
"Benar benar kebo! dalam kamar begini dia bisa tidur dengan nyenyak." Belvan tidak percaya melihat Amora terlentang diatas kasur dengan pakaian tipis dan bisa tidur tanpa merasa kegerahan.
Belvan jadi pusing sendiri karena rencananya untuk membuat Amora pergi malah dia sendiri yang tak betah dengan suasana kontrakan.
"Hey bangun!!" Belvan sekarang mencoba untuk membuat Amora kelelahan hingga dia tak sanggup lagi bertahan.
"Suamiku, apa yang terjadi sampai kau mengganggu tidurku?" tanya Amora sambil meregangkan otot ototnya, ekspresinya khas orang bangun tidur. Belvan melotot, dia tak percaya Amora tidur tanpa mengenakan kacamata kuda hingga ada dua titik yang mencuat, tercetak jelas di tubuh depannya.
"Aku lapar! Cepat masak sesuatu?"
"Lapar? atau sangat lapar? kenapa tidak beli di luar saja. Berikan padaku uangnya biar aku beli di warung depan."
"Apa? uang! tidak ada uang, pake uang kamu. Dan aku tidak mau tahu kamu harus memasak untukku, aku tidak mau makanan yang dibeli."
"Ya baiklah." Dengan santai Amora berdiri lalu mengikat rambutnya hingga memamerkan leher jenjangnya, Amora sengaja membuat gerakan sensual, sengaja menggoda Belvan. Sebagai lelaki normal Belvan kembali susah payah meneguk salivanya.
Belvan buru-buru pergi. Dia sudah berjanji dalam hati untuk tidak akan pernah mencintai Amora. "Dasar wanita murahan, pasti Morgan sudah bekerja sama dengan nya, supaya aku tidak bisa memiliki Nayara. Aku pastikan adiknya akan pulang karena tidak tahan dengan sikapku. Dengan begitu aku bisa kembali menikahi Nayara," sungut Belvan begitu melihat Amora masuk kamar mandi.
Belvan duduk di sofa sambil membaca majalah, menunggu Amora memasak untuknya. Akan tetapi wanita itu sengaja mandi sangat lama.
__ADS_1
Setelah setengah jam lebih di dalam kamar mandi Amora keluar hanya menggunakan handuk saja. Amora sengaja lewat di depan Belvan. Belvan pura-pura tidak melihat. Amora tidak suka diabaikan. Wanita itu kembali membuat ulah dengan pura-pura tersandung kaki kursi.
"Auhhh," Amora nyaris terjatuh dan Belvan menangkapnya.
"Kena kau," batin Amora. Amora menatap mata Belvan dengan binar bahagia. Ternyata suaminya tak membiarkan dirinya terluka. Amora senyum-senyum dan Belvan makin murka.
Belvan melepaskan pelukannya membuat pantat Amora mendarat di pantai keramik.
"Auhhhhh, sakiiiit. hiks hiks hiks." Amora menangis dengan posisi handuk yang tersingkap ke atas, pose yang sangat menantang layaknya artis hot jeletot.
"Kenapa kau malah melepaskan aku, kamu pasti sengaja melakukannya biar aku terluka. Ingat ya, jika aku sampai menyebarkan ini semua sebagai kasus KDRT, perusahaan kamu akan terpengaruh imbasnya, para klien akan enggan bekerja sama dengan CEO yang suka melakukan KDRT pada istrinya."
"Tidak, aku hanya mengingatkan saja, Kemungkinan itu pasti terjadi jika kau tidak memperlakukanku dengan baik."
"Dasar wanita ....!" Belvan naik pitam.
Amora tersenyum licik. lalu mengulurkan tangannya dengan manja. Mau tidak mau Belvan kembali membantu Amora untuk bangkit.
"Gendoooong ... masih sakit." Amora memeluk tengkuk Belvan.
__ADS_1
"Amora berhenti berulah, kau bukan lagi anak kecil," kata Belvan yang amarahnya sudah sampai ubun-ubun. Tapi lagi-lagi gadis itu bisa membuatnya tak berdaya dengan mengancam akan menyebar luaskan berita pernikahan konyol ini pada media. Selain ancaman KDRT Amora juga memiliki rekaman prosesi pernikahan mereka. Belvan akan dinilai sangat bodoh oleh dunia jika berita itu sampai tersebar dengan tidak mengenali calon istrinya.
Belvan mengangkat tubuh Amora dan membawanya ke kamar. Amora meringkuk dalam dekapan Belvan sambil terus menatap wajah tampannya. "Jangan suka marah, nanti cepat tua. Tuhan sudah memberimu jodoh gadis cantik sepertiku, lihatlah dari ujung kaki sampai ujung kepala aku tidak memiliki cacat apapun, tubuhku sangat, bersih, lembut dan mulus. selain itu aku juga lulusan unifersitas terkenal di New York, aku bisa membantumu di perusahaan seperti Kak Nayara, mungkin aku lehih hebat. Kau juga sudah membuktikan kehebatan ku di ranjang, bukan?"
"Diamlah, jangan pernah bandingkan dirimu dengan Nayara, Nayara wanita yang berbeda."
"Tapi Nayara tidak mencintaimu, Amora yang mencintaimu, Suamiku." Amora menahan tengkuk Belvan saat lelaki itu hendak membaringkan tubuhnya di ranjang.
Belvan tidak tahu harus bagaimana menghadapi wanita tengil ini.
"Lepas, kau jangan berulah atau aku akan mengikat mu," ancam Belvan.
Amora bukannya melepas, tapi justru menarik tengkuk Belvan hingga dia terjatuh menindih tubuh yang hanya memakai handuk untuk pelindung itu.
"Auhhh, sakit. Kau terlalu keras meremasnya, Suamiku.' Amora mendesis ketika tanpa sengaja Belvan mendaratkan telapak tangannya di dada sang istri.
Sayang, jika kau ingin aku memberimu kenikmatan lagi, tidak usah malu malu, tapi aku ada syarat yang harus kau penuhi, kau ucapkan ijab sekali lagi di depan penghulu.
Belvan yang baru mualaf beberapa tahun lalu, dia tentu masih awam masalah agama dan pernikahan, Belvan tidak tahu kalau pernikahannya tidak sah, andaikan dia tahu lelaki itu pasti sudah pergi sangat jauh meninggalkan Amora.
__ADS_1