalah hingga tak kunjung keluar kamar.
__ADS_1
Morgan membuka kunci kamar Nayara dengan kunci serep yang selalu dia simpan. Setelah berhasil Nayara sangat malu melihat Morgan ada di depannya dengan raut khawatir.
"Nay, apa yang terjadi? Kenapa wajahmu?" Morgan terkejut melihat wajah Nayara seperti habis dikeroyok ulat bulu
"Sudah ku bilang, jangan masuk aku sedang dalam kondisi buruk."
"Nay, kamu!" Morgan menahan tawa. pada saat itu wajahnya sangat manis dan lesung pipinya terlihat.
"Jangan mendekat!" Nayara kesal dengan ekspresi wajah Morgan yang menertawakannya.
Dengan nada ketus Nayara mengingatkan Direkturnya. "Kamu akan tertular, cepat keluar!" Nayara terus menjauh tidak mau disentuh oleh Morgan.
Morgan menggeleng. Aku tidak takut tertular, biar aku lihat itu penyakit apa?" Morgan menarik lengan Nayara dan mendorongnya ke dinding. Morgan menyingkap rambut sedikit bergelombang berwarna pirang itu.
Nayara ingin memberontak tapi Morgan justru merapatkan tubuhnya. "Diam biar aku lihat."
"Nanti kamu tertular, klien akan menertawakan mu saat metting nanti."
"Tidak apa, biar kamu tidak sendiri, " jawab Morgan.
Nayara tersenyum sambil menatap Morgan. Morgan membalas tatapan Nayara dengan wajah berseri. "Kita ke dokter sekarang. Kamu hanya Alergi udara dingin."
"Baiklah." Nayara beranjak, tapi morgan menghadang di pintu sambil jongkok.
Nayara tidak ada pilihan selain dia menempelkan tubuhnya di punggung Morgan. Lelaki itu menggendongnya ke mobil.
Tomi hanya bisa menyaksikan Tuannya yang sedang bucin, sambil menikmati kopi hangat buatannya sendiri.
Tomi diam-diam membayangkan jodohnya yang tidak kunjung datang. Andaikan dia memiliki kekasih, pasti semangat bekerja akan berlipat-lipat.
Morgan menurunkan Nayara ketika sudah tiba di mobil. Morgan tidak mengajak Tomi saat pergi ke dokter, Lelaki itu ingin lebih sering berdua saja bersama sang pujaan hati.
__ADS_1