
Pak Morgan apakah anda
Nayara dan Morgan berangkat keluar kota.
Keduanya duduk di kursi penumpang dan Tomi yang mengemudi.
Bibir Morgan tak henti tersenyum, lelaki itu terlihat paling bahagia memiliki kesempatan berdua dengan Nayara tanpa ada Belvan yang mengganggu.
'Belvan jika kamu ingin mengambil Nayara dariku, sebaiknya kamu harus berfikir ulang seribu kali.' Morgan tersenyum smirk membayangkan Belvan tak bisa menemui Nayara dalam beberapa hari.
Sedangkan Nayara sedikit bingung, sebagai sekretaris, skedule untuk keluar kota ini sebenarnya tidak ada, tapi Morgan bilang ini bisnis penting.
***
Mereka tiba di Villa.
"Pak, kenapa kita malah ke Villa?"
"Iya, kita memang akan menginap di Villa ini dalam beberapa hari."
"Kita akan berdiskusi, dan menyelesaikan pekerjaan dalam kondisi tenang."
Nayara mengerti, alasan Morgan masih masuk akal.
Nayara segera masuk ke Villa sambil menarik koper. Tomi meminta koper Nayara dan membantu membawa masuk. Sedangkan Morgan membawa kopernya sendiri.
Nayara terkejut di dalam Villa hanya ada satu kamar. Nayara berhenti di depan pintu dan tidak mau masuk.
"Pak, aku tidak mau menginap di Villa ini."
"Kenapa Nay."
"Villa ini cuma memiliki satu kamar, dan aku tidak mau berperan menjadi sekretaris sekaligus wanita simpanan anda."
Morgan tersenyum dan menahan lengan Nayara yang hendak keluar lagi dan ngambek.
"Seperti biasa, aku tidur di sofa dan kamu tidur di kamar."
" Aku tidak percaya anda bisa tidur di sofa."
"Demi kamu aku akan melakukannya."
Nayara lega mendengar janji Morgan. Wanita itu tersenyum karena bisa memenangkan kamar satu-satunya itu.
Morgan segera menaruh koper yang berisi baju ganti dan lainnya ke sofa, sedangkan Nayara meminta Tomi untuk membawa koper ke kamar, setelah Tomi keluar Nayara segera menguncinya.
Nayara masuk ke kamar dan segera beristirahat. Dia tidak bisa menahan diri untuk tidak tidur siang.
Nayara segera mandi dan tidur, sedangkan Morgan melihat- lihat pemandangan di sekeliling Villa.
Morgan senang melihat pemandangan Villa yang tidak membosankan, dia berencana ingin mengajak Nayara nanti sore untuk jalan-jalan keliling tempat ini.
Morgan sudah mandi dan ganti baju, dia duduk sambil menunggu Nayara keluar.
"Apa dia sudah bangun?" Tanya Morgan pada Tomi.
__ADS_1
"Belum Tuan."
"Dia sengaja mengerjaiku." Morgan tersenyum.
"Apa yang akan anda lakukan Tuan," tanya Tomi.
"Berikan kunci kamar cadangan, dia tidak mungkin masih tidur selama empat jam lebih di dalam."
"Hm, baiklah. Tapi apa tidak sebaiknya anda menunggu Nona bangun." Tomi tidak mau Morgan akan membuat Nayara sakit kepala.
" Aku tidak akan mengganggunya kalau dia masih tidur, aku hanya akan memastikan saja kalau dia baik-baik saja."
Tomi menyerahkan segebok kunci Villa, yang salah satunya kunci kamar Nayara.
Morgan membuka kunci kamar Nayara dan benar saja, wanita itu sedang menelepon, dia sudah bangun tidur..
"Nay." Morgan langsung cemburu melihat Nayara berbicara dengan seseorang di seberang. Dia mengira itu Belvan.
"Pak, apa kau menungguku?"
"Iya, aku menunggumu. Kita akan jalan-jalan melihat pemandangan di sekitar sini."
"Hm baiklah aku harus ganti baju."
"Nayara ternyata sudah mandi, rambutnya sudah basah dan tubuhnya dibalut dengan handuk kimono.
Nay, biar aku membantu mengeringkan rambut mu." Morgan mengambil hair dryer.
"Jangan Pak, aku bisa sendiri."
Membuat jarak mereka kembali sangat dekat, Morgan memanfaatkan momen ini untuk memeluk Nayara.
"Nay, tolong biasakan jangan panggil 'Pak' saat hanya ada kita berdua."
"Kenapa?" Nayara mendongak ketika tubuhnya dikunci oleh Morgan dan tak bisa bergerak.
"Aku terlihat tua seperti seorang bapak-bapak."
"Bukankah sekretaris memang harus memanggil atasannya 'Pak."
"Nay, aku ingin mengingatkan sekali lagi, bahwa kita punya masa lalu yang indah, saat ini aku dan kamu dipertemukan kembali. Aku merasa kalau kamu berhak ingat semuanya dan beri aku kesempatan sekali lagi." Morgan menarik dagu Nayara dan pandangan mereka kembali bertemu.
Aksi saling pandang saja, hampir memakan waktu lima menit. Nayara bisa melihat sorot mata kejujuran di mata Morgan.
Tapi saat itu justru dia teringat pada Belvan. Lelaki itu juga mencintainya. Bahkan Belvan berada di hidupnya yang sekarang, bertahun tahun lelaki itu membantu dirinya bangkit dari sakit dan terpuruk karena sebagian ingatan masa lalu yang terus membayangi.
"Aku takut mengingat masa lalu, sepertinya akan membuatku kembali merasakan sakit yang amat dalam, aku senang masalalu buruk itu tidak membayangiku lagi.
"Artinya kamu menolak ingat semua kenangan tentang kita."
"Aku tidak tahu," Nayara berusaha mengingat dan memejamkan mata, yang terjadi justru bayangan kecelakaan itu yang terus muncul diiringi teriakan mengerikan dari orang orang yang melihatnya saat itu.
"Aaaa, tidaaaaak!"
"Nay, Nay, buka mata."
__ADS_1
"Nayara membuka matanya."
"Apa yang kau ingat?" Tanya Morgan.
"Saudara tiri dan ibu tiriku, dia mendorongku ke jalan raya supaya aku tertabrak,"
"Apalagi yang kau ingat."
"Aku tidak mau mengingat apapun lagi, ku kepalaku, sakit Morgan." Nayara mendongak memohon pada Morgan untuk tidak memaksanya.
Sepertinya Morgan harus bersabar, Dia harus lebih pelan lagi membimbing Nayara untuk ingat masa lalunya.
"Baiklah, segera ganti baju. Aku akan menunggu di depan saja."
Nayara mengangguk. Morgan meninggalkan kecupan di kening Nayara membuat kening itu terasa basah.
Lelaki itu memilih menunggu di mobil. Nayara mempercepat aktivitasnya ganti baju dan memasang make-up seadanya.
Nayara segera keluar dengan memakai gaun agak panjang selutut warna yang hampir sama dengan kemeja Morgan, tak lupa tas kecil ada di genggaman tangannya.
Nayara mendekati Morgan, laki-laki itu menyewa mobil sport untuk berkeliling di sore ini.
"Kenapa Tomi tidak ikut?" Tanya Nayara.
"Tidak dia hanya akan mengganggu saja."
"Anda terlalu jahat, harusnya ajak dia sekalian."
"Em benar, tapi aku sedang tidak ingin dia mengganggu." Morgan menarik mesra tangan Nayara, supaya lekas masuk dan duduk disampingnya.
Mobil tanpa pelindung diatasnya melaju pelan merangkak ke jalan perbukitan, jalannya halus dan pemandangannya indah, belum lagi pohon Cemara dan Pinus yang tinggi menjulang membuat suasana baru yang sangat berbeda dengan keadaan kota.
"Kau suka Nay?"
"Iya, aku melihat sesuatu yang berbeda, disini sejuk meski siang hari"
"Dulu kita pernah kesini, ketika papa ku dan papa kamu ada urusan dengan klien."
"Jadi ini bukan pertama kalinya kita kesini?" Tanya Nayara.
Morgan menggeleng. "Ini yang kedua kalinya.
Morgan menghentikan mobilnya di sebuah tempat yang indah dan teduh. Morgan ingin mengajak Nayara berbelanja, karena di tempat yang tak jauh dari wisata itu banyak penjual makanan khas dan oleh oleh.
Morgan turun dan membuka pintu untuk Nayara, wanita itu selalu tersenyum karena diperhatikan oleh atasannya.
Tiba-tiba seorang wanita mendekat dengan tatapan sinis sambil melipat tangannya di dada.
"Nay lumayan jauh juga ya kalian berdua pergi untuk bermain. Ini yang kamu bilang akan berusaha mencintai adikku?" Flora berkata dengan wajah sinis.
"Kak Flo!" Nayara terkejut melihat Flora ada di depannya.
Sedangkan Morgan menatap Flora penuh tanda tanya? Morgan yakin Flora pasti ada hubungannya dengan Belvan.
"
__ADS_1
.