
Nayara menyeret Briana dengan amarah yang membara, belum pernah Briana melihat seseorang berani memarahinya hingga demikian gila.
"Kau akan membawaku kemana?" Tanya Briana.
"Diam, kau tidak perlu bertanya." Nayara mulai membentak Briana. wanita itu berusaha memberontak tapi tenaganya masih kalah dengan Nayara yang sedang marah.
"Nayara, kenapa kau membawaku ke gudang!" Briana bertanya dengan wajah gusar. Briana tahu reaksi obat tadi akan membuat sarafnya menjadi lemah.
"Diam, kamu akan tahu sendiri nanti" Nayara membentak Briana lalu mendorong tubuh wanita itu hingga tersungkur.
"Nayara aku tidak percaya ini." Briana menatap Nayara dengan penuh kebencian.
Tubuhnya lemah tidak berdaya karena obat yang diminumnya mampu membuat saraf ototnya melemah. Sebenarnya obat itu hanya memberi dampak buruk beberapa saat saja, tak lama Tenaya Briana akan pulih.
"Nayara, apa yang akan kamu lakukan?" kata Briana. Wanita itu mulai gelisah
Aku tentu akan melakukan seperti yang pernah kau lakukan padaku." Kata Nayara dengan wajah yang dingin.
"Nayara aku mohon jangan lakukan itu." Briana kehilangan cara untuk menyelamatkan diri. Nayara seperti bukan wanita yang dikenal selama ini. Dia seperti telah kerasukan mahkluk jahat yang bukan merupakan jati dirunya.
Nayara tersenyum sinis. "Kenapa takut? bukankah kamu tadi baru saja terlihat sangat sombong dan berkuasa, Kamu juga bilang Morgan akan memecat aku kan?"
Nayara mengikat tangan dan kaki Briana wanita itu meringkuk seperti seekor ikan duyung kehabisan air.
"Nay, lepaskan aku!" Suara Briana mulai memelas.
"Apa! Meski kau memohon dan meminta aku tidak akan pernah melepaskanmu, Briana." Kata Nayara. Wanita itu lalu duduk disebuah kursi di depan Briana sambil menikmati wajah Briana yang mulai berantakan. Briana yang cantik dan Arogan ternyata wajahnya sangat lucu saat tidak bisa menindas.
"Nay, lepaskan aku mumpung kamu masih punya kesempatan, aku akan memaafkan kamu jika kamu berubah pikiran dan melepaskan aku saat ini"
__ADS_1
Bukan mendapat respon baik, tapi justru Nayara tertawa sangat keras. Briana tercengang dengan suara tawa Nayara.
"Tidak mungkin Briana, aku sudah menunggu bertahun tahun agar hari ini tiba, tidak mungkin aku melepaskan kamu." Nayara menginjak tangan Briana yang terikat seperti yang pernah dilakukan wanita dulu padanya.
"Aaaaa, sakit Nayara, ampun." Briana memejamkan mata menahan sakit yang diberikan Nayara.
"Seharusnya kamu tahu ini rasanya sangat sakit, tapi kenapa kamu waktu itu melakukan padaku? Bukankah kita sama-sama wanita yang harusnya sedikit saja memiliki belas kasih dan hati nurani." Nayara menarik wajah Briana yang terlihat marah.
Nayara lagi-lagi hanya tersenyum menunjukkan deretan gigi putihnya. Nayara berubah menjadi psikopat wanita yang sangat menakutkan. Nayara mengambil cambuk, cambuk yang sama seperti yang pernah dia gunakan untuk memecut Nayara waktu itu.
"Nay, apa yang kamu lakukan!" Ketakutan Briana semakin tak terbendung. Briana menggeser tubuhnya mundur seperti hewan melata. " Nay lupakan keinginan kamu, aku akan memaafkan mu, aku juga berjanji akan memberikan banyak uang untukmu, tapi syaratnya jangan lukai aku dengan cambuk itu."
"Uang? Berapa uang yang kamu miliki? Katakan padaku." Nayara ingin mendengar berapa uang yang bisa Briana berikan untuknya, bukankah akan lebih baik jika dia menguras uangnya juga. Seperti bagaimana dia dulu sudah mengambil harta keluarganya.
"Banyak Nay, sangat banyak, aku akan memberimu uang. Aku bahkan bisa mencairkannya sekarang. aku akan telfon seseorang
"Satu miliar." jawab Nayara. Nayara tidak yakin Briana akan memberi uang sebanyak itu, apalagi dia tahu sendiri Morgan sudah membatasi pengeluaran untuknya.
"Uang sebanyak itu aku tidak punya, bagaimana kalau seratus juta?"
"Apa? Seratus juta!" Nayara tertawa terbahak. "Bukankah suamimu lelaki yang sangat kaya raya, dia pengusaha nomor satu di kota ini, menyedihkan sekali istrinya hanya memegang uang satu juta," ejek Nayara.
"Nayara aku sedang tidak punya uang, bukankah seratus juta sudah cukup banyak untuk kamu." Briana masih belum bisa menebak siapa wanita di depannya, dia belum tahu sama sekali kalau itu Naya saudara tirinya.
"Uang seratus juta sangat kecil, tidak ada apa-apanya dibanding dengan uang suami kamu yang sangat banyak, sepertinya kamu tidak serius ingin memberiku banyak uang, jika aku bisa mendekati dan memiliki sumber uang, kenapa aku harus terima nominal yang begitu kecil." Nayara mencibir Briana lalu menarik wajahnya. Mengamati setiap centi wajah saudara tirinya yang dulu hingga sekarang begitu jahat itu.
"Aku akan mengambil Morgan darimu, suami tampan mu sudah jatuh hati padaku Briana. Dan jujur aku tidak bisa menolak pesonanya." Nayara mengusap leher dada dan meraba tubuhnya sendiri seperti wanita haus belaian.
"Jangan bermimpi untuk mengambil Morgan dariku, aku sangat menyayangi dia, aku tidak bisa memberikan dia untukmu Nayara." Briana seketika marah dan membabi buta
__ADS_1
"Cinta? Benarkah kau mencintai dia? Wanita sepertimu apakah masih punya cinta Briana?" Nayara mengerutkan keningnya. Jika kau cinta dengannya kau tidak akan pernah selingkuh dibelakangnya.
Mata Briana membulat nyaris sempurna, bagaimana dia bisa tahu kalau dia selingkuh, bukankah tak ada yang tahu kalau dia pernah melakukan malam terlarang bersama Akio dan Leon.
"Aku tidak selingkuh, aku tidak melakukannya."
"Lalu ini apa?" Nayara menunjukkan foto dia berada di pesta dansa bersama Akio dan mabok berat yang berakhir di ranjang.
Briana tidak bisa menahan amarahnya. "Wanita licik, jadi selama ini kamu tidak lain adalah wanita pengintai yang tidak tahu malu."
"Lalu ini apa?" Nayara menunjukkan wajah Briana yang sedang keenakan ditindih oleh Leon di balkon.
"Suaramu sangat merdu, kau sepertinya sangat menikmati setiap hujaman laki-laki yang bukan suamimu. Dan sekarang dengan tidak tahu malu kamu mengatakan cinta dengan dia."
Nayara kamu bisa dapat semua itu dari mana? Tidak mungkin kamu mendapatkan itu semua karena kamu ikut aku kesana." Briana masih berfikir sangat bodoh. Dia tidak mengira kalau Leon yang dia kenal beberapa hari dan terlihat menyayanginya tak lebih dari lelaki bayaran.
"Briana bagaimana jika Morgan tahu sudah banyak lelaki yang menjamah istrinya? Dan bahkan istrinya begitu menikmati setiap permainan dari setiap lelaki pemuas nya. Kira-kira apakah dia akan sudi menyentuh tubuhmu yang telah ternoda itu?"
"Nayara apa tujuanmu sebenarnya?" Tanya Briana.
"Apa penting buat kamu apa tujuanku sekarang?" Nayara sambil mencari ponsel Briana dan merampasnya.
"Jangan ambil ponselku!"
"Tenang dia akan aman di tanganku. Lagipula ponsel ini barang mahal lebih baik aku saja yang menggunakan."
Nayara memperhatikan ponsel mewah Briana. Setelah itu dia memencet tombol of agar tak ada orang yang bisa melacak keberadaan Briana saat ini.
"Kamu baik-baik disini, aku harus kembali ke kantor. Ada dua lelaki yang akan menjagamu di pintu masuk selama aku tidak ada, kamu berbaik hatilah sama mereka, siapa tahu dia akan membantumu terbebas dari sini." Nayara mengedipkan mata genit sambil tersenyum. Briana yang tahu maksud dari ucapan Nayara hanya bisa menahan emosi melihat Nayara terus merendahkannya.
__ADS_1
Dua lelaki suruhan Nayara itu terlihat galak dan menyeramkan, yang satu tubuhnya hitam dan kulitnya liat dan kasar, rambutnya gondrong dan dikepang kecil-kecil sangat banyak. Sedangkan pria satunya sedikit lebih putih kepalanya gundul dan sekujur tubuhnya dipenuhi tato naga.
"Baik-baik bersama dia, aku kerja dulu, bay bay!" Nayara melakukan cium jauh pada Briana, lalu dia benar-benar pergi karena dia tidak mau Morgan dan yang lainnya cemas mencari, apalagi ini masih jam kerja.