Sekretaris Nakal (Balas dendam)

Sekretaris Nakal (Balas dendam)
Kenyataan yang menyakitkan


__ADS_3

"Morgan, Aku menyayangimu dengan tulus. Jangan ceraikan aku, aku akan bersedia menjadi istri yang patuh, dan mengabdikan diri seumur hidup untukmu." Briana memeluk Morgan dan berusaha menggodanya dengan menempelkan tubuhnya yang tak memakai baju atasan kecuali kacamata berenda itu.


"Aku tidak akan memaafkanmu, meski kau menangis darah sekalipun, terima nasibmu, atau aku akan membuatmu tidak bisa merasakan nikmatnya hidup lagi." kata Morgan sambil memungut baju Briana dan melemparkan ke wajahnya.


Briana menjatuhkan tubuhnya dan bersimpuh. Tatapannya kosong tak memiliki mimpi lagi.


"Morgan. Kamu tega melakukannya ini padaku." Tanya Briana dengan air mata meleleh di kedua pipinya.


"Kenapa tidak? kau sudah membodohi ku selama ini." Morgan meneguk air dan sisanya dia lemparkan ke wajah Briana, membuat wajah gadis itu semakin basah.


"Kau sakiti Nayara dan nyaris membunuhnya, lalu kau gunakan surat palsu ini untuk menjebak ku. Setelah itu kau gunakan hartaku untuk bersenang-senang dengan mama kamu yang tamak itu. Kau dan mamamu sama-sama kejam." kata Morgan mengungkit semua kejahatan Briana.


"Aku melakukannya karena aku cemburu padamu, aku iri karena hanya Nayara yang kau perhatikan dan mendapatkan hadiah istimewa darimu. Sedangkan aku, aku sejak kecil tidak mendapat kasih sayang dari siapapun."


"Apapun alasannya, yang jelas kau adalah wanita jahat." kata Morgan semakin marah.


***


Morgan memerintahkan anak buahnya untuk membawa Briana dan mengurungnya di sebuah gudang rahasia yang tidak jauh dari Mansion.


Briana tidak percaya Morgan melakukan semuanya setelah dia kembali dari luar negeri.


Briana sekarang tahu kalau Morgan sudah lepas dari pengaruh obat yang selama ini dia berikan. Obat yang membuat dia patuh dan terus percaya dengan apa yang dia katakan.


Briana pergi terlalu lama akhir-akhir ini, jadi pengaruh obat pemberian dari mama Diana itu hilang khasiat.


Tapi Briana heran kenapa Morgan tidak merasakan sakit dan membutuhkan obat itu, atau efek candunya memang belum terlihat.


Briana menghubungi Diana dan mengatakan kalau Morgan tidak lagi percaya dengan kata katanya. Tapi yang didapat Briana bukan dukungan, Diana justru marah dan memakinya bodoh, dan tidak becus.


Tak lama Diana datang menyelinap seperti biasanya untuk membebaskan Briana sebelum dia sendiri melarikan diri untuk mengantisipasi bahaya.


"Dasar bodoh, menyesal mama melahirkan kamu, tidak berguna." Maki Diana ketika panggilan Briana belum terputus.

__ADS_1


"Mama kenapa selalu menyalahkan Briana?" protes Briana yang tidak mau disalahkan dalam segala hal.


"Ya, mama salahkan kamu, karena kamu selalu lebih pintar dari Nayara," kata Diana.


"Ini salah Mama karena tidak percaya saat aku bilang Nayara masih hidup." bantah Briana.


"Kalau begitu sekarang kamu memilih mana? membuat Nayara tetap hidup, dan kamu yang akan dihabisi atau sebaliknya?"


"Apakah kamu akan biarkan wanita itu membalas semuanya dan kita akan kalah dan mendekam di penjara? Mungkin penjara, tempat yang masih terlalu baik, tapi menurutku bukan penjara, dia akan mengirim kita berdua ke alam baka."


"Tidak, aku tidak akan biarkan Nayara melakukan semuanya padaku." Briana kembali menyelinap keluar dari gudang kosong bersama Diana, wanita itu benar benar seperti belut betina yang sangat licin untuk ditangkap, Diana memiliki taktik yang cerdik untuk lolos dari setiap bahaya.


Sedangkan Morgan menjemput Nayara untuk membawa pada Briana. Morgan berharap masalah Briana segera selesai dan mereka berdua bisa bahagia seperti dulu.


Morgan dan Tomi datang ke apartement Nayara. kebetulan Nayara dan Belvan juga baru tiba.


Morgan nampak cemburu karena Belvan yang dipilih Nayara untuk mengantar bibi dan pamannya ke bandara.


"Iya, Uncle dan Aunty yang meminta aku dan Belvan mengantarnya. Morgan, Aunty dan Uncle sudah kenal lama dan akrab dengan Belvan, selama kita tinggal di California." terang Nayara berusaha untuk menjelaskan pada Morgan pelan-pelan.


"Tapi apa salah jika aku mulai mengenalnya?" jawab Morgan dengan lirih. Sepertinya lelaki itu terluka dengan keputusan Nayara.


"Tidak, masih ada lain hari. Morgan apa boleh aku masuk dan istirahat." Nayara membuka pintu dan langsung masuk ke kamar meninggalkan Morgan dan Belvan di luar pintu. Masih banyak sekali yang ingin Morgan tanyakan, tapi Nayara terlihat moodnya sangat buruk.


Wajah Belvan terlihat sumringah, dia terlihat sangat bahagia. Belvan dan Morgan memilih duduk di balkon.


Morgan melihat Belvan memakai cincin, yang sebelumnya tidak pernah dia lihat, membuat darahnya berdesir hebat dan ingin segera bertanya tentang cincin itu. Akan tetapi Morgan tetap menjaga imagenya di depan Belvan. Dia tidak ingin bertanya. Jika benar mereka telah bertunangan Belvan sebentar lagi pasti akan bercerita.


"Morgan malam itu aku dan Nayara telah bertunangan," kata Belvan sambil memutar cincin di jari manisnya.


"Tunangan? hah. Bagus donk. artinya kamu berhasil selangkah lebih maju di depanku," kata Morgan.


"Tapi Belvan, Sebelum pernikahan berlangsung kita berdua masih tetap bersaing mendapatkan Nayara, jangan bilang kamu sudah memaksanya. karena aku lihat Nayara terlihat sedang tidak bahagia." kata Morgan sambil mencondongkan tubuh ke Belvan ada ancaman kecil dari setiap kalimat Morgan.

__ADS_1


"Nayara bahagia, dia hanya lelah saja. Tidak mungkin aku memaksa dia, kamu tahu sendiri berapa tahun kita bersama, aku dan Nayara sudah sama-sama saling memahami." kata Belvan.


Morgan berusaha untuk menyembunyikan sisi rapuhnya, meski kalimat Belvan benar-benar membuat dadanya bergemuruh dan ingin sekali memaki dirinya yang bodoh.


"Morgan masalalu kalian sudah hilang dalam ingatan Nayara, itu artinya hubungan kalian hanya sebatas masalalu, sedangkan waktu terus berputar ke masa sekarang. Dan cinta masa kecil sangat berbeda dengan masa sekarang. Cinta masa kecil terjadi disaat mereka belum mengerti cinta sebenarnya, hanya bualan saja. Sedangkan cinta disaat kita dewasa terjadi dimana keduanya siap membina mahligai dan memiliki impian bersama anak-anaknya kelak," ujar Belvan lagi. Lelaki itu sangat menikmati kegelisahan Morgan. Belvan yakin sebentar lagi Morgan akan melepaskan Nayara karena tahu diri dan tahu posisi.


Wajah Morgan memerah, dia semakin tak bisa mengontrol emosinya, untung semuanya segera teralihkan dengan dering ponsel Belvan.


"Hallo Belvan."


"Iya Kak."


"Bisakah kau datang ke perusahaan?"


"Ada apa Kak, aku masih di apartement Nayara."


"Aku butuh kamu, lekas kemari."


"Tapi, kami baru saja sampai." Belvan sebenarnya tidak ingin pergi terlalu cepat karena dia masih harus banyak bicara dengan Morgan.


" Bisakah kita bicara di rumah saja."


"Tidak! Lima belas menit, mengerti. Semenjak kamu bersama Nayara kamu menjadi payah soal pekerjaan, tak bisakah kau membagi waktumu secara adil. Kecuali jika kau ingin gagal dalam bisnis dan menjadi pemuja wanitamu saja." cerocos Flora dari seberang sana.


Morgan mendengar semuanya menarik nafas lega, berharap Belvan segera pergi dan dirinya memiliki banyak waktu untuk berbicara dengan Nayara.


"Baiklah, aku akan kesana sekarang." Belvan pergi sambil melanjutkan obrolannya dengan kakaknya.


Morgan tersenyum. 'Kau sebenarnya lebih pantas menikah dengan kakakmu yang over protektif itu.' ledek Morgan dalam hati. Morgan tahu Flora tidak ingin Belvan memiliki kekasih dan menikah cepat karena bagi Flora karier Belvan akan menurun jika dia menikah.


*Yuk dukung emak dengan kasih vote, atau kembang kopi.


*jangan lupa mampir di karya baru juga ya. TERLAMBAT MENYADARI CINTA dan beri dukungan, biar bisa lanjut lagi.

__ADS_1


__ADS_2