Sekretaris Nakal (Balas dendam)

Sekretaris Nakal (Balas dendam)
Tidak bertemu Nayara


__ADS_3

Amora duduk di depan kolam ikan sambil melempari makanan para penghuni kolam, ikan warna warni itu bergerombol berebut makanan dari Amora, seolah telah lama dia sangat merindukan kedatangan sosok gadis cantik pemilik mata indah dan energik itu di mansion.


"Seperti apa wajah lelaki yang menjadi saingan Kak Morgan? kenapa Kak Naya bisa bingung memilih antara Kak Morgan dan dia?" Ada rasa tidak rela di hati Amora karena kakaknya menjadi bahan pertimbangan dengan lelaki itu.


Nayara juga teman masa kecil Amora, meski selisih tiga tahun tapi Naya saat itu sangat baik dengannya, kalau sama Briana, Amora tidak begitu mengenalnya.


Amora, gadis berusia dua puluh tiga tahun itu penasaran dengan seseorang yang menjadi saingan kakaknya. Apakah lelaki itu memiliki usaha yang lebih sukses dari kakaknya, atau lebih tampan, lebih romantis atau lebih segalanya.


Amora akan mencari tahu semuanya, karena dia tidak akan balik lagi ke luar negeri setelah studi S1 nya selesai.


Amora memutuskan untuk ikut Morgan ke kantor, dia berharap menemukan sebuah petunjuk dan mulai penyelidikan.


"Kak aku ikut!'


"Untuk apa? aku harus bekerja disana, bukan untuk main-main." jawab Morgan keberatan.


"Aku sudah lulus dan menjadi sarjana, aku sudah pantas untuk bekerja. Kau masih terus mengangapku seperti anak-anak."


"Bagiku kau tetap akan selalu merepotkan dimanapun," ledek Morgan lagi.


"Hem, tidak usah bekerja biar Kakak saja." Morgan tidak tega melihat adik data wayangnya memikul beban yang betat seperti dirinya.


"Apa yang kamu katakan? Biar Amora mandiri, meski wanita akan sangat bagus kalau dia tidak menjadi wanita yang pemalas. Lagi pula dirumah saja akan sangat membosankan untuknya." Mama selalu mendukung apa yang diinginkan Amora karena dia putri kesayangan dan satu-satunya.


"Baiklah." Morgan mengajak Amora ke perusahaan. Dia tidak ingin adik kecilnya merajuk.


***


Gw


Amora berjalan di belakang Morgan dengan tangan terus bergandengan. Beberapa karyawan mengira Morgan memiliki sugar baby lagi, setelah digosipkan dekat dengan Nayara beberapa hari ini.


Akan tetapi Amora tidak masalah, toh kenyataan mereka adalah kakak beradik.


Dengan Nayara pun demikian, para karyawan suka bergosip ketika jam istirahat, mereka selalu membuat Nayara kesal dengan menyebut wanita perebut suami orang. Sekretaris Nakal, dan ada pula yang menyebut pelakor.


Mereka sesungguhnya iri, karena tidak bisa mendekati Morgan, bahkan keberadaan karyawan biasa itu nyaris tak terlihat olehnya. Apalagi sikap Morgan yang dulu dingin sekarang memanjakan Nayara yang berlebihan, mengira yang percaya hal mistis juga Nayara pakai susuk pemikat sang CEO.

__ADS_1


"Apa yang kalian lihat?" Amora menegur karyawan yang terus memandangi dirinya.


"Maaf, kami tidak bermaksud melakukannya, kebetulan saja anda lewat depan kami."


"Kalian semua tidak usah bingung, Dia adik saya, kenetulan baru pulang dari luar negeri." Morgan menjelaskan pada karyawannya sebelum gosip baru beredar lagi.


"Oh, jadi adiknya toh, Pak. pantas cantik." Mereka segera berebut menyalami Amora dan bersikap baik, perubahan sikap mereka sangat mencolok drastis


"Pantas sangat mirip." Akhirnya mereka semua bisa tenang, saingan mereka untuk memiliki dudanya BOS tampan tidak bertambah lagi.


***


Tiba di depan ruang presdir.


"Amora kamu bisa gantikan aku, Aku akan pergi menyusul Nayara ke luar negeri. Jika ada yang tidak kamu mengerti, hubungi saja Alex dan Rangga dia pasti standby di ruang kerjanya. ."


"Baiklah, selamat mengejar cinta Kakak, aku akan mendukungmu mendapatkan Nayara kembali."


"Terimakasih adikku, sekarang aku percaya kalau kamu sudah dewasa." Morgan mengecup kening adiknya, sang adik lalu mengecup tangan sang kakak.


Morgan yang mengira Nayara sudah tiba di negara Singapura lebih dulu, Dia segera memesan tiket pesawat dengan tujuan yang sama. Morgan berharap nanti bisa bertemu Nayara di negara asing sekaligus liburan tipis-tipis bersama sang pujaan hati.


Hanya dua jam lama perjalanan Morgan sampai ke luar negeri. akan tetapi dia tetap tidak menemukan Nayara di hotel yang seharusnya menjadi tempat mereka semua menginap.


"Dimana Nayara" Tanya Morgan saat bertemu orang yang harusnya menemani Nayara dan menjadi pelindungnya.


"Tuan, Nona Nayara tidak ikut bersama kami, Tuan Belvan mengubah seluruh rencana dengan membawa Nona pergi. Menangkap Nyonya Diana sudah menjadi tanggung jawab kami sepenuhnya."


Morgan meremas rambutnya kesal, merutuki kebodohannya. Bagaimana bisa ini semua terjadi tanpa dia pikirkan, pantas Nayara tidak bisa di hubungi seharian ini, ternyata dia sedang bersama dengan tunangannya.


"Tuan anda sangat gelisah?"


"Tentu tidak, aku kesini akan membantu kalian menyelesaikan pekerjaan dari Nayara."


"Baiklah Tuan, kalau begitu perintahkan pada kami yang anda inginkan."


"Baiklah, kalian sekarang bisa istirahat, sore kita kembali bekerja."

__ADS_1


"Baik Tuan. Kami permisi."


"Pergilah."


Morgan masuk Apartement yang akan menjadi tempat istirahatnya sementara di negara asing ini. Entah kenapa tubuhnya tiba-tiba rapuh, sepertinya dia selalu kalah cepat dengan Belvan dalam memperebutkan hati Nayara.


"Nay, sebelum kamu dan Belvan menikah, aku akan terus berjuang, Sampai kau tahu kalau cintaku benar-benar tulus," gumam Morgan sambil menatap foto Nayara di ponselnya.


Saat Morgan tak bisa istirahat siang dengan nyenyak, lelaki itu memutuskan untuk menatap ke arah luar jendela kaca sambil melihat situasi sekitar.


Pandangan Morgan fokus pada wanita paruh baya yang berjalan sambil menenteng tas dengan rambut berantakan, wanita itu terlihat berbicara sendiri kadang sambil tertawa dan kadang menangis.


"Aku sepertinya familiar dengan wanita yang mengorek tempat sampah itu." Morgan berusaha menajamkan pandangannya ke arah wanita yang terlihat belum lama gila itu. karena baju Mama Diana belum terlalu kotor.


"Mama Diana?" Morgan berlari keluar apartement, berharap apa yang dilihatnya tidak salah.


Morgan terkejut yang dilihat ternyata Benar wanita didepannya adalah Mama Diana, mantan mertuanya.


"Apa yang terjadi, apakah dia pura- ?pura supaya terlepas dari pembalasan Nayara." pikir Morhan.


Morgan segera turun setelah menemukan target, dia tidak akan melepaskan Diana untuk Nayara.


Morgan menemui Diana di taman, ingin memastikan kalau tidak salah orang.


Melihat Morgan turun, Empat orang yang terdiri dari dua suruhan Nayara dan dua orang Belvan segera ikut turun.


Diana masih bisa mengingat Morgan meski bicaranya kacau. "Hallo menantuku hehehe, Morgan kamu akhirnya kesini mencari mama." ujar Diana sambil memelintir rambutnya.


" Morgan kenapa kamu tidak memberi uang mama lagi, mama sudah lama tidak beli perhiasan biar cantik, biar kekasih maka tidak diambil orang lagi hiks hiks, atau kamu saja jadi kekasih mama, Briana sekarang sudah mati kan?" Setelah menangis kini Diana tertawa, sambil mengelus pipi Morgan dan menggelitiki dada bidang lelaki yang tengah bingung menatap kondisi mertuanya itu.


"Kamu jadi kekasih mama saja Morhan." Diana terus menggoda Morgan membuat Morgan sangat malu dengan tingkah mertuanya.


Morgan melirik pada empat orang yang sedang siaga menangkap seorang wanita gila itu, pekerjaan kali ini terasa sangat lucu dan mudah baginya, yaitu hanya menangkap orang gila.


"Cepat bawa dia, kita pulang sekarang juga," titah Morgan.


"Siap Tuan." Mereka berempat menjawab dengan kompak.

__ADS_1


__ADS_2