
Belvan keluar gedung dengan tergopoh. Melihat suaminya pulang. Amora tidak mau ditinggal sendiri.
"Kak, aku akan pulang bersama Belvan, bagaimanapun aku sekarang istrinya, aku harus ikut dia pergi."
"Amora pernikahan kalian tidak sah." Nayara mengingatkan.
"Kenapa tidak sah? Kakak Naya pasti bercanda. Aku yang hadir di pernikahan itu,"
"Amora, Belvan Tidak menyebut namamu saat mengucap ijab.
"Jika memang pernikahan kita tidak sah, aku akan membuat dia mencintaiku dan menikahi ku secara sah."
"Amora, kamu yakin? Kamu cinta pada laki-laki yang baru kamu kenal, dan cintamu bisa sebesar itu?" Nayara tidak yakin.
Amora mengangguk. "Aku sudah kehilangan mahkotaku, lelaki itu harus bertanggung jawab." Amora menatap Nayara seperti anak kecil, saat berbicara terlalu sering dengan gaya bibir yang di maju-majukan.
"Kamu jangan bodoh Amora. Belvan itu lelaki Seiko, kalau marah dia bisa menyakiti siapapun," ucap Morgan.
__ADS_1
"Aku tidak peduli Kak, aku yakin Belvan lambat laun akan luluh dengan cintaku. Lagipula nanti akan ada dua pengawal yang menjagaku," kata Amora kekeuh. Amora segera pergi mengejar Belvan yang sudah naik ke mobil, mengabaikan Nayara dan Morgan yang menatapnya.
Kebetulan Belvan memilih duduk di bagian penumpang. Asisten Belvan mulai menyalakan mobil dengan tujuan menghangatkan mesinnya.
Dengan langkah lebar, Amora buru-buru masuk mobil dan duduk di sebelah Belvan. Belvan tidak menghiraukan Amora yang ada di sebelahnya. Giginya mengetat karena menahan amarah.
Nayara hari ini membuat Belvan sangat terluka, dia lebih memilih Morgan daripada dirinya. Dan sialnya wanita yang sudah dia renggut kegadisannya adalah adik Morgan.
***
Terutama tidak memberi tahu pada Flora, Kalau Flora tahu Belvan pasti akan ditertawakan oleh kakaknya yang tidak pernah menyukai Nayara itu.
"Belvan apakah ini tempat tinggal kamu?" Amora mencibir tempat tinggal Belvan di perumahan paling buruk yang pernah dia lihat, di dalamnya tidak ada AC ataupun kipas angin sehingga ruangan menjadi sangat panas.
"Kenapa? apakah kamu keberatan?" Seringai bahagia terlihat di bibir Belvan, Belvan sudah mengira gadis manja itu tidak akan betah tinggal di rumah kumuh dan jelek, sehingga Belvan tidak perlu mengusir Amora melainkan wanita itu akan pergi dengan sendirinya.
"Kalau kamu tidak suka, kamu bisa pergi dari sini. dan pulanglah, jangan harap kamu akan mendapatkan hak sebagai istri, aku bahkan saat ini sangat membencimu."
__ADS_1
Nayara tersenyum, seakan apa yang dikatakan Belvan adalah sebuah tantangan yang sangat menarik. "Kenapa harus tidak suka, Belvan aku justru sangat bosan dengan kemewahan, aku pasti akan betah tinggal disini," dusta Amora. Amora sebenarnya tidak yakin akankah sanggup tinggal di rumah yang sederhana dan luas seluruhnya hanya seluas kamar Amora saat tinggal di mansion.
Belvan tidak percaya dengan apa yang dikatakan Amora, keringat dingin dan tubuh gemetar wanita itu adalah jawaban semuanya, Belvan tahu Amora hanyalah gadis cengeng yang biasa hidup bahagia dan bergelimang harta.
Amora masuk sambil membawa tas miliknya. menuju ke kamar satu-satunya yang ada di rumah itu."
'Benar-benar panas sekali, apakah lelaki itu sengaja membuatku hidup seperti di neraka.' batin Amora yang langsung berkeringat deras karena kepanasan di dalam kamar.
'Tapi lihatlah, aku tidak akan menyerah, yang ada dia yang akan bertekuk lutut melihat pesona Amora.' Amora tersenyum smirk.
Benar yang dikatakan Amora, kini Belvan yang dibuat gelisah, rupanya wanita itu tidak mudah menyerah, bahkan dia menerima tantangannya
Karena gerah, Amora membuka bajunya hingga tinggal tangtop dan rok pendek. lalu membaringkan tubuhnya di ranjang. Amora sangat lelah dia ingin cepat-cepat tidur saja.
Belvan yang mendengar Amora mendengkur tentu sangat kesal, kenapa gadis itu bukan merasa tersiksa tapi malah tidur sangat pulas.
Belvan membuka pintu yang selalu berderit saat dibuka itu dengan sangat hati-hati, dia ingin mengintip, memastikan kalau Amora tidak sedang pura-pura tidur.
__ADS_1