
"Nay," Lelaki itu tersenyum senang sekali melihat wanita yang dirindukan ada di depannya.
"Belvan, kapan kamu pulang?" Nayara terkejut Belvan ada didepannya.
"Semalam aku baru pulang, dan aku tidak bisa tidur sebelum melihat wajah kamu secara langsung, Nay."
"Morgan terima kasih sudah menjaga Nayaku dengan baik, dia terlihat bahagia sekali." Belvan menatap Morgan dan tersenyum.
"Ehm, iya, tentu aku akan menjaga dia." jawab Morgan yang tiba-tiba merasa menjadi orang asing ketika Nayara dan Belvan kembali bertemu.
"Morgan, apakah aku boleh masuk?" Tanya Belvan.
"Iya silahkan." Morgan memberi jalan untuk Belvan. Dia terpaksa mundur beberapa langkah.
Belvan dan Morgan sama-sama duduk di sebuah sofa yang ada di Villa itu. Nayara izin pamit membuatkan minuman untuk mereka berdua.
Setelah kepergian Nayara dari ruang tamu, Morgan dan Belvan tidak sekalipun saling pandang. Akhirnya Belvan berbicara lebih dulu.
"Aku sudah sering jatuh cinta, tapi tidak seperti cintaku pada Nayara, entahlah, bayangan wajahnya sangat mengganggu hari-hariku, aku selalu teringat senyumnya, suaranya, tatapan matanya, membuat aku tidak bisa fokus dengan pekerjaanku, sebelum bertemu dengannya. Anda pasti mengerti perasaan apa itu." kata Belvan lalu menatap Morgan sekilas.
"Apa yang kita rasakan tidak jauh beda, aku juga sangat mencintai Naya, bahkan kita sudah terhubung sejak masa kecil, Nayara adalah cinta masa kecilku, dulu kita punya banyak sekali impian. Kamu tahu Naya dulu sangat mencintaiku, dia bahkan tidak pernah mengizinkan aku dekat wanita lain, dia sangat over protektif. Belvan aku yakin Nayara akan memilihku jika dia ingat semuanya," jawab Morgan meyakinkan Belvan untuk tidak terlalu berharap.
Belvan berujar lagi. "Nayara lupa masalalunya, yang dia ingat hanya kenangan kita berdua, ini pasti petunjuk dari Tuhan, kalau dia akan lebih bahagia dengan hidupnya yang sekarang. Lagipula Nayara pasti sulit menerima lelaki yang pernah tidur seranjang dan berbagi peluh dengan wanita yang dia benci."
Morgan terdiam. Ya, dia sadar dia pernah melakukan hubungan badan dengan Briana beberapa kali, tapi yang dia tahu itu keinginan Nayara untuk membahagiakan saudaranya. Morgan menuruti karena bunyi surat wasiat itu.
"Kamu tidak akan pernah mengerti." Morgan hendak beranjak. Tapi Nayara segera keluar.
"Morgan, Belvan, aku buatkan minuman untuk kalian berdua, dan aku juga bawa puding nangka, kalian berdua pasti suka." Nayara menata minuman di depan kedua lelaki yang tak pernah mengalihkan pandangannya sedetikpun darinya itu. Dia lalu duduk di depan kedua pria.
"Yuk dimakan. Ini sebenarnya puding kesukaanku." kata Nayara ramah.
"Hm, baiklah. Aku akan memakannya." Belvan mengambil terlebih dahulu, sedangkan Morgan terlihat gelisah. Raut wajah bahagia yang biasa terpancar seakan sirna.
Nayara sebenarnya sejak tadi mendengar obrolan mereka berdua, hanya saja dia menahan diri untuk keluar lebih cepat. Nayara tahu dari kedua pria itu sama-sama baik dan mencintainya dengan tulus.
__ADS_1
"Nayara. Aku menginap di Villa dekat sini juga. Kak Flora merekomendasikannya. Ternyata suasana disini memang nyaman dan sejuk, pantas kamu betah."
"Iya, Morgan yang merekomendasikan tempat ini." kata Nayara.
Nay, sepertinya kita harus bersiap-siap bertemu klien, maaf Belvan bukan maksud hati mengusir kamu, tapi kita akan ada meting.
"Yah aku mengerti kalian pasti sibuk, tapi aku mohon padamu Morgan. Nanti malam aku meminta padamu untuk membebaskan Nayara dari pekerjaannya, aku akan mengajak ke suatu tempat yang bagus banget di dekat sini, sangat sayang kalau sudah disini tapi tidak datang untuk melihatnya.
"Pergilah," kata Morgan. Lelaki itu masuk dengan wajah lesu. Nayara tahu bagaimana sifat direkturnya, jika sudah memasang wajah muram, pasti dia tidak benar-benar memberinya izin.
Belvan akhirnya pulang meninggalkan Nayara dan Morgan sendiri.
_
"Nay, apakah kamu bahagia Belvan datang kesini?" tanya Morgan saat tinggal ada mereka berdua.
"Tentu, bukankah tidak ada alasan buat aku tidak bahagia."
Morgan semakin kecewa mendengar jawaban Nayara. Ah, dunia ini seperti sedang mempermainkan perasaannya, Melihat Nayara dan Belvan selalu bertemu membuatnya merasakan cemburu yang demikian besar.
Nayara dan Morgan kembali dikejutkan oleh kehadiran seorang wanita, ternyata klien yang meminta bekerja sama dengannya adalah perusahaan baru milik Flora.
Mereka sama-sama tidak tahu, Morgan memang tak pandang bulu ketika ada perusahaan yang ingin bekerja sama dengan perusahaan miliknya.
Flora berharap Morgan tidak menolak untuk bekerja sama, karena masalah pribadi tidak benar jika dikaitkan dengan bisnis.
Morgan nampak masih kecewa dengan Flora lelaki itu urung masuk ruang meting.
"Jadi Kak Flora yang meminta bekerja sama dengan perusahaan Morgan." tanya Nayara.
"Iya, tadinya aku sangat ingin bekerja sama dengan perusahaan Morgan, tapi gara-gara kamu, pasti Morgan akan menolaknya," ujar Flora semakin kesal pada Nayara.
"Kak Flora jangan khawatir, aku akan membantu berbicara pada Morgan," ucap Nayara meski dia tidak paham kenapa Flora menyalahkan dirinya.
"Ya, seharusnya kamu membantu, jika kamu tidak mau membantu itu sangat keterlaluan," Kata Flora masih ketus.
__ADS_1
Flora dan sekretarisnya masuk ke ruangan khusus yang akan dijadikan tempat meting, Nayara keluar mencari keberadaan Morgan.
Ternyata Morgan kembali ke mobil dan duduk melamun di depan kemudi.
"Morgan, kenapa malah disini?" tanya Nayara. gadis itu membungkuk di luar kaca.
"Duduklah Nay, aku sedang badmood. kita batalkan saja kerja sama ini" Morgan membuka pintu lalu menarik Nayara, membuat wanita yang sedang mengenakan rok pendek itu terjatuh di pangkuan Morgan.
"Morgan, jangan batalkan perjanjian ini, akibatnya akan sangat buruk," mohon Nayara. Nayara hendak bangkit, tapi Morgan menahan tubuhnya.
"Kenapa? kamu takut wanita itu akan menghinamu? bukankah sejak kita bertemu di bazar waktu itu dia terus menghinamu."
"Kak Flora tidak bermaksud menghina, tapi seperti itulah sifat aslinya, jika kamu mau menerima kerja sama ini setidaknya kamu sudah melakukan satu kebaikan untukku. Adan aku akan sangat berterima kasih."
"Tidak." Morgan keras kepala.
"Please." Nayara mamasang wajah memelas.
Morgan tersenyum melihat wajah Nayara yang terlihat imut meski saat sedang memelas sekalipun.
Nay, kau memang benar-benar Naya ku . Kau tak pernah berubah, meski kau hilang ingatan, tapi sifat baikmu yang selalu lebih perduli orang lain daripada diri sendiri masih saja terus melekat."
Morgan memeluk Nayara dengan erat, mencium lengan Nayara untuk menenangkan diri sambil memejamkan mata.
"Morgan turunkan aku, Kak Flora melihat kita."
"Biarkan saja, aku sangat senang jika dia melihat kita dan mengadukan pada Belvan. Aku ingin Belvan cemburu, patah hati, lalu pergi," kata Morgan.
"Dasar." Nayara mendorong wajah Morgan yang hendak menciumnya. gadis itu turun dari pangkuan Morgan.
Morgan menuruti ucapan Nayara dan turun dari mobil.
Di dalam ruang meting, Flora sedang panik karena khawatir Nayara tidak berhasil membujuk direktur perusahaan itu.
*Untuk karya terbaru( Terlambat menyadari CINTA,) doakan lolos ya teman-teman, kalau lolos nanti bisa update bab selanjutnya.
__ADS_1