Sekretaris Nakal (Balas dendam)

Sekretaris Nakal (Balas dendam)
Titik terang


__ADS_3

Hari ini Briana pulang, dia berulang kali menghubungi Morgan supaya menjemputnya di bandara tapi sayang sekali Morgan mengabaikan panggilannya.


Morgan dan Tomi hari ini memilih untuk mencari informasi tentang kematian Naya ke sebuah rumah sakit. tempat dimana dulu Naya dirawat pasca kecelakaan.


"Tuan apakah menurut anda rumah sakit masih menyimpan datanya?" tanya Tomi.


"Menurutku masih, data itu akan selalu ada sampai kapanpun," jawab Morgan.


Butuh waktu lumayan lama untuk sampai di rumah sakit dimana Nayara dulu dirawat dan dinyatakan meninggal.


Morgan segera menemui dokter yang menangani Nayara waktu itu. Dokter kebetulan masih bekerja di rumah sakit yang sama sampai saat ini.


Dokter itu sudah tua rambutnya juga sudah memutih, tapi daya ingatnya masih setia. 


Morgan meminta waktu khusus pada Dokter. Dokter tidak keberatan mengingat waktunya sedang senggang. 


Morgan dan dokter berbicara serius berdua. 


"Dokter apakah anda ingat dengan pasien anda tiga belas tahun yang lalu, Gadis kecil bernama Naya?"


Dokter terkejut karena tak menduga kalau lelaki tampan di depannya akan kembali mengungkit sebuah tragedi puluhan tahun itu lagi. Dimana pertama kalinya dia melakukan kebohongan pada publik tentang kondisi pasien. 


"Anda siapa?" Raut wajah dokter terlihat langsung berubah. 


"Siapa saya tidak penting, yang penting sekarang adalah berkata dengan jujur, atau anda akan menyesal." Morgan kembali menunjukkan kekuasaannya.


"Jangan mengancam, saya tidak mudah diancam. Karena saya selama ini tidak pernah melakukan kecurangan dengan siapapun," jawab Dokter 


"Bagus, sekarang jawab jujur, apakah pasien bernama Naya waktu itu sudah meninggal. Atau sebenarnya dia masih hidup."


"Tentu dia sudah meninggal, kondisi tubuhnya sangat mengenaskan, tidak ada manusia yang bisa bertahan dengan luka separah itu, kecuali jika ada keajaiban. 


"Dokter, aku ingin melihat data kematian Nayara yang anda simpan"


"Baiklah." Dokter beranjak mendekati sebuah lemari besar, berisi buku yang sudah disimpan berpuluh tahun lamanya. Banyak buku yang tersimpan di sana dan mulai berdebu. 


Dokter segera mengambil salah satu buku berdebu yang bertuliskan tahun kejadian yang dicari.  Mengelap terlebih dahulu baru membuka. Mereka berdua segera melihat data tiap pasien. 


Setelah dibuka, dokter mencari nama pasien bernama Nayara Putri Hermawan, dan lengkap dengan riwayat sakitnya. 


Akhirnya dokter dan Morgan menemukan nama Nayara Putri Hermawan. Sedangkan Nayara yang menjadi sekretarisnya adalah Nayara Anggelina. 


Data dalam buku menunjukkan kalau, Nayara Putri Hermawan telah meninggal karena mengalami banyak luka patah, serta luka berat di bagian wajah dan kepala, Nayara juga kehabisan banyak darah dan transfusi datang sedikit terlambat. 


"Tuan, Naya yang anda cari sudah meninggal, dia tidak mungkin hidup lagi," jawab Dokter.


"Tapi kenapa dia sangat mirip," lirih Morgan, raut kecewa kembali terlihat diwajahnya.


Asal anda tahu di dunia  ini memang ada beberapa orang mirip, dan nyaris mempunyai tingkah laku dan hobi yang sama, suara yang sama. 


"Tidak mungkin Naya sudah meninggal. Nayaku masih hidup!!" Morgan memukul lemari hingga tangannya terluka. Morgan tidak bisa mengendalikan emosinya. 

__ADS_1


Beberapa hari dia telah banyak berharap kalau Nayara sekretarisnya yang hilang ingatan adalah wanita yang sama dengan kekasih kecilnya. 


Anda sekarang sudah tahu sebenarnya, jadi anda tidak perlu menyamakan karakter seseorang dengan yang anda cintai, karena dia memang orang yang berbeda. 


"Tolong periksa sekali lagi," pinta Morgan meski terdengar konyol.


"Tuan, anda sepertinya harus terima kenyataan, jika disini tertulis Naya sudah meninggal, pasti Naya kekasih anda memang sudah meninggal. 


"Tomi, aku tidak percaya, semua ini pasti keliru, dokter telah salah menulis data Nayara." Ini pertama kalinya Morgan terlihat kehilangan kewarasan. 


Tomi tidak menyangka lelaki yang angkuh ternyata bisa lemah karena cinta yang kandas dan berakhir menyedihkan. 


"Tuan sebaiknya kita pulang sekarang, Nona Briana menelponku puluhan kali, dia marah karena anda tidak mengangkat panggilannya."


"Marah! Biarkan saja wanita itu marah."


"Tuan saran saya sebaiknya tetaplah bersikap baik, dan tetap rahasiakan semua ini, karena akan berdampak sangat buruk untuk Nona Nayara Anggelina." 


"Saya juga sependapat dengan Anda, Nona Nayara Putri dan Nayara Angelina memang memiliki kemiripan yang hampir lima puluh persen, jadi anda tidak salah jika mengira mereka orang yang sama. Sebaiknya Kita cari informasi lainnya."


"Kamu benar Tomi, sebaiknya kita cari informasi yang lain, bisa saja data ini memang sudah dipalsukan." kata Morgan sambil menatap dokter yang sedikit tegang dengan wajah ketakutan. 


Morgan dan Tomi memilih pergi meninggalkan rumah sakit, dia tidak mendapatkan apa yang diharapkan di rumah sakit ini. 


Di mobil, Morgan tampak tidak bicara sama sekali, dia menyandarkan kepalanya, sambil matanya terpejam. 


"Tuan kemana kita sekarang." 


"Pulang," jawab Morgan singkat.  Aku ingin tahu alasan Briana menyakiti Nayara, aku rasa dia menyembunyikan sesuatu. 


Morgan hendak membalas panggilan Briana tapi dia tidak menemukan ponselnya. 


"Tomi ponselku."


"Tuan pasti anda sudah meninggalkan di ruang dokter tadi."


"Kalau begitu kita harus kembali," perintah Morgan. 


Tomi segera memutar kemudi. Setelah tiba di rumah sakit. Morgan memilih untuk mengambil ponselnya sendiri. 


Saat membuka bangsal berisi segudang buku, Morgan masih melihat dokter tua itu di tempat. Dokter itu tidak menyadari kehadiran Morgan. Lelaki itu sedang sibuk telepon dengan seseorang, 


 Morgan sangat  penasaran, dengan siapa dokter itu berbicara. Morgan mencuri dengar perbincangan mereka. 


"Nyonya Maria, seseorang laki laki muda mencari informasi tentang keponakan anda. Aku khawatir dia akan mencari tahu tentang semuanya ketika informasi dari saya mengecewakan dia."


"Jangan pernah informasikan pada siapapun, aku tidak mau ada yang tahu kalau keponakanku masih hidup, nyawanya akan dalam bahaya." Aunty Maria nampak resah. 


"Siapa laki-laki itu!" tanya Maria lagi.


"Aku lupa menanyakan siapa dia, dia terlihat seperti bukan orang sembarangan."

__ADS_1


"Berjanjilah padaku untuk tetap jaga rahasia ini," pinta maria.


"Aku akan berjanji Nyonya," jawab Dokter.


"Ehm, kau berbohong padaku Dokter, kau mengatakan kalau Naya sudah meninggal tapi saat ini aku mendengar sendiri kalau dia masih hidup."


Tentu saja dokter terkejut melihat Morgan masih tetap di tempat, setahunya tadi dia sudah pergi.


"Naya sudah meninggal, kau salah dengar Tuan." Dokter sangat ketakutan. 


"Tidak perlu berbohong lagi, aku sudah mendengar semuanya, aku tidak akan melukaimu. Justru aku harus berterima kasih karena kau sudah menyelamatkan nyawa gadis kecilku." Morgan tidak ingin membuat dokter semakin ketakutan.


"Kamu siapa?"


"Aku lelaki yang sangat mencintai dia."


Kamu tidak berbohong Tuan?" Dokter sedikit lega. 


"Iya." 


Morgan menggeleng, "Aku akan melindungi dia, seperti caramu melindungi Nayaku," ucap Morgan.


"Aku sudah bersumpah akan merahasiakan semua ini. Tapi sekarang aku sudah melanggar sumpah itu." Dokter nampak sedih.


"Jangan khawatir, aku akan mencari siapa saja yang memperlakukan Nayaku tidak adil, aku akan membuatnya merasakan kesedihan seperti yang selama ini dia lakukan."


"Anda mungkin akan sulit mencarinya, karena kecelakaan itu wajahnya banyak berubah."


"Hati seseorang yang sudah bersatu sejak kecil tidak akan kesulitan mencari separuh nafasnya." kata Morgan penuh keyakinan.


Sebenarnya dokter bisa saja memberi tahu pada Morgan supaya bertanya saja kepada Maria, wanita yang merawatnya sejak kecil. Tapi sumpah yang dulu sudah diucapkan tentu akan mengurangi kepercayaan Maria. 


"Untung anda bukan salah satu orang yang mengincar kematian Nayara. Aku mohon bantu dia dan lindungi dari orang yang menginginkan nyawanya."


"Percaya padaku, aku bukan orang jahat." Morgan berusaha menghapus ketakutan Dokter.


Usai mengambil ponselnya Morgan kembali pamit, wajahnya tidak seburuk tadi, mengingat Naya kecilnya masih hidup, Morgan terlihat begitu bersemangat. Ada senyum kecil di bibirnya yang bisa Tomi lihat sejak laki-laki itu berjalan mendekatinya.


"Tuan, anda tiba-tiba sangat bahagia."


"Tentu aku bahagia, selama ini dugaanku benar, Naya masih hidup."


"Jika semua benar, surat wasiat itu hanyalah bohong, Tuan."


"Kamu benar, Briana telah membuat aku menikahinya karena sebuah surat palsu, Bodoh sekali aku selama ini, seharusnya aku tidak mempercayai orang-orang licik itu."


"Ya, dia sangat licik, dia menipu anda sejak lama."


"Aku akan membuat perhitungan padanya, pulang nanti kupastikan dia tidak akan lagi menginjakkan mansion milikku."


"Ingat Tuan, jika anda terlalu gegabah, dia akan mencari Naya, gadis kecil anda akan dalam masalah besar."

__ADS_1


"Kamu benar, Tomi." Morgan meminta Tomi untuk mengantarkan dirinya pulang. Morgan akan menemui Briana yang pasti saat ini sudah menunggunya 


 


__ADS_2