Sekretaris Nakal (Balas dendam)

Sekretaris Nakal (Balas dendam)
Pagi hangat


__ADS_3

Nayara berjalan pelan menuju kolam, dia jatuhkan handuk kimono ke lantai hingga menyisakan baju renang mini. langkahnya pelan penuh dengan beban. Ya, Nayara berhadap dengan berendam di kolam renang apa yang dia pikirkan akan terasa ringan.


Hanya lima belas langkah dari kamar menuju kolam renang. Tiba di bibir kolam Nayara menceburkan diri dan tenggelam didasar untuk beberapa menit. ternyata dia hanya mampu bertahan dua menit di dasar kolam.


Nayara biasa melakukan renang ketika kegelisahan mulai mendera. Ini bukan yang pertama dia lakukan. Sebelum Nayara menusuk Briana, dia juga melakukan hal yang sama. Dan akhirnya Nayara urung membunuh wanita itu karena masih punya hati nurani.


"Dimana Naya, Bi?" Tanya Morgan.


Bibi menjawab dengan cemas, karena tadi Nayara meminta untuk tak seorangpun datang mengganggunya. "Nona sedang Tidak bisa di ganggu Tuan. Mending tuan tunggu saja di sini, kita sarapan bareng," kata Bi Nunik menggoda Morgan.


"Dimana dia, Bi?!" Morgan membentak bibi, dia sedang tidak ingin bercanda, wajahnya terlihat serius, sampai Bi Nunik tidak berani menggodanya lagi.


"Dia ada di kolam, Tuan." jawab Bibi dengan wajah ketakutan.


Morgan segera berjalan menuju kolam renang, gerakannya sangat cepat, bahkan saat bibi menoleh bayangannya sudah tidak terlihat.


"Tuan Tampan ternyata sangat galak," celetuk bibi.


Morgan mencari Nayara dengan menyisir sekitar kolam, tiba-tiba dia terkejut setelah Nayara keluar dan memperlihatkan kepalanya.


Morgan senang telah menemukan Nayara. Lelaki itu melihat Nayara mengepakkan tangannya dan kakinya bergantian membuat tubuhnya ingin ikut mencicipi segarnya air kolam ukuran mini di apartement Nayara itu. Ukurannya sangat jauh berbeda dengan yang ada di rumahnya.


Morgan diam-diam ikut melepaskan kemeja, kaos dan celana panjang, kini tinggallah celana pendek yang melekat menutupi aset berharganya.


Morgan mendekati kolam meski Nayara yang baru melihat kehadirannya mengisyaratkan untuk tidak mendekat. Nayara juga bersiap keluar kalau dia ikut menceburkan diri maka dirinya akan keluar dan menyudahi semuanya.


"Nay! tangan Morgan dengan sigap meraih jemari Nayara, lelaki itu menariknya hingga kepala Nayara jatuh membentur di dada bidangnya.


Morgan memeluk Nayara erat, Morgan takut benar benar berpisah dari wanita yang sangat dia cintai itu. "Nay, aku tidak peduli meski kau sudah memakai cincin tunangan dari Belvan. Aku akan terus berusaha untuk mendapatkan dirimu sepenuhnya."

__ADS_1


Entah Kenapa sesaat Nayara merasa senang Morgan berkata demikian.


"Belvan sudah cerita?" tanya Nayara.


Morgan mengangguk. "Hem. Aku akan terus berusaha untuk mendapatkan cintaku."


"Sekarang lebih baik kita jaga jarak Tuan Morgan, kita kembalikan lagi hubungan kita seperti saat pertama kali aku datang, kau yang selalu membenciku dan tidak ada hubungan lebih, Selain atasan dan bawahan."


"Tidak bisa Nay, tidak bisa, kau yang datang lebih dulu di hidupku disaat aku berusaha move-on, kau menggodaku, kau harus bertanggung jawab dengan perasaanku yang mulai jatuh cinta lagi ini," kata Morgan terus meminta pertanggung jawaban pada Nayara.


"Aku tidak pernah ingin mengusik hidupmu, kecuali untuk balas dendam," jawab Nayara. wanita itu juga merasakan jakun Morgan naik turun meneguk salivanya.


Morgan menarik dagu Nayara, gadis itu mendongak ke atas tepat di bawah bibir Morgan. "Aku datang sebenarnya untuk membuatmu hancur bersama hancurnya Briana."


"Hancurkan aku, aku rela hancur ditangan mu, Sayang." Morgan menatap Nayara dengan tatapan sayu.


"Aku ingin melihat bagaimana kau menghancurkan aku, Sayang. Aku rela jika kamu yang melakukan. Aku pantas menerima kemarahanmu."


Bi Nunik datang membawa satu buah juice dan yogurt.


"Ettttt, Maaf Nona. ini juice yang anda minta. karena tidak tahu kalau Tuan Morgan ada disini, aku akan buat lagi." Bi Nunik berkata dengan tangan gemetar.


Nayara dan Morgan tersenyum. "Em bibi, sudahlah aku tidak butuh minum. beri aku waktu untuk berdua dengan Nayara saja." kata Morgan.


Bibi mengangguk patuh sambil memeluk nampan. "Baik Tuan." wanita paruh baya itu segera pergi dengan cepat.


"Dia selalu datang untuk mengganggu kita." kata Morgan.


"Kedatangan dia sangat tepat, dia datang untuk menggagalkan pencuri sepertimu. Kau sudah mencuri ciuman milik tunangan orang lain."

__ADS_1


"Tidak, Belvan yang mencuri milikku , Aku tahu meski kamu tidak ingat tapi masih ada cinta di lubuk hati sini." kata Morgan menyentuh dada Nayara dengan telunjuknya.


Saat mereka sedang ingin bermesraan lebih lama tiba-tiba Morgan mendapat telepon dari penjaga Mansion jika Briana sudah kabur lewat pintu belakang.


Morgan tentu marah bukan main, tadinya dia ingin menyerahkan pada Nayara. Tapi justru semua rencananya gagal.


'Wanitamu itu memang sangat pandai melarikan diri, dia licin seperti belut. Tapi aku memang sengaja membiarkan dia merasa menang, sebenarnya kemanapun dia pergi aku sudah memiliki rencana baru."


Leon ternyata masih setia dengan Nayara, kemanapun Briana berada Leon selalu memberi informasi. Sedangkan Briana sangat percaya kalau Leon adalah penolong terakhirnya setelah Morgan tidak sudi dengannya.


"Kau berubah sangat banyak, Naya. Aku jadi lebih menakutkan." kata Morgan sambil meraih handuk Nayara dan memakaikannya. Iman Morgan terlalu tipis untuk bisa menyaksikan keseksian tubuh wanita yang selalu dianggap kekasihnya itu.


"Aku berubah karena mereka telah menghancurkan hidupku. Aku harus kehilangan kebahagiaanku bersama orang tuaku. Dia harus membayar mahal semua perbuatan keji karena sudah meracuni Papa dan Mama, hingga dia menjemput kematian dengan cara yang sangat menyakitkan."


"Jika kamu masih memiliki cinta untuk Briana, lindungi dia dariku." kata Nayara menatap Morgan dengan sorot tajam namun ada bulir kristal yang menggenang di pelupuk matanya.


Nayara meninggalkan Morgan yang berdiri mematung dengan celana basah. Morgan mengamati tubuh yang selalu membuatnya gagal berpaling itu hingga belok ke kamar. Dia tidak menyalahkan Nayara jika hidupnya penuh dendam, akan tetapi Morgan tidak ingin Nayara sampai melampui batas dan berdampak buruk untuk dirinya.


Tak lama Bibi datang dengan membawa handuk untuk Morgan.


"Tuan Tampan, ini handuk untuk anda." kata Bibi sambil senyum senyum dan matanya berkedip cepat.


Bibi kagum dengan pahatan indah dan perut kotak milik Morgan. belum lagi senjata pamungkasnya yang menonjol di balik celana basahnya.


"Ahmmm, Tuan, jika anda kesulitan bibi bisa membantu mengeringkan punggung anda." bibi lagi-lagi menawarkan bantuan dengan gayanya yang genit, seolah tak ada bosannya menggoda Morgan.


"Tidak terima kasih." kata Morgan lelaki itu mengambil handuk di tangan bibi. Morgan dengan acuh membersihkan tubuhnya. Bibi yang ada didekatnya berkali-kali meneguk salivanya.


"Bibi kenapa?" Tanya Morgan yang melihat hihi senyum senyum sendiri.

__ADS_1


"Tidak ada apa apa, Tuan," kata Bibi.


"Nggak pernah lihat orang ganteng ya?" Morgan mengembalikan handuk lalu pergi mengambil bajunya yang tergeletak.


__ADS_2