Sekretaris Nakal (Balas dendam)

Sekretaris Nakal (Balas dendam)
Rumah Morgan.


__ADS_3

"Selamat pagi Nona!" Begitu membuka mata, Nayara langsung melihat sosok asistennya masuk sambil membawa sesuatu yang serba hangat di tangannya.


"Pagi, Bi." Nayara menggeser tubuhnya dan bersandar di sisi ranjang. Rambutnya berantakan penampilannya jauh dari kata perveck.


"Bi semalam Belvan pulang jam berapa?"


"Sekitar jam sepuluh malam keknya Non. Dia juga meninggalkan sepucuk surat ini untuk, Non."


"Surat, ada ada aja, emangnya dia gak bisa kirim SMS apa." Nayara beranjak dengan malas.


"Mungkin biar romantis kali Non," kata bibi asal.


"Em, ada-ada aja." Nayara menggeleng pelan. Mengambil surat dari tangan Bibi dan membaca tulisan tangan Belvan.


'Nay, dalam beberapa hari aku mungkin tidak ada di sampingmu, aku ingin kamu jaga diri dengan baik, Aku mohon untuk tidak pergi dalam keadaan sendiri, minta didampingi Bibi atau Novi, untuk rencana kamu selanjutnya, kenapa tidak kita cari bukti saja kalau orang tua kamu memang telah tiada karena dibunuh, aku selalu khawatir dan hatiku terus kepikiran masalah itu Nay.'


"Tidak ada bukti Belvan, mereka sudah melakukan cara kotornya dengan rapi dan bersih, apalagi kejadian ini sudah bertahun-tahun." Nayara bergumam sendiri.


"Belvan berhenti mencemaskan aku, setelah ini aku akan baik-baik saja," ujarnya Lagi.


Nayara meletakkan surat di atas laci, lalu beranjak dari ranjang menuju ke kamar mandi.


Nayara akan kembali ke kantor. Nayara yakin kalau dia akan baik-baik saja mengingat lukanya sudah mulai membaik.


Nayara pagi ini kembali memoles wajahnya dengan makeup kesukaannya, berpakaian rapi seperti biasa lalu berangkat dengan menyetir sendiri.


"Nona, hati-hati"


"Berhenti cemaskan aku Bi."


"Nona, selain bandel juga keras kepala, andaikan Tuan Belvan tidak pergi, pasti Nona Nayara tidak akan berangkat ke kantor hari ini," gerutu Bibi saat melihat Nona mudanya sudah pergi lagi.


Bibi yakin luka Nayara belum sembuh hanya saja dia terlalu bersemangat untuk kembali ke perusahaan.


Baru saja menginjakkan kaki di lantai tempat para petinggi perusahaan, Nayara dibanjiri sapaan dan pertanyaan dari karyawan dan karyawati lain.


"Nay, apakah kamu baik baik saja?" sapa salah satu karyawati.


"Iya aku baik, apa aku terlihat seperti sedang sakit?" kata Nayara berusaha serelax mungkin.

__ADS_1


"Enggak, kamu tetap aja cantik seperti biasanya."


"Hemm, kamu juga cantik. Mari kita semangat bekerja ya," ujar Nayara menepuk pundak wanita yang memujinya, gadis yatim piatu itu berusaha supel pada setiap orang.


"Hai Nay?" Rangga yang baru keluar dari Lift juga menyapa Nayara.


"Hai, Rangga, maaf aku lama nggak bisa ke kantor. Pasti kerjaan aku sudah numpuk nie."


"Enggak Kok, ada manager Andre yang bantu, biar kamu nggak keteter pas masuk kerja."


Andre yang kebetulan lewat ikut berbicara ketika namanya di sebut. "Hem, bukan hanya aku Nay, yang bantu kerjain pekerjaan kamu, sebenarnya ide ini dari Rangga juga, soalnya dia nggak mau kamu sampai pusing pas masuk.


Ekspresi Nayara langsung bahagia. "Tuhan! Terimakasih. Kalian semua pada baik banget, beruntung aku ketemu sama kalian."


"Nggak usah berterimakasih Nay, cukup nanti traktir makan siang aja gimana."


"Ye kirain tulus, ujungnya minta traktir." Nayara mencebikkan bibirnya.


"Oke! kalau cuma traktir kalian berdua mah gampang. Eh ngomong ngomong Bos nggak masuk."


"Nay, Direktur nggak masuk itu barengan sama kamu, aku kira kalian ada acara khusus berdua."


"Maksud aku, kalian berdua itu ada hubungan spesial di belakang kita, sejak pulang dari Jepang aku perhatikan Bos mulai ada perhatian lebih sama kamu, kamu itu spesial buat dia, yang nggak pernah dilakukan sama sekretarisnya dulu-dulu," terang Rangga.


"Maaf ya Nay, sebagai teman aku cuma ingetin kalau kamu emang ada main sama Direktur Morgan, main cantik aja, soalnya kalau istrinya tahu dia pasti nggak akan tinggal diam." Andre nampak berkata dengan raut kecewa lalu pergi tanpa pamit.


Nayara tahu lelaki itu pasti mengira dirinya wanita gampangan yang mendekati bos karena materi dan kenyamanan.


Nayara diam sambil mengamati punggung Andre yang semakin menjauh, Rangga juga ikut pergi setelah Andre pergi.


"Kalian semua nggak tau sih, tujuanku apa, andaikan kalian tahu semuanya, pasti kalian nggak akan bilang kayak gini." Nayara sesaat resah dengan prasangka kawan-kawannya.


Nayara masuk ke ruang kerjanya, dia mengerjakan apapun yang yang ada, sesekali Nayara melihat kearah kursi direktur yang kosong.


'Pak Morgan tidak masuk sejak kemaren, apa dia masih sakit. Atau dia ada urusan lain,' batin Nayara mulai berkelana.


Nayara menggigit bolpoin di tangannya sambil terus berfikir.


Daripada menduga duga, Nayara memutuskan pulang kerja langsung datang ke mansion Morgan.

__ADS_1


Nayara sebelumnya sudah bertanya pada Tomi tentang Morgan dan alamat serta kondisi rumahnya, termasuk keberadaan Briana sekarang.


Kata Tomi Morgan masih belum sembuh betul, dan Briana masih diluar negeri menjaga Diana yang sakit. Wanita itu sering sakit jika minum alkohol berlebih karena lambungnya sudah rusak, tapi masih saja bandel.


Nayara datang seorang diri, setelah tahu alamat lengkap tempat tinggal Morgan.


Saat tiba di depan Mansion seorang security menghadang Nayara, security selalu meminta biodata tamu yang akan masuk rumah pengusaha sukses nomor satu di pulau ini dan melaporkam terlebih dulu pada majikan.


Morgan yang sedang sendiri di balkon, begitu mendapat telepon dari security dia segera beranjak dan melihat sendiri tamu yang datang.


Nayara mendongak ke atas dan melambaikan tangan pada Morgan yang melihatnya dari lantai dua.


"Security biarkan dia masuk. aku sudah mengenalnya!" pekik Morgan.


Nayara dipersilahkan masuk oleh security, Morgan segera turun dari lantai dua dan menyongsong kedatangan Nayara.


"Nay!" Morgan senang Nayara datang. Morgan menatap Nayara lama dengan bibir terus tersenyum.


"Aku kesini mengkhawatirkan anda, Tomi bilang anda masih sakit."


"Aku baik-baik saja," jawab Morgan sambil meraih tangan Nayara.


"Anda bilang baik aja, tapi wajah anda pucat, dan suhu tubuhnya juga lebih panas" Nayara berjalan mendekati Morgan yang berdiri di undakan tangga terakhir. Wanita itu memegang kening Bosnya. "Kenapa tidak panggil dokter."


"Dokter bilang aku hanya butuh ostirahat.."


"Nay, kamu mau kita bicara di ruang tamu, atau di ruang kerja aku."


"Ah, aku mau di ruang kerja saja." jawab Nayara.


Morgan kembali ke lantai dua dan Nayara mengekor sambil memperhatikan sekeliling.


Nayara takjub melihat interior rumah direkturnya itu, yang secara langsung menjadi rumah saudara tirinya. Pantas saja Briana tidak mau lepas dari Morgan. Lelaki itu tidak pelit dalam urusan uang, dia juga sangat kaya, rumahnya saja begitu nyaman dengan interior yang tidak murah..


Nayara melihat beberapa foto Briana dan Morgan terpajang di ruang keluarga, mereka sekilas nampak seperti keluarga harmonis.


'Tuhan, lelaki baik seperti Pak Morgan, kenapa kau satukan dengan wanita licik seperti Briana. Apakah kejahatan Briana dimasa lalu bukan termasuk dosa.' batin Nayara.


"Nay, ayo kita masuk, kamu bisa bersantai di ruang kerja aku," kata Morgan menarik pergelangan Nayara.

__ADS_1


Nayara mengekor Morgan dengan tangan masih dalam genggaman suami saudara tirinya.


__ADS_2