
"Nay ... Nay ... bangun Nay!" Belvan menyingkap rambut Nayara supaya bisa melihat wajah wanita yang begitu dia sayangi.
Alangkah terkejut Belvan mendapati luka lebam di wajah dan tubuh Nayara dan lebih mengenaskan lagi, wanita itu tak sadarkan diri.
"Nay bangun Nay, aku datang untuk membawamu pergi dari sini, Nay ..."
Belvan menarik dagu Nayara, ingin melihat wajah penuh luka itu lebih jelas lagi.
"Ya Tuhan, Nayara kamu ..." Belvan menutup mulutnya tak percaya kalau lukanya separah ini. Benar benar iblis yang telah tega menyiksa wanita lembut dan seimut Nayara.
Tangan Belvan mengepal kuat memukul lantai dengan keras karena geram, hingga darah mengucur ke sela-sela jarinya.
"Nay, buka matamu! Nay ... Nay ...." Belvan nampak panik karena Nayara tak kunjung membuka mata.
Belvan memeluk Nayara, lelaki itu merasakan suhu tubuh Nayara panas.
Belvan membuka borgol yang membelenggu tangan Nayara, setelah menemukan di saku Bondan. Dugaan Belvan tidak meleset kalau laki-laki itu yang menyimpannya.
Belvan tidak mau menunda lagi, dia membawa tubuh Naya dalam dekapannya, dia memanggul tubuh Naya hingga tangan dan kepalanya bergelantung di punggung lelaki itu sedangkan kedua kakinya dipeluk erat.
Dengan langkah hati-hati Belvan mengendap-endap keluar sambil membawa Nayara.
Belvan juga menghubungi asistennya yang tengah mengawasi kondisi luar gudang. Asisten mengatakan kalau kondisi saat ini aman terkendali.
"Bagus, bawa mobil mendekat, keadaan di dalam juga sudah teratasi, Nayara sedang dalam kondisi buruk, dia belum siuman."
"Baik Tuan Belvan, tunggu sekitar lima menit."
Tidak sampai tiga menit, mobil yang dikemudikan Asistentl sudah tiba. Dengan gerakan gesit sang Asisten membuka pintu penumpang untuk Nayara dan Belvan.
"Tuan kasian sekali Nona Nayara."
"Ini yang dia inginkan, aku sudah sering menawarkan bantuan tapi selalu ditolak."
"Musuh Nona sangat kuat, dia tidak akan menang melawannya."
"Kamu benar, tapi kepuasan tersendiri bagi Nayara jika dia berhasil dengan usahanya sendiri.
Setelah mereka berhasil masuk dan membenarkan posisi duduk Nayara dengan baik.Belvan meminta asistent pribadinya untuk cepat pergi, mengantar ke klinik pribadi milik keluarganya, Belvan ingin Nayara mendapat perawatan terbaik dan dokter yang tak diragukan lagi keahliannya.
Selama dalam perjalanan Belvan terus membantu Nayara bangun dengan cara terus memanggilnya. "Nayara bangunlah, Nay. lihatlah kamu sekarang sudah aman, kamu di dekat ku Nay," kata Belvan sambil memeluk tubuh kotor Nayara.
Sebelum nayara siuman Belvan masih berusaha keras untuk membangunkan Nayara, Belvan takut Nayara terlanjur tidur untuk selamanya. Andai itu terjadi Belvan tidak akan memaafkan dirinya seumur hidup.
__ADS_1
Usaha Belvan membuahkan hasil, berlahan kelopak mata Nayara berkedut, dan terbuka meski dengan tatapannya sayu.
Belvan mengendurkan dekapannya, menyandarkan tubuh Nayara pada sandaran kursi yang diduduki, agar paru-parunya lebih leluasa untuk meraup oksigen.
Pandangan mata Nayara yang tadi gelap gulita, berlahan bisa mengenali orang disekitarnya.
"Belvan!" lirih Nayara.
"Iya, Nay, ini aku. Kamu sudah aman."
"Belvan, yang terjadi sangat buruk. jangan mendekat tubuhku kotor dan basah." Nayara merasa Belvan tidak pantas dekat dengannya, tubuhnya terlalu kotor dan Belvan terlalu spesial.
"Sudahlah, jangan berpikir macam-macam. Aku akan membawamu pada kakakku. Dia akan mengobati lukamu hingga sembuh.
"Belvan dia sangat kejam, tubuhku seperti sedang dikuliti, semua perih dan sakit." Nayara menitikkan airmata hingga menjadi tangis pilu dalam dekapan dada Belvan.
Belvan mengelus rambut Nayara untuk memberi ketenangan. " Sudah, sekarang aku bersamamu. kita sebentar lagi akan sampai."
"Nayara sedikit lebih tenang, Belvan kini ada disampingnya. Nayara masih ingat betul bagaimana Briana dengan kejam menyiksa dirinya.
***
Tomi terlihat gelisah karena dia terjebak pada kayu roboh di depan mobilnya, jauh dibelakang sana juga ada kayu roboh lagi.
"Pak, Sepertinya kita akan terus terjebak di sini sampai besok pagi."
"Sial!! Tom cari cara secepatnya, aku akan berusaha untuk masuk ke hutan lebih dulu." Morgan menatap hutan lebat di depannya.
"Tuan, jika anda memaksa masuk, bagaimana kalau anda menemui hewan buas, bukankah anda sangat takut dengan ular."
"Tidak ada pilihan Tomi, nyawa Nayara lebih berharga.
"Baiklah, Tuan. Aku akan ikut bersama anda, kita tinggalkan saja mobil disini," kata Tomi. Sopir itu keluar dari mobil la*borgini yang bisa dibilang harganya milyaran rupiah.
Dua lelaki itu segera berjalan masuk hutan melewati jalan setapak dan bebatuan, karena jalan utama tidak bisa dilewati.
Morgan berjalan menyusuri hutan tanpa tujuan pasti, petunjuk yang dia dapat hilang karena Briana mematikan ponselnya.
"Tomi, suruh orang-orang kita untuk menyisir hutan. Aku tidak mau sampai terjadi apa-apa dengan Nayara, kita harus bergerak cepat.
"Siap Tuan. mereka sudah dalam perjalanan."
"Baiklah." Morgan mengangguk sambil berjalan senpoyongan. wajahnya terlihat pucat, Dia kurang enak badan karena beberapa hati ini lupa makan.
__ADS_1
"Tuan anda sakit!"
"Tidak apa-apa Tomi, nanti aku akan sembuh, aku sudah minum obat." Dusta Morgan.
"Tuan ..." Tomi ingin berkata lagi tapi Morgan mencegahnya.
"Yang terpenting Nayara, dia harus segera di temukan, aku tidak akan makan sebelum bertemu dengan dia."
"Tuan, kalau anda sakit, bagaimana anda bisa mencari Nona Nayara."
Sudahlah Tomi, aku akan baik baik saja."
Tomi dan Morgan mendekati Markas, alangkah terkejut dia melihat beberapa orang tengah tergeletak seperti orang mati. "Tuan telah terjadi sesuatu ditempat ini, apakah mereka penculik Nona Nayara."
"Tomi berhati-hatilah, apakah mereka tidur, atau sedang pura-pura." Morgan berjalan melewati para penculik yang sudah terlelap dalam mimpi indahnya.
Tomi dan Morgan berjalan mengendap seperti seorang pencuri, . " Tuan sepertinya mereka sedang mabuk."
"Hmm, tapi dimana Nayara?" Morgan menatap kearah kursi tua yang kosong, Pandangan Morgan berpindah ke sebuah tiang dan borgol yang tergeletak.
"Tuan, darah ini masih segar," kata Tomi.
Morgan segera beranjak, tertarik melihat darah yang dikatakan oleh Tomi.
"Tidak salah lagi, mereka melakukan penyiksaan pada Nayara di tempat ini."
"Tapi Tuan, Dimana Nona sekarang?"
"Apa mereka memindahkan ke tempat lain?"
"Tidak mungkin, melihat mereka semua masih disini, sepertinya Nayara sudah berhasil bebas."
"Saya sependapat Tuan. Bisa jadi Tuan Belvan lebih dulu datang dan menyelamatkan Nona."
"Belvan!" Morgan ingat kalau selain dirinya ada Belvan yang juga sangat perhatian dengannya.
"Iya, Tuan."
"Syukurlah, jika Belvan sudah berhasil membawa Nayara pergi."
Morgan lega, Nayara sudah diselamatkan oleh Belvan.
Morgan segera meninggalkan kastil tua dengan langkah sempoyongan. Tomi dengan sabar membimbing Morgan kembali ke mobil.
__ADS_1