
"Kamu beneran single?" Leon bertanya di sela sela minumnya.
"Jika aku sudah married, mungkin aku sekarang tidak disini sendiri, Briana, sambil menatap Leon yang begitu tampan, rambutnya disisir kebelakang semakin menambah kesan berkarisma.
"Leon, aku sedang banyak masalah, aku butuh seseorang untuk menjadi temanku," eluh Briana.
"Jangan takut, aku akan menjadi temanmu." Leon.
"Ya, mungkin kamu yang bisa ku percaya." Briana menyandarkan tubuhnya di bahu Leon.
"Katakan saja, apa yang membuat harimu tak bahagia." Leon mengelus rambut Briana.
"Sebenarnya aku bahagia. Tapi akhir ini hidupku mulai tidak nyaman semenjak dia datang, dia sangat mirip dengan orang yang aku benci, suaranya, matanya, aku ingin sekali menyingkirkan dia." Briana terlihat menahan emosi, rahangnya mengetat saat mengingat nama nayara
Leon hanya tersenyum menanggapi ocehan Briana.
Sesekali dia mengirimkan pesan pada Nayara.
Leon: [Nona, aku sudah bersama dengan dia, ternyata aku tidak butuh banyak energi untuk membuatnya berada dalam dekapanku]
Nayara: [Bagus, ambil gambar kedekatan kalian berdua, dengan hati-hati. Hasilnya segera kirim padaku. Jngan sampai di curiga atau semua rencana kita berakhir]
Leon: [Nona, aku akan ambil foto kita disaat yang pas. Tapi saat ini belum memungkinkan. Aku harus mengambil kepercayaan dia terlebih dahulu.]
Nayara: [Baiklah, aku menunggu kabar baik darimu]
Leon: [Siap Nona] Leon kembali menyembunyikan ponselnya karena Briana ikut menatap ke layar ponselnya.
"Siapa? Pasti pacar kamu ya?" Suara Briana membuat Leon kaget
"Bukan. Dari ibu aku."
"Ibu kamu perhatian ya, dia selalu telfonin kamu SMS kamu, mungkin takut anaknya hamil," kata Briana mengejek.
"Berhenti meledek, atau aku akan mencium bibirmu."
"Kenapa tidak kau lakukan?"
"Kamu mau aku cium?" Leon terlihat bersemangat.
"Siapa yang bisa menolak lelaki setampan kamu?" Briana menatap Leon dengan wajah sayu, mengelus wajahnya. sepertinya sedikit demi sedikit, alkohol sudah mulai mengacaukan akal sehatnya.
"Leon ayo cium aku." Briana memajukan bibirnya, tangannya menarik tengkuk Leon.
__ADS_1
Leon terkejut dengan tingkah agresif Briana.
Leon belum bergerak untuk mencium Briana, tapi wanita itu lebih dulu mendaratkan ciuman di bibir Leon. Briana begitu hebat saat berciuman, rasanya sangat manis. Bahkan Leon mengakui Briana lebih pakar dari para kupu-kupu malam yang pernah melayaninya.
"Leon kamu kenapa?" Tanya Briana, mendapati Leon yang berekspresi datar
"Tidak apa-apa." leon mengusap bibirnya yang terasa kebas.
"Kamu belum pernah berciuman ya? kamu kaku banget," ledek Briana.
"Pernah, aku hanya belum siap saja." jawab Leon gugup. Rupanya pekerjaan dari Nayara membuat Leon setiap saat harus tahan godaan, dan kuat iman.
Leon sebenarnya bisa saja membuat Briana menjadi milik sepenuhnya malam ini, tapi entah kenapa Nayara memberi peringatan keras supaya tidak meniduri Briana. Nayara tidak mau Leon akan mendapat masalah dengan wanita licik itu, Nayara takut Leon akan membuat Briana hamil dan rencananya akan berekor panjang.
"Mari kita gabung sama mereka, Leon." Briana menunjuk ke arah kumpulan seseorang yang sedang asyik berjoget di bawah kerlib lampu dan diiringi musik, mereka berjoget tanpa beban seolah tak memiliki masalah apapun, dunianya begitu bebas dan indah.
"Baiklah, mari kita kesana." Leon mengulurkan tangannya dan disambut manja oleh Briana.
Leon dan Briana bergabung dan berjoget ria, baju Briana yang seksi membuat Leon berulang kali meneguk Saliva. Bagaimanapun dia adalah pria normal.
Mereka berciuman, berpelukan, berulang ulang kali saat musik sengaja berhenti dan ketika lampu tiba-tiba padam.
Leon malam ini menang banyak. Saat mabuk, Briana lebih agresif dan menggoda, dia tidak menolak sama sekali saat Leon mengecup pipi leher dan meremas gunungnya.
***
Nayara berada di dapur bersama Tuti. Tuti mengambilkan celemek untuk Nayara sebelum memasak.
"Nona, yakin ingin masak untuk tuan Morgan?" Tuti tak percaya Nayara yang begitu cantik dan menggemaskan bisa memasak, melihat kulit tangannya yang lembut dan warna kuku yang cantik rasanya sayang kalau menyentuh bumbu dapur dan sayuran.
"Kenapa memangnya, Tuti?"
"Aneh dan heran saja, soalnya kukunya cantik, apa nggak sayang!" tanya Tuti dengan logatnya yang lucu.
"Emangnya kalau punya kuku cantik nggak boleh masak?"
"Nyonya Briana tidak pernah masak, dia selalu beralasan takut kulitnya kusut, kukunya jelek, dan tubuhnya jadi bau."
Nayara hanya menanggapi ucapan Tuti dengan senyum. "Tuti, wanita harus memasak untuk suaminya kelak, bagiku wajib bagi wanita bisa memasak dan menyenangkan perut suami."
Nayara mulai membuat bubur sum sum untuk morgan, selain itu Nayara juga membuat hidangan lain. hanya saja bubur sum sum dimasak paling awal. karena Nayara mencurigai lelaki itu akhir-akhir ini mengabaikan makan
"Nona, Tuan Morgan tidak suka bubur, katanya itu masakan Bayi."
__ADS_1
"Dia bilang begitu?"
"Iya Nona, setiap kali Tuti membuat untuk Tuan tidak pernah dimakan."
"Dia ternyata bandel sekali Tuti, jika aku punya majikan seperti itu, aku pasti sudah memberinya bubuk racun tikus."
"Nona, anda jangan sembarangan, Tuan Morgan akan murka kalau mendengarnya.
"Apa yang bisa dia lakukan kalau mendengarnya?"
"Nona." Tuti tersenyum. Tak percaya dengan keberanian Nayara
"Aku sudah mendengar semuanya, Tuti." Morgan ternyata sudah ada di ambang pintu sambil bersandar.
Tuti segera menoleh ke belakang, wajahnya seketika pucat pasi dan menunduk.
"Tuan, saya tidak ikut-ikut."
"Hey Tuti, apa yang kamu katakan? jelas-jelas kita berdua disini." kata Nayara yang menahan tawa melihat Tuti lari terbirit-birit.
"Nay, apa yang kamu katakan? kamu mau ngasih aku racun tikus? Mau ngajarin mereka ngelunjak"
"Itu kalau anda nakal Tuan, tidak mau makan bubur buatan saya." Nayara membalikkan tubuhnya, mengabaikan Morgan dibelakang. Nayara takut bubur buatannya gosong.
"Aku memang tidak suka bubur, itu hanya makanan untuk bayi, lagi pula seumur hidup aku tidak pernah memakan makanan murahan." ketus Morgan.
"Tapi aku ingin anda tetap memakannya!" Nayara menatap wajah Morgan dengan kesal.
Morgan mendekati Nayara. mengamati tubuh sekretarisnya yang sibuk mengaduk bubur, Nayara tampak cantik dan menggemaskan ketika memakai celemek dan diikat di pinggang.Tubuh Nayara semakin terlihat seksi. bergerak-gerak seolah menggoda Morgan.
Morgan memeluk Nayara dari belakang. Nayara tentu terkejut lelaki itu berani bertindak begitu jauh .
"Pak, apa yang anda lakukan?"
"Apa perlu aku jelaskan? Aku hanya melakukan yang menurutku bisa memberiku kenyamanan."
" Jika asisten anda melihat, dia akan melapor pada Istri anda."
"Tuti dan lainnya tidak akan melapor, Tidak akan ada untungnya bagi mereka." jawab Morgan dengan nafasnya yang hangat mulai menerpa tengkuk Nayara.
Morgan mempererat pelukannya, lelaki itu mencoba memejamkan mata sambil menempelkan kepala di pundak Nayara. Morgan merasakan begitu nyaman diposisi ini.
"Nayara membiarkan Morgan menenangkan diri, dia tahu beberapa hari ini ada beban berat yang di pikul oleh atasannya, Nayara bisa melihat semuanya dari tatapan Morgan.
__ADS_1
Setelah beberapa menit berlalu, Nayara melepaskan tangan Morgan. "Pak masakannya sudah matang, aku harus siapkan masakan yang lainnya."
"Nay, diamlah." Morgan bukan melepas lengannya di pinggang Nayara, tapi lelaki itu justru mempererat pelukannya.