
"Bibi kenapa?" Tanya Morgan yang melihat bibi senyum senyum sendiri.
"Tidak ada apa apa, Tuan," kata Bibi.
"Nggak pernah lihat orang ganteng ya?" Morgan mengembalikan handuk lalu pergi mengambil bajunya yang tergeletak.
'Nona Nayara beruntung banget dicintai dua cowok tampan, andaikan itu aku oh oh, duniaku pasti akan indah sekali.' batin bibi sambil memeluk handuk bekas dipakai Morgan.
Morgan hanya menggeleng pelan melihat tingkah ART Nayara.
Lelaki itu meminta Tomi untuk mengantar baju yang ada di mobil ke apartement Nayara, karena dalaman Morgan basah dan dia mulai kedinginan.
Setelah mereka semua mandi dengan benar dan ganti baju Nayara dan Morgan sarapan bersama. Morgan tampak bahagia bisa bersama Nayara seperti hari ini.
Morgan berharap keinginannya bukanlah sebatas mimpi. Morgan ingin semuanya akan nyata.
"Nay! Morgan menatap Nayara ketika nasi di piringnya sudah habis, sedangkan milik Nayara masih separuh.
"Iya, apa mau nambah," kata Nayara bersiap mengambilkan nasi untuk Morgan.
"Tidak aku sudah kenyang. Aku hanya ingin mengambil ini." Morgan mengambil nasi di pipi Nayara. Nayara tersenyum sambil menatap Morgan.
Morgan menggigit bibirnya sendiri yang terasa perih saat makan nasi bersama kuah pedas tadi. Morgan ingat penyebabnya adalah ciuman panas di kolam tadi.
"Nay, apakah kamu baik-baik saja."
"Tentu aku baik-baik saja." Nayara tahu maksud pertanyaan Morgan, akan tetapi dia berusaha untuk membuat lelaki itu tidak meneruskan kalimatnya yang mungkin akan memiliki ide untuk melakukan lagi. Nayara berharap itu ciuman untuk terakhir kali.
***
Dua hari telah berlalu, Nayara tidak ada di Apartement. Belvan dan Morgan tidak mudah mencarinya. Nayara juga mematikan ponsel.
Wanita itu pergi untuk menemui Briana, Briana yang mulai mendapat ancaman dari Nayara mulai meminta Leon untuk melindunginya, akan tetapi Leon tidak bisa berkhianat pada Nayara karena bantuan Nayara yang masih terus mengalir untuk keluarganya.
"Leon sekarang juga tunjukkan dimana kekasihmu, Briana?" ledek Nayara yang melihat Leon tak bisa mengendalikan diri pada kecantikan Briana.
"Maafkan aku Nona," kata Leon yang tahu dirinya salah.
"Cepat katakan saja, maaf tidak cukup untuk membuat aku melupakan kesalahanmu."
"Sekarang Briana ada di apartemenku Nona, anda bisa menemui dia sekarang, aku sudah meninggalkannya sejak semalam," kata Leon.
__ADS_1
"Kamu yakin sudah ikhlas melepas wanitamu? tidakkah kau ingin berkhianat dan membawanya lari ke luar negeri?"
" Tidak Nona, saya tidak mungkin melakukannya, apa yang anda lakukan pada ibu saya, tidak akan pernah saya lupakan."
"Bagus Leon." kata Nayara.
"Iya, Nona." kata Leon berusaha tegar. Dia juga memberi tahu Nayara nomor kode pintu apartement agar mudah masuk.
"Nayara yang sudah ditemani oleh dua orang lelaki bayaran segera menuju apartement Leon.
Briana masih belum curiga kalau Leon bekerja sama dengan Nayara, Briana bisa melihat cinta Leon yang tulus. Dan lelaki itu juga selalu memanjakannya.
Leon pun sama, akan tetapi dia lebih mencintai ibunya, itu sebabnya dia berfikir ratusan kali jika ingin berkhianat dari Nayara. Saat ini ibunya masih terus butuh perawatan yang tidak sedikit, dan Nayara selalu memenuhi semuanya.
"Tok! Tok!"
Nayara lebih memilih mengetuk pintu daripada membuka sendiri menggunakan pasport. Sedangkan kedua lelaki bayaran diminta untuk bersembunyi terlebih dahulu. Nayara tak sabar melihat ekspresi terkejut Briana.
.
Briana yang masih menggunakan jubah mandi segera mendekati pintu, dia yakin yang datang adalah Leon. Lelaki itu sudah dia tunggu sejak semalam.
Briana terbengong saat membuka pintu yang dilihat bukan Leon, kekasih hatinya yang dikira kaya raya itu.
"Nayara ...."
"Benar Kakak. Apa kabar?"
Briana segera menutup pintu dengan cepat. tapi sayangnya Nayara sudah lebih dulu masuk dan menahan pintu.
"Nay, apa yang kamu inginkan?"
"Apa yang aku inginkan? kamu masih bertanya?" Nayara memasang wajah sinis.
Nayara menutup pintu pelan sedangkan Briana mundur beberapa langkah."Pergi dari sini, jangan mengusikku lagi."
"Pergi!! kau mengusirku Kakak?" Kata Nayara.
"Pergi tanpa melakukan apapun itu tidak mungkin Kakak." kata Nayara.
"Jangan lakukan apapun padaku, kamu akan dipenjara."
__ADS_1
"Apa? dipenjara? hahaha. Bagaimana bisa?! Jika kamu dan Mama Diana telah menghabisi kedua orangtuaku bisa berkeliaran sampai saat ini, kenapa aku dipenjara?" Nayara tidak mau kalah telak.
"Katakan padaku, kenapa kau bisa menikah dengan Morgan, bukankah dia adalah kekasihku?" Nayara berusaha menggali informasi, jadi dia tidak hanya mendengar hanya dari sisi Morgan saja.
"Morgan? Maafkan aku Nay, aku tidak bermaksud merebut Morgan darimu, tapi dia ... dia tidak pernah tulus mencintaimu." kata Briana berusaha berakting sebaik mungkin seolah cerita yang disampaikan adalah kabar paling benar.
"Kamu bohong!" Nayara mencekik leher Briana, Nayara tahu membuat gadis itu bicara jujur, Briana butuh sebuah tekanan.
"Morgan memang mencintaimu, dia adalah pacar kamu, dia juga selalu memberi hadiah istimewa untukmu setiap waktu. tak ada lelaki sebaik dia di dunia ini yang memperhatikan dirimu Nay."
Nayara terlihat lega mendengar kalimat Briana. "Tapi ada yang harus kamu tahu, saat aku datang ke rumah kamu, semua berubah, berlahan Morgan juga menggodaku, dia juga mengatakan kalimat manis padaku, dia yang saat itu terpesona dengan kecantikan ku, terus menggodaku dan akhirnya kami menjalin hubungan tanpa kamu ketahui."
"Kamu pasti bohong kan?" Nayara tidak percaya dengan ucapan Briana.
"Jika aku bohong kenapa kita menikah? Kenapa dia mencintaiku? kamu tahu hubungan kita baik-baik saja sebelum ada kamu. Dia bahkan tidak tertarik pada Naya sekretaris cantik, sebelum tahu kamu adalah Nayara wanita masa kecilnya." Briana terus mengarang cerita, dan menurut Nayara itu lebih masuk akal daripada cerita Morgan.
"Cukup!! aku sudah cukup mendengar semuanya cerita palsu darimu. Tidak penting siapa yang dicintai Morgan, tapi aku datang kesini untuk membuat perhitungan karena kamu adalah bagian orang yang sudah menghancurkan keluargaku." Nayara terus bergerak maju, seakan ingin menerkam Briana, sedangkan lawan terus mundur karena Nayara membawa jarum suntik berisi racun mematikan.
"Nay, jangan lakukan itu padaku, aku tidak melakukan apapun, aku melakukan semuanya karena Mama terus mendesakku."
"Aku tidak peduli, siapa yang paling bersalah yang jelas kalian berdua harus matiii!!"
"Nay, jangan Nay." Aku berjanji akan memberikan apa yang kau inginkan, tapi jangan bunuh aku."
Nayara justru tertawa. Tertawa Nayara sangat mengerikan, sosok lembut dan anggun seakan tidak terlihat lagi, Nayara menjadi wanita yang menakutkan.
"Nay, aku tahu kamu adik yang sangat baik, aku tahu kamu tidak akan tega menyakiti siapapun, membunuh seekor semut saja kamu tidak akan tega." kata Briana sambil terus berjalan mundur. Langkahnya terhenti ketika. tubuhnya sudah mentok
Menempel pada dinding.
"Uhuk! uhuk! Nay, jangan. Aku mohon."
"Semua terlambat, semua sudah terlambat Kakak," kata Nayara yang tak ada niat untuk melepas tangannya dari leher Briana.
"Nay, kita bisa perbaiki semuanya, aku minta maaf." mohon Briana.
"Maaf? hahaha. Tidak semudah itu memaafkan. Dimana hari nurani mu saat aku memohon maaf agar kau tidak mengikatku di gudang dan kau meninggalkanku seharian bersama kecoak menjijikkan."
Satu persatu ingatan Nayara mulai kembali. Nayara ingat Briana mengurungnya di gudang seharian. Nayara yang takut dengan gelap begitu ketakutan hingga dia pingsan.
*Nayara saat marah menyeramkan juga ya. yuk kasih Emak Like, Comen dan Vote untuk penambah semangat.
__ADS_1