Sekretaris Nakal (Balas dendam)

Sekretaris Nakal (Balas dendam)
Keputusan dibawah tekanan.


__ADS_3

"Belvan aku mau pulang!"


"Belum waktunya Honey, bukankah disini kita menemukan ketenangan, nggak ada yang akan ganggu kita."


"Belvan! aku mau pulang! Kamu gilaaa!" Nayara berteriak ketika pengawal membawa Nayara masuk kembali ke Villa dengan paksa.


Nayara dibawa kembali ke kamar dan dikunci rapat, lalu asisten meninggalkan seorang diri.


Nayara tidak percaya akan menghadapi situasi ini. Belvan benar-benar bukan Belvan yang dia kenal.


Ternyata Belvan melakukan bukan tanpa sebab, Belvan sakit hati melihat Nayara berciuman dengan Morgan sangat mesra saat mereka memasak di dapur villa, saat mereka berada di mobil. Semua kiriman video dari Flora masih dia simpan dengan sangat baik.


Setiap kali Belvan melihat, cemburunya kembali meletup-letup. Bahkan Belvan sempat melempar ponselnya hingga layar LCD menjadi retak hingga tak berbentuk lagi.


"Tuan, pekerjaan sudah beres," kata pengawal kembali untuk melapor.


"Bagus, kalian boleh istirahat," ujar Belvan.


Ah!! Belvan berteriak histeris kala mengingat kedekatan Nayara dan Morgan. Andai kau tidak memilih lelaki itu, aku tidak akan pernah sekeji ini padamu Nay.


Belvan menyusul Nayara ke kamar yang telah dikunci rapat oleh para asisten. Melihat Belvan datang Nayara segera mendekati pintu.


"Belvan, apa yang kau inginkan? Tidakkah bisa kita bicara baik-baik?" Nayara mencoba bernegosiasi pada Belvan


"Menikah denganku."


"Kamu jangan gila, setelah apa yang kamu lakukan, tentu aku harus berfikir ribuan kali untuk menikah denganmu. Aku tidak mau menyesal dengan memilih lelaki yang salah." Nayara langsung menolak keras ucapan Belvan.


"Apa maksud kamu, aku lelaki salah? Aku yang tidak ingin kamu jatuh ke pelukan lelaki yang salah seperti Morgan."


Nayara menggeleng dan mundur beberapa langkah, Nayara melihat Belvan masuk dan mengunci pintu kembali.


"Pilih antara menikah denganku dengan suka rela, atau aku memaksa?"


"Apa maksud kamu?"


"Saat ini di gedung X sedang ada persiapan untuk pesta pernikahan kita. Entah suka atau tidak, kau dan aku akan menikah."


"Kamu benar-benar sudah gila Belvan."


"Maaf Nay, aku sangat sayang sama kamu, aku tidak mau kamu dimiliki siapapun, lelaki itu tidak boleh mengambil kamu dariku."


Nayara duduk di pinggir ranjang dengan frustasi. Tulangnya seketika melunak, dia tak memiliki kekuatan lagi meski sekedar berdiri.


Sepertinya Belvan tidak akan pernah mengerti kalau sesungguhnya tak ada hubungan yang istimewa antara Morgan ataupun dirinya.

__ADS_1


Nayara sendiri dalam dilema, akan tetapi dengan seperti ini, Nayara jadi tahu siapa yang layak untuk diperjuangkan.


"Kau membuat aku tahu bagaimana sifat asli yang kau miliki? Dan kamu membuat aku tidak lagi bimbang, siapa yang harus aku pilih. Ternyata Morgan jauh bisa lebih mengerti akan diriku daripada kamu Belvan."


"Cukup Nay, siapapun yang kamu pilih, tidak akan merubah apapun, karena keputusanmu tidak lagi aku butuhkan.


Belvan melepas piyama hingga menyisakan celana pendek lalu mendekati Nayara.


Belvan menahan Lengan Nayara dan mendorongnya ke ranjang. Tubuh Nayara terhempas begitu saja.


Ranjang memantul berulang kali tertabrak oleh tubuh Nayara. Belvan mencondongkan tubuhnya diatas Nayara hingga mereka terlihat begitu intim.


"Jika kau memaksaku hari ini. Ku pastikan kau tidak akan pernah melihatku lagi." Nayara menatap Belvan tanpa rasa takut.


"Apa maksud mu?" Belvan membelai rambut Nayara dan mengendus seluruh wajahnya. Aroma wangi ynag tercium membuat Belvan makin bergairah.


"Aku akan pergi selamanya, kau memilih aku mati kan?" Nayara mulai ketakutan, akan tetapi dia berusaha untuk tegar.


"Kau hanya menakuti ku kan?" Belvan kembali membelai rambut Nayara. Satu jemarinya menurunkan resleting baju Nayara.


"Apakah aku pernah bermain dengan perkataan ku?" Nafas Nayara naik turun, berharap Belvan akan berubah pikiran.


Belvan menyapukan lidahnya di leher dan sesekali meninggalkan jejak merah.


Nayara menangis, bibirnya terkunci rapat, hatinya terluka begitu dalam.


"Aku melakukan semuanya karena cinta Nay, aku berjanji akan membahagiakanmu," rayu Belvan.


"Lakukanlah sesukamu Belvan, tapi ingat, ini terakhir kali kita bersama."


Belvan jadi ragu, akankah cintanya yang begitu tulus justru akan melukai Nayara. "Tolong jangan lakukan itu, Nay. Aku mencintaimu."


Bug! bug!


Suara diluar terdengar begitu gaduh.


Belvan menjauhkan tubuhnya dari Nayara. Lelaki itu merasakan tidak nyaman dengan keributan yang terjadi di luar.


Nayara menggeser tubuhnya dan bersandar. Bajunya basah karena peluh yang sudah membanjiri tubuh.


"Belvan jika cintamu tulus, kau tak akan pernah lakukan ini semua."


"Kenapa kau mengizinkan lelaki itu menyentuhmu? Apakah artinya kau lebih memilih dia?" Belvan mengatur nafasnya, menahan amarah yang sudah membuncah di dada.


"Uncle dan Aunty ingin kamu hanya menikah denganku, tentu aku tak rela calon istriku dekat dengan lelaki manapun," kata Belvan dengan nafas tak beraturan.

__ADS_1


"Kau bisa bicarakan baik-baik denganku" kata Nayara mengusap air matanya.


"Morgan ada diluar, putuskan sekarang juga? kau memilih aku atau dia? Jangan egois Nay, kebahagiaan uncle dan Aunty mu adalah segalanya." Belvan kembali berkata dengan lembut.


"Aku belum bisa memutuskan."


"Kau harus memutuskan sekarang, atau aku akan menembak Morgan."


"Belvan apa yang akan kau lakukan."


"Bukankah itu lebih baik, jika aku tidak bisa memilikimu, maka tidak juga Morgan. Kau akan melihat aku menembak lelaki yang kau pilih. Setelah itu kau akan melihat aku mati." Belvan mengeluarkan pistol di laci.


"Jangan Belvan!"


"Cepat putuskan!"


"Ba-baiklah aku akan menikah denganmu."


"Kamu memang sangat penurut Nay, kamu harus bahagiakan Aunty dan Uncle juga." Belvan tersenyum penuh kemenangan. Dia masukkan kembali pistol tanpa peluru itu. karena pelurunya ada disaku.


Belvan segera keluar hanya memakai celana pendek dan melihat keributan di luar. Disusul Nayara yang terlihat berantakan. Melihat penampilannya sekarang, semua orang pasti akan mengira mereka telah menghabiskan malam bersama.


Morgan melihat Nayara dan Belvan. Morgan terkejut dan menjadi lengah.


"Nay," lirih Morgan, bibirnya bergetar.


Morgan lengah, dua tangannya segera ditangkap oleh ajudan Belvan. Morgan diseret dan diikat.


Mata Morgan berkaca, melihat Nayara hatinya hancur. Pukulan dari para pengawal tidak lagi dia rasakan. Bibir Morgan berdarah.


"Nay, jangan lupa dengan janjimu." Bisik Belvan di telinga Nayara.


"Jangan sakiti dia," kata Nayara dengan mata berkaca.


"Aku akan melepaskan dia setelah kau mengatakan semuanya."


"Nay! jangan katakan apapun, aku tidak ingin mendengarnya." Morgan sudah tahu kalau apa yang dikatakan Nayara akan semakin menyakitinya.


"Jangan pukul dia!! Berhenti aku mohon." pekik Nayara.


"Nay, biarkan dia memukulku, aku masih bisa menahan sakitnya. Pintaku jangan pernah berkata apa-apa aku mohon." Belvan mengiba.


"Nay, katakan sekarang juga, Morgan harus tahu keputusanmu," desak Belvan.


"Jangan Nay, aku mohon, aku tidak ingin tahu apapun." Morgan bersikeras.

__ADS_1


__ADS_2