Sekretaris Nakal (Balas dendam)

Sekretaris Nakal (Balas dendam)
Cinta Leon tulus untuk Briana


__ADS_3

Sore hari Nayara kembali ke apartement Leon, kali ini tanpa Morgan bersamanya, karena lelaki itu pamit untuk sebuah urusan keluarga, Nayara tidak ingin ikut.


Morgan berpesan supaya Nayara beristirahat di apartemen, ketika dirinya sedang bepergian. Bisa jadi lelaki itu sedang menyiapkan sebuah kejutan besar.


Nayara tidak mengindahkan larangan Morgan untuk diam di apartement saja dan beristirahat. Bukan Nayara jika dia tinggal diam saja dan patuh, wanita cantik dengan tubuh yang semakin matang itu segera menuju apartement Leon dan Briana untuk mengusik dua orang yang sedang jatuh cinta


***


Nayara mencuri dengar obrolan di dalam kamar hotel yang kebetulan sedang terbuka.


"Sayang kamu pasti lapar."


"Iya Leon, anak kita juga pasti lapar." Briana mengelus perutnya.


"Baiklah, aku beli makanan dulu," Leon beranjak sebelumnya tak lupa dia mengecup kening Briana.


Setelah lama berdua di dalam apartement, Leon keluar untuk mencari makanan, mengingat dirinya dan Briana belum sarapan.


Leon pergi dengan membawa mobil yang dibelikan Nayara, meski harganya hanya kisaran dua ratus juta tapi itu hadiah kerja keras Leon.


Dalam kesempatan ini, Nayara gunakan untuk menemui Briana. Nayara mengetuk pintu sekali saja wajah Briana langsung muncul dari balik pintu. Briana yang mengira kehadiran Nayara adalah Leon yang sedang kembali dari membeli makanan.


"Sayang, kok cepat!" Briana membuka pintu dengan cepat. Alangkah terkejutnya dia setelah melihat yang datang bukannya Leon tapi mantan adik tirinya yang saat ini mulai dia takuti.


Ya, Briana sekarang harus berfikir ribuan kali jika ingin melawan Nayara, wanita itu sekarang seperti monster wanita mengerikan yang bisa menyakitinya setiap saat. Tanpa Diana, Briana seperti ayam yang kehilangan induk, nyalinya mulai menciut.


"Nay ... Nayara ...." Briana hendak menutup pintu apartemen kembali tapi dengan sigap Nayara menahan dengan tangan dan tubuhnya. Alhasil Nayara berhasil masuk.


"Nay, pergilah! Aku berjanji tidak akan mengganggumu lagi." Briana nampak semakin takut Nayara memaksa meminum racun lagi.


"Pergi! Aku kesini untuk mencarimu Kakak, kenapa kau malah mengusirku?" Nayara mendesak masuk hingga keduanya kini beradu pandang dan Nayara terus maju, sedangkan Briana mundur.


"Nay, tolong pergilah, aku ingin mengakhiri urusan diantara kita. Ambil Morgan untukmu, lelaki itu hanya mencintaimu. Aku akui aku telah mengambilnya darimu dengan caraku yang licik." Briana terus berjalan mundur sambil memohon.


"Oh, ya. Lalu bagaimana kamu yang mencintainya, apa kamu rela dia menjadi milikku." Nayara terus menantang Briana hingga tubuh wanita itu mentok menyentuh sofa.


"Tidak-tidak, aku tidak mencintainya." Briana menjawab dengan gugup. Entah kenapa Nayara sangat menakutkan baginya.

__ADS_1


"Pergilah Nay, aku ingin hidup tenang, jangan usik aku lagi," iba Briana.


"Briana, kakakku yang kejam, kenapa kau mendadak seperti kelinci mengemaskan begini. Apakah kau benar-benar sudah ingin melupakan petualangan yang mengasyikkan ini, apa kau tidak ingin bermain main denganku lagi?" Nayara mendorong tubuh Briana hingga tubuhnya terjatuh di pinggiran sofa dan kesakitan. Berlahan Briana turun dan merembet ke sofa.


"Naya, aku melakukan semua karena desakan mama, aku ingin menjadi diriku sendiri, sekarang tolong bebaskan aku." Mohon Briana.


Sejenak hati Nayara mulai trenyuh dengan pengakuan Briana. Benarkah selama ini dia berada dalam tekanan ibu kandungnya, Diana. "Aku tidak semudah itu percaya pada wanita ular sepertimu, Briana."


"Percayalah Nay." Briana mengiba dan wajahnya memelas.


Nayara kembali ingat tadi dia mengatakan pada Leon kalau sedang hamil.


"Apakah kau sengaja menjebak Leon? dan pura-pura hamil anaknya."


"Tidak, Nay. Aku tidak menjebak Leon? Aku mengatakan semuanya karena aku takut Leon juga akan pergi. Aku hanya memiliki dia saat ini"


"Oh iya, benarkah kamu seserius itu menjalani hubungan dengan Leon? Aku tidak percaya." Nayara mendekatkan wajahnya di depan Briana. menatap manik hitam wanita itu satu persatu


"Lalu apa kamu yakin bisa hidup sederhana seperti yang Leon jalani saat ini." Nayara masih mengkhawatirkan Leon meski dia sudah jelas telah di khianati.


Briana diam. Membuat Nayara yakin kalau Briana pasti tak sanggup menjalani hidup susah.


"Kamu tidak mungkin bisa, pembohong, kenapa kamu manfaatkan dia??!" Nayara mencekik Briana hingga wanita itu kesulitan bernafas.


"Aaaa ... Ampun." Briana meronta, ingin sekali mendorong Nayara agar berhenti menyakitinya tapi wanita itu tidak berdaya melawan Nayara yang kesetanan.


Leon yang membawa beberapa bungkus makanan, segera berlari masuk begitu mendengar keributan dari dalam apartemennya.


"Nona! Nona! hentikan Nona!" Leon memohon agar melepaskan cengkeramannya di leher Briana.


"Nona aku mohon." Leon menarik tubuh Nayara yang seolah tangannya sudah menyatu dengan leher Briana.


"Plaak!! Nayara mendaratkan pukulan yang sangat keras di pipi Leon.


"Nona, pukul saya lagi Nona, saya pantas medapatkannya. Bahkan saya pantas mendapat hukuman yang lebih dari ini"


Plak!!

__ADS_1


Leon sama sekali tak mengelak saat Nayara kembali memukulnya.


"Pengkhianat!!" Kata Nayara dengan tatapan berapi api, Leon sama sekali tak berani menatap Nayara yang sedang dikuasai amarah.


"Leon bersimpuh di bawah kaki Nayara. Nona, jika cinta membutakan kesetiaanku pada anda, maka hukumlah saya seperti yang anda inginkan."


Briana yang sudah mengetahui kalau Leon ternyata orang suruhan Nayara sama sekali tidak kaget. Briana hanya diam melihat lelaki itu betapa tidak berdaya di depan Nayara.


"Mulai sekarang kamu tidak perlu lagi bekerja denganku, dan kamu akan menerima ganjaran atas pengkhianatan ini. Pengkhianatan mu sangat menyakiti hatiku Leon." Nayara lalu melangkahkan kakinya keluar, dia meminta anak buah yang ikut bersama Leon untuk mengikat tangan Leon.


"Nay, tunggu!" Briana mengejar Nayara.


"Apa yang harus aku lakukan supaya Leon bisa lepas dari hukuman."


"Tidak ada, setiap pengkhianat harus mendapatkan hukuman yang setimpal."


"Nay, lepaskan Leon. yang harusnya kau hukum itu aku, karena aku telah menggodanya."


'Briana, apakah dia bercanda dengan ucapannya' batin Nayara.


"Tenang saja Briana, aku juga akan memberimu hukuman yang setimpal," ujar Nayara sambil mendorong Briana hingga wanita itu terjatuh ke lantai. Briana merasakan kepalanya berputar dan dia pingsan.


"Nona, tolong jangan sakiti Briana, ada anakku dirahimnya," mohon Leon. Lalu dengan ikhlas dia berjalan mengikuti dua orang yang biasanya menjadi pengawal, kini bertugas untuk memenjarakan dirinya.


"Jangan khawatir Leon, kekasihmu aman ditanganku," jawab Nayara.


***


Nayara lalu menghubungi Arion dan meminta untuk memeriksa kondisi Briana. Arion segera datang ke alamat yang diminta oleh Nayara.


"Dokter Arion, periksa wanita ini, apakah dia benar benar hamil."


"Baiklah Nay, tapi dia terlihat sangat payah, besar kemungkinan dia memang hamil," terka Arion.


"Arion, tolong cepat periksa yang benar," titah Nayara.


Arion segera memeriksa denyut nadi Briana, Nayara menunggunya dengan tenang, menunggu Arion berkomentar.

__ADS_1


"Wanita ini hamil muda Nay."


"Apaaa!" Nayara tentu terkejut.


__ADS_2