Sekretaris Nakal (Balas dendam)

Sekretaris Nakal (Balas dendam)
Tergoda


__ADS_3

'Buat apa ada banyak asisten di rumah jika aku harus memasak sendiri, tidakkah dia melihat kuku setiap jariku terlalu indah untuk menyentuh bumbu-bumbu dapur yang menjijikkan itu.'


Baiklah sayang, aku akan memasak untukmu, kamu bisa tunggu aku disini sampai semua masakan buatan ku selesai."


Morgan tersenyum, Briana sangat penurut. Wanita itu segera mandi dan membersihkan sisa-sisa percintaan mereka semalam.


Usai mandi Briana segera ke dapur, dia melihat banyak pelayan mondar mandir di dapur.


"Tuti, aku ingin kamu hari ini masak ini dan lakukan dengan cepat."


"Naik Nyonya,


"Cepaaaat!!"


"Iya Nyonya, aku akan memasaknya dengan cepat, tapi tumben anda ke dapur, apa tidak takut kalau rambut anda aroma bawang."


"Sudah jangan banyak tanya, cepat lakukan saja perintahku," ujar Briana dengan kesal.


Morgan sibuk di depan laptopnya, banyak sekali pekerjaan yang tertunda karena Nayara tidak bisa ke kantor, dokumen penting dalam bahasa asing tertumpuk dengan rapi karena tak ada yang bisa menerjemahkan.


Morgan sepertinya harus menemui Nayara sebentar untuk menanyakan dokumen yang paling penting, karena nanti dokumen itu harus sudah ditangan clien lagi.


"Sayang sarapan buatan Nyonya sudah siap."


"Hem, baiklah bawa kesini aku ingin segera menikmatinya.


"Baik Tuan."


"Morgan berjalan menuju ruang makan, dia melihat istrinya sudah menunggu dengan penampilan glamor, sama sekali tidak mencerminkan orang yang usai memasak.


Morgan memicingkan matanya melihat masakan yang tersedia.


"Kau sendiri yang memasaknya?"


"Tentu sayang, aku memasak untukmu dengan tanganku sendiri."


Morgan tersenyum, istrinya semakin lama semakin pandai bersandiwara di depannya. Ketulusan yang dulu pernah dia lihat di awal pernikahan seolah tak ada lagi.


Morgan memakan masakan yang tidak asing dilidahnya, masakan para asisten yang bekerja di bagian dapur.


"Enak sekali sayang."


"Tentu, masakan yang diracik dengan bumbu cinta pasti akan lebih enak sayang. Di dalamnya aku sudah menambahkan semua rasa yang cintaku padamu, rasa rindu, dan juga rasa sayang."


"Ini pasti masakan spesial sekali."

__ADS_1


"Tentu. Sebenarnya aku sangat pandai memasak, hanya saja aku tidak mau kamu mencium aroma bawang saat pulang, jadi aku memilih untuk mempercantik diri saja, supaya kamu tidak lagi melihat wanita lain diluar sana.


Morgan hanya diam, sepertinya kesetiaan yang dulu pernah dia agungkan, mendadak surut demi kebohongan dan kebohongan yang terus dia lakukan sedikit demi sedikit. Morgan benci siapapun yang berbohong padanya.


Morgan sarapan lumayan banyak, berharap Briana senang dengan apa yang dilihatnya. setelah selesai Morgan meminta Tomi untuk mengantarkan ke kantor.


***


Nayara rupanya sedang bersantai untuk menikmati hari liburnya, wanita itu sedang berjemur usai mandi, rambutnya masih basah dan hanya handuk kimono yang melekat ditubuhnya. Disebelahnya ada secangkir kopi hangat yang terus mengepulkan asap dan menguarkan aroma harum.


"Nay!" Seseorang sudah berdiri didekatnya, menatapnya hingga nyaris tak berkedip dan terselip senyum tipis di wajahnya


"Pak Morgan!" Nayara terkejut kembali melihat Morgan di apartemennya.


"Maaf, aku akan ganti baju dulu." Nayara malu karena sadar tidak memakai apapun di dalamnya.


" Nay, tunggu."Morgan meraih jemarinya dan saat itu juga darah Nayara berdesir hebat.


'Nay, ingat jangan pernah libatkan perasaan apapun.' batin Nayara mengingatkan kalau dia harus tetap tenang di depan Morgan.


"Izinkan aku melihat semuanya."


"Jangan!" Nayara gugup, dia salah paham dengan kalimat Morgan baru saja.


"Aku ingin melihat perkembangan lukamu," kata Morgan lagi menyempurnakan kalimat pertamanya.


Nayara diam membeku ketika Morgan melangkah mendekatinya. Tangan dan kakinya mendadak kaku, seolah kehilangan fungsi.


Dia biarkan lelaki itu meraba lehernya meski ada sensasi geli yang ditimbulkan dari sentuhan tangan besarnya. Nayara menggigit bibir bawahnya ketika Morgan mulai menyentuh dan merayap punggungnya. 


Morgan berharap saat menurunkan sedikit kimono Nayara, dia melihat ada titik hitam yang sama seperti yang dimiliki gadis masa kecilnya. 


Entah kenapa Morgan sangat berharap Nayara memiliki tanda yang sama seperti Naya, berupa tahi lalat di punggungnya. Semakin dekat dengan Nayara, harapan Morgan semakin besar kalau Naya dan Nayara adalah orang yang sama.


Bagaimana ada tahi lalat lagi, jika seminggu yang lalu Nayara sudah menghilangkannya.  Sungguh mempertahankan sebuah tahi lalat juga menjadi dilema.


"Pak, dingin, eluh Nayara ketika angin berhembus menyentuh kulit punggungnya. 


"Iya, anginnya terlalu kencang." Morgan menaikkan lagi handuk kimono Nayara.


"Lukanya sudah membaik, aku tak sabar untuk melihatmu kembali bekerja lagi di kantor." 


"Iya, secepatnya aku akan kembali bekerja," jawab Nayara. 


Nayara mengajak Morgan masuk, Nayara penasaran dengan dokumen yang dibawa oleh Morgan pagi ini. Pasti ada hubungannya dengan dirinya.

__ADS_1


"Nayara mengambil dokumen begitu Morgan meletakkan di meja. Nayara membaca bahasa asing itu dengan langsung menerjemahkan ke bahasa Indonesia. 


Morgan mendengarkan sambil menatap bibir mungil Nayara yang bergerak-gerak ketika membaca dokumen. Hati kecilnya terus mengagumi sosok sekretaris di depannya. 


"Pak Morgan!"


"Eh, iya."Morgan terkejut.


"Ye, kok melamun sih, anda dengar apa tidak yang aku katakan tadi." 


"Ya aku sudah mendengar semuanya."


"Tunggu apa lagi, anda bisa terlambat meting." 


"Iya, aku akan kembali ke kantor, kamu jaga diri baik-baik ya."


"Hehehe, aku bukan anak kecil yang selalu diingatkan harus hati-hati."


"Aku tahu, tapi kamu lemah, kalau tidak lemah, pasti kamu tidak akan babak belur di aniaya oleh Briana. 


"Aku memang tidak ingin melawannya, dia istri anda, aku takut masuk penjara karena membalas perlakuan buruk istri CEO, hukum selalu dimenangkan mereka yang beruang, bukan." Nayara sengaja bersikap demikian demi mengambil simpati Morgan, semakin lemah di depannya,  lelaki itu semakin bersimpati padanya.


"Aku akan melindungi mu." Morgan membelai rambut Nayara.


"Nay, kamu kemaren ke pantai bersama Belvan?"


"Anda tahu?" 


"Ya, aku tahu. Apa kamu dan Belvan pacaran."


"Tidak." 


"Kenapa? Dia terlihat mencintaimu."


"Aku mengharapkan cinta seseorang yang juga aku cintai," ujar Nayara sengaja membuat kalimat ambigu. 


Siapa lelaki yang dicintai Nayara!Sebuah tanda tanya besar kembali hadir di kepala Morgan. 


"Siapa lelaki itu?" 


"Anda sudah tahu, tapi anda masih pura-pura tak tahu. Sudahlah jangan dipikirkan, bukannya anda tidak mau saya berpacaran, karena bisa merusak kinerja saya."


mendengar pengakuan Nay


Saat asyik ngobrol, kopi hangat dihidangkan oleh Bibi, Nayara mempersilahkan Morgan untuk menikmati kopi dan juga roti bakar yang juga menjadi menu kesukaan Nayara di pagi hari itu.

__ADS_1


Setelah Morgan mencicipi hidangan sederhana yang ada, Nayara pamit ke kamar. Nayara ingin memakai Baju yang benar saat menemui tamu. 


Merasa kalau Nayara terlalu lama di kamar, Morgan segera menyusul. Bukan tanpa alasan, ponsel lelaki itu terus berdering karena panggilan dari Klien yang sudah menunggunya di kantor.


__ADS_2