
Nay, siapa yang mengantarmu? bukankah kamu pergi bersama Belvan?
"Benar aku pergi dengan Belvan tapi tidak lama, setelah itu aku ada urusan lain," jawab Nayara.
Morgan mengangguk setuju. Lelaki tampan itu tiba-tiba semakin hari semakin protektif dengan Sekretaris yang diketahui kekasih masa kecilnya itu.
"Ini sudah malam, anda harus pulang, aku tidak bisa memberi izin anda untuk tidur disini lagi.
"Kenapa Na? bukankah malam itu baik- baik saja, aku telah membuktikan menjadi lelaki yang bisa menahan hasrat."
"Aku takut malam ini akan berbeda, bagaimana kalau anda tidak lagi bisa mengendalikan semuanya. apalagi anda masih istri sah seseorang.
"Hah, Briana aku sudah mengajukan surat perceraian untuknya."
"Benarkah?"
Nayara tidak menduga mereka akan segera berpisah, lalu untuk apa dia susah payah mengumpulkan video perselingkuhan Briana jika ternyata Morgan juga sudah tidak cinta.
"Apakah anda baru tahu kalau wanita itu sudah tidur dengan banyak pria?" tanya Nayara.
Morgan menggeleng. "Dia telah memisahkan kita, cinta kita dimasa dulu." Morgan
Cinta seperti apa yang Morgan bicarakan, wanita itu tidak mengerti. Apalagi Morgan tidak punya banyak bukti tentang kebersamaan mereka lagi karena semua bukti berupa video dan foto tiba-tiba lenyap, yang tersimpan hanya satu foto dan video durasi pendek yang masih bisa diselamatkan karena ada di ponsel Morgan.
"Kita bicarakan lagi besok, aku ingin istirahat," kata Nayara.
"Nay, apa kamu terluka?" Morgan melihat ada bercak darah di baju Nayara.
Morgan mendekati Nayara dan melihat bercak darah di bajunya. Lelaki itu terlihat khawatir.
"Kamu berdarah Nay."
"Em, ini darah hewan … darah ular," dusta Nayara.
"Ular? Tapi hewan itu tidak menggigitmu kan?" Morgan meneliti wajah Nayara begitu juga tangan dan kakinya.
"Tentu tidak, ada Belvan di taman yang menyelamatkan aku." Nayara berusaha untuk mengarang cerita.
"Syukurlah akhirnya lelaki itu berguna juga."
"Maksudnya? Benarkah anda bilang Belvan tidak berguna?"
"Tidak, tidak itu maksudku, untung ada Belvan yang cepat menolongmu."
"Anda tadi tidak bilang begitu, Tuan." Nayara tersenyum melihat Morgan
__ADS_1
"Baiklah, aku salah bicara." Morgan mendekati Nayara lalu menggenggam kedua lengan wanita yang dicintai itu.
"Nay, jaga dirimu baik-baik, besok kita akan perjalanan ke luar kota."
"Baiklah, Pak." Nayara mengangguk dan Morgan dengan cepat mencium bibirnya.
"Aaa" Bibi yang melihat Morgan mencium Nayara dia segera mengatupkan bibirnya dan memutar membelakangi dua insan itu, untung kopi hangat buat Morgan tidak jatuh ke lantai karena saking kagetnya.
"Pak Anda, lancang sekali." Nayara terlihat kesal sambil mengusap liur Morgan.
"Kenapa Nay? Bukankah kamu pernah mencium ku lebih dulu. Bahkan waktu itu kau bilang itu ciuman pertama kamu."
"Tidak, aku berbohong, aku sudah sering melakukannya dengan lelaki yang sudah menjadi masa laluku." Kata Nayara sengaja membuat Morgan ilfill.
"Terserah, tapi aku lebih percaya apa yang kamu katakan hari ini."
Morgan melepaskan cengkraman tangannya di lengan Nayara. Morgan memilih pulang.
***
Dua bodyguard membawa Briana ke sebuah tempat yang tidak layak disebut rumah sakit, tempatnya kumuh begitu juga dengan brankar yang akan ditempati.
"Aku dimana? Rumah sakit macam apa ini?"
"Briana melihat ke sekeliling ruangan yang lebih mirip seperti tempat eksekusi daripada ruang perawatan.
Briana memilih diam, karena dari arah pintu terlihat sosok dokter masuk. Briana tidak percaya dengan kemampuan dokter yang memakai baju putih lusuh itu.
"Obati lukaku dengan benar Dokter, jika tidak aku akan menuntut kamu hingga pengadilan."
Dokter hanya tersenyum sinis." Andai aku jadi Nona Nayara aku akan membiarkanmu mati. Kau wanita yang tidak tahu diuntung."
"Aaa." Dokter itu menekan luka Briana membuat dia berteriak kencang.
"Jangan main-main, dokter, lepas dari sini aku akan membuat izin mu dicabut.
Dokter yang geram dengan mulut Briana yang terus merendahkan dirinya akhirnya memberi suntikan anestesi supaya wanita itu tertidur dalam beberapa jam ke belakang.
Setelah Briana tidur pulas Dokter bisa mengobati lukanya dengan tenang.
Lima belas menit dokter sudah selesai mengobati luka yang dialami Briana. Wanita itu masih terkulai lemah dengan tangan di borgol usai menjalani operasi kecil.
Diana yang dua hari ini tidak bisa menghubungi Briana dia mulai resah.
"Kemana anak bodoh itu? Apa dia masih belum berhenti bermain api dengan Leon."
__ADS_1
Diana mondar mandir di ruang tamu, dia terus berpikir keras kenapa Briana tidak menerima panggilannya.. "Apa jangan-jangan Morgan dan Briana sedang bertengkar dan …. Tidak! Tidak! Ini tidak boleh terjadi, Morgan dan Briana tidak boleh bercerai, Aku harus melakukan sesuatu supaya mereka tetap bersama.
Diana segera mengambil tas diatas meja tamu dan menenteng keluar. Diana ingin menemui anak semata wayangnya yang sudah menghasilkan banyak pundi-pundi rupiah untuknya.
Sampai di Mansion Morgan, rumah tampak sepi, hanya ada asisten saja yang mondar mandir membersihkan rumah.
"Nyonya?" Tuti segera membungkuk dan mencium tangan Diana.
"Dimana Nona muda kalian?" Tanya Diana ketus.
"Kita tidak tahu urusan majikan Nyonya, karena yang saya tahu Nona pergi lagi setelah pulang sebentar."
"Sungguh kalian semua tidak berguna. Lalu dimana Tuan kalian?"
"Tuan muda Morgan sedang keluar pulau."
"Apakah kau melihat dengan siapa dia pergi?"
"Maaf saya tidak tahu, tapi semalam Tuan berbicara pada Tomi kalau dia hanya akan pergi berdua saja."
"Oh, pasti karena itu Briana tidak bisa di hubungi, dia sedang ingin berjualan madu dengano Morgan tanpa ada yang mengganggu."
Diana lega karena mengira Briana sudah pergi dengan Morgan ke pulau.
Wanita itu lalu menuju ruang makan dan minta dilayani seperti seorang ratu karena dia adalah mertua dari majikannya.
***
"Nay, bangun, kita bisa ketinggalan pesawat." Morgan tiba tiba sudah ada di kamar Nayara. Bibi tentu tidak berani melarang Morgan untuk masuk. Karena bibi tahu di masa dulu Morgan adalah lelaki yang berharga untuk Nayara.
"Aku masih malas, ini masih terlalu pagi." Kata Nayara yang tak sadar siapa yang sudah membangunkannya.
"Bangun atau aku menciummu lagi."
Nayara langsung membuka matanya menjadi seratus Watt. "Kenapa anda masuk kamarku lagi?"
"Kenapa Nay?"
"Tidak, anda tidak bisa masuk kamar sembarangan, tunggu diluar!!"
Morgan bukannya pergi tapi lelaki itu malah menarik selimut Nayara hingga terlihat tubuh gadisnya yang suka memakai gaun tidur tanpa kacamata itu.
Mata Morgan membola melihat tubuh seksi Nayara yang tercetak jelas dalam balutan kimono berbahan satin. Lelaki itu tak percaya Nayara memiliki dua buah yang besar dan kencang. Berbeda dengan tubuhnya di masa dulu yang kecil dan mungil.
"Nay, cepat mandi." Morgan susah payah meneguk salivanya.
__ADS_1
'ingat Morgan, dia masih Nayara yang hilang ingatan, dia akan kembali menjadi milikmu setelah ingatannya pulih.' Batin Morgan menghibur diri sendiri.