
"Kamu sejak tadi diam aja Nay? apa kata-kata Kak Flora ada yang nyakitin kamu?"
"Enggak kok, cuma ngantuk aja."
"Tapi kamu nggak biasa kek gini."
"Kak Flora itu sayang banget sama kamu, jadi dia nggak mau kamu sampai salah pilih pendamping nanti."
"Dia bilang gitu ke kamu?"
"Iya."
"Jangan salah paham ya, Kak Flora memang ada trauma. lelaki yang dicintainya meninggalkan dia. Entah kenapa dia sulit sekali melupakan kejadian itu."
"Belvan, kamu mulai hari ini jangan terlalu sering kasih hadiah ke aku."
"Hadiah apa sih Nay, kan cuma hadiah kecil ya wajarlah aku juga dapat tender."
"Tapi aku jadi kayak matre Belvan, aku seperti temenan sama kamu karena ada maunya aja," kata Nayara dengan wajah kesal.
"Nay, aku mau kamu nggak usah masukin ke hati apapun yang sudah kak Flora ucapkan. Tidak semua orang sama kayak mantan pacarnya."
"Santai aja Belvan, kamu kayak baru kenal aku aja."
Tiba di lampu merah Belvan menghentikan mobilnya. Sebelum lampu hijau nyala kembali Belvan menggenggam tangan Nayara dan berniat mengecupnya.
"Belvan!" Nayara memekik. Menarik tangannya dari genggaman Belvan. Ada anak kecil sedang meminta-minta.
Akhirnya Belvan urung melanjutkan niat kotor yang terlintas dipikirannya, dia memilih memasangkan sabuk pengaman.
Nayara memberikan uang recehan pada anak kecil dan coklat yang kebetulan ia simpan di tas. " Hai anak manis, kamu nggak pulang untuk tidur."
"Setelah ini saya akan pulang, Tante."
"Baiklah ini buat uang saku sekolah besok ya." Nayara memberi satu lembar uang seratus ribu.
"Makasi Tante." Bocah kecil itu segera berlari meninggalkan lampu merah, mungkin merasa dia harus istirahat.
"Nay, kamu baik banget."
"Dalam uang yang aku miliki, berarti ada rezeki dia." jawab Nayara enteng. Belvan lalu melajukan mobilnya kembali setelah lampu berubah hijau.
Tiga puluh menit mereka sudah sampai di basement, Belvan turun dengan cepat dan membuka pintu untuk Nayara.
Nayara segera turun begitu pintu sudah terbuka.
__ADS_1
"Belvan, kamu sepertinya harus balik cepat, aku nggak mau Kak Flora menunggumu lama."
"Nggak apa aku antar sampai apartement kamu."
"Nggak perlu, Belvan."
"Nay aku tadi jemput kamu di pintu itu, jadi aku harus antar kamu sampai pintu itu juga."
"Terserah kamu, tapi kalau kak Flo marah lagi sama kamu, aku nggak mau tahu.
"Kak Flo lagi yang kamu pikirin." Belvan tertawa.
Belvan menatap Nayara dengan jarak sangat dekat begitu mereka tiba di lift dan hanya berdua saja.
Belvan mengambil kedua tangan Nayara dan mendorong tubuh wanita yang ada di depannya hingga menempel dinding.
"Belvan!" Nayara tak mampu berucap, hanya satu kata yang keluar yaitu nama Belvan.
Belvan tersenyum ketika namanya di panggil, dia mendekatkan bibirnya ke wajah Nayara. Belvan mencium pipi Nayara.
Nayara memejamkan mata berusaha untuk menerima perlakuan lembut Belvan.
"Nay besok aku jemput, kalau mau ke kantor." Usai mengecup lembut pipi Nayara, Belvan membelai rambut wanita yang dianggap kekasihnya dengan lembut. Belvan tidak butuh balasan dari Nayara, dia akan selalu bahagia bisa bersama seperti hari ini.
"Belvan kamu mulai mesum."
Nayara dan Belvan keluar lift bersama, dengan tangan bergandengan, mereka berpisah ketika berada di depan pintu apartemen.
"Sudah malam banget, kamu nggak usah masuk ya? aku ngantuk."
"Iya, iya, aku langsung pulang." Belvan ingin mengecup kening Nayara lagi tapi gadis itu segera menghindar.
***
Pagi buta Nayara bersiap ke kantor Belvan batal menjemput karena kakaknya minta diantar ke dokter.
Nayara menanggapi dengan santai, lagi pula dia bisa datang ke kantor sendiri dengan mobilnya.
Nayara ke kantor pagi ini dengan naik mobil matic miliknya, dia mengendarai dengan pelan dan hati-hati.
Saat di jalan tak sengaja bertemu Morgan, mobil mereka nampak beriringan.
Morgan memberi kode dengan menggunakan lampu sen agar mobil Nayara mengikuti mobilnya dan mereka belok ke sebuah tempat.
Morgan tersenyum kala Nayara bisa membaca kode yang diberikan.
__ADS_1
"Pak kenapa anda ajak aku kesini." Nayara segera keluar mobil dengan wajah bingung, dia bertanya pada Morgan akan tetapi lelaki itu menjawab dengan jawaban ambigu.
Ikut saja, aku ingin memberi tahu kamu sesuatu. Mereka berdua naik disebuah bukit yang menurut Morgan itu tempat mereka menghabiskan waktu di hari libur dahulu.
Morgan merasa jalan Nayara sangat pelan, wanita itu ragu untuk ikut naik, Morgan akhirnya menarik tangan Nayara dan menapaki tangga pelan-pelan.
"Nay, coba kamu lihat sekeliling tempat ini, apa kamu ingat?"
"Tempat apa ini? aku tidak ingat. Pak apa yang akan kita lakukan disini, kita harus ke kantor sekarang, apa kata karyawan lain kalau kita terlambat."
"Nay, jangan risaukan mereka, apa yang ingin aku katakan lebih penting dari semuanya."
Nayara semakin tidak mengerti. "Apa yang ingin anda katakan?"
"Nay aku tahu kamu sebenarnya hilang ingatan karena kecelakaan itu, dan sekarang saatnya kamu tahu semuanya." Morgan berhenti ketika sudah sampai puncak.
"Apa yang harus aku ketahui, Pak?" Nayara masih bingung.
"Nay, kita sebenarnya sudah saling mencintai sejak kecil, dan keluarga kita juga bersahabat." Morgan sedikit membungkuk sambil memegang kedua bahu Nayara dan menatap bola mata indah nan bulu lentik itu hingga nyaris tanpa berkedip.
"Tidak mungkin, anda pasti bercanda," jawab Nayara.
"Kamu tidak percaya, lihatlah foto ini?" Morgan menunjukkan foto mereka berdua beserta keluarganya.
Nayara menggeleng. Jika dia mengakui itu dirinya otomatis identitasnya akan terbongkar, dan jika Morgan tahu, pasti Briana juga akan segera tahu. Sedangkan saat ini mimpi untuk balas dengan sama sekali belum terwujud.
Tetapi hati kecil Nayara juga heran, kenapa ada foto Morgan bersama keluarganya.
"Itu bukan aku, anda pasti salah orang, lagipula orang yang ada difoto itu juga bukan keluargaku. ini foto keluargaku." Nayara menunjukkan foto bibi dan pamannya yang ada di ponsel.
"Nay, kamu yakin tidak ingat sama sekali siapa mereka? Mereka keluargamu yang asli." Morgan berharap Nayara akan mengakui orang di foto itu mama dan papanya.
"Tidak, keluargaku yang asli yang ada di ponselku, ini aku tidak tahu siapa yang kau tunjukkan itu, dan wanita itu wajahnya juga sangat berbeda.
Wajah Nayara sudah pucat pasi. Nayara terus mundur hingga sampai di tebing.
"Nay berhenti!!"
Morgan dengan sigap menarik tubuh Nayara ke dalam dekapannya. Andai terlambat sedikit saja, pasti Nayara akan terjatuh dari ketinggian puluhan meter.
"Nay, apa yang kamu lakukan. Kamu nyaris jatuh. Maafkan aku sudah membuatmu sedih dan tertekan." Morgan mengelus punggung Nayara
Tanpa Nayara dan Morgan ketahui, kalau sejak tadi ada seseorang yang mengikuti mereka berdua. Wanita itu melihat dari jauh, dua insan yang hatinya sudah saling dekat sejak kecil itu.
Nayara memejamkan mata mencium aroma maskulin tubuh Morgan. Tidak bisa dipungkiri kalau sebenarnya Nayara merasa tenang dalam dekapan atasannya di kantor . Begitu juga Morgan, lelaki itu sengaja menghirup aroma rambut Nayara yang wangi terawat.
__ADS_1
Tak terasa hampir lima menit waktu mereka habiskan berpelukan di tebing, diam-diam Morgan melihat Nayara yang memejamkan mata di dada bidangnya.
'Nay meski dengan wajah barumu, kau tetap sangat cantik. Aku akan terus berusaha untuk membuatmu merasakan nyaman dan mengingat semuanya secara pelan-pelan.'