
Pulang dari rumah sakit, Nayara segera menemui Leon dipenjara, dan saat itu Belvan ikut serta.
Nayara turun lebih dulu dari mobil sebelum Belvan membukakan pintu. meski tadi Belvan menawarkan akan membukakan pintu, tapi Nayara tidak mau manja.
"Aku bisa sendiri, jangan terlalu memanjakan aku karena aku bisa ketagihan."
Belvan tersenyum sambil mengangguk. "ya sudahlah, kalau itu ymag kamu inginkan."
Nayara masuk ke lapas, dia meminta izin pada polisi yang berjaga untuk melihat kondisi Leon. Penjaga setuju dan membiarkan Nayara masuk, hanya saja mereka diawasi beberapa polisi dengan ketat dan diberi waktu lima belas menit saja.
"Leon kenapa kamu lakukan ini? kenapa tidak kau biarkan aku saja yang dipenjara?"
"Tidak mungkin Nona, anda sudah sangat baik dengan keluarga kami, mana mungkin kami biarkan anda menanggung semua ini." Leon terlihat tetap tersenyum tegar meski dia kini memakai baju tahanan.
"Leon, aku akan membantumu keluar dari sini, kamu tenang saja. Aku akan sewa pengacara paling hebat yang bisa membantumu keluar dari sini."
"Jangan Nona, jika anda melakukan semua itu saya khawatir justru semua kebenaran ini akan terdeteksi, Saya akan sangat bersalah jika anda yang sangat cantik harus tersentuh dengan jeruji penuh karat ini, anda tidak cocok disini."
__ADS_1
Belvan menyusul Nayara yang sedang berbicara dengan Leon.
"Leon, terimakasih untuk semuanya, jangan khawatir semua akan baik-baik saja. Aku akan membantumu segera keluar dari sini "
"Terima kasih." Leon mengangguk setuju.
Belvan lalu meminta Nayara untuk pulang bersamanya. Nayara menarik nafas panjang ketika Belvan meregangkan lengannya supaya Nayara segera menggamit. Leon bisa tahu kalau Nayara belum ingin pulang, dia masih ingin banyak bicara pada dirinya, semua tergambar dari ekspresi Nayara yang ogah- ogahan meraih lengan Belvan.
"Honey, kamu dan Leon sangat dekat." kata Belvan saat mereka berada di dalam mobil.
"Pantas aku selalu cemburu, calon istriku ini sangat cantik." Belvan mencondongkan tubuhnya hendak mencium Nayara.
"Belvan!"
"Honey, kenapa kamu terus jaga jarak, aku sangat ingin merasakan manisnya bibir merah ini." Belvan menatap Nayara penuh n*fsu.
Nayara hanya tersenyum, dan mencari cara untuk bisa menolak dengan halus, beruntung tak lama ponselnya di handbag terus berbunyi. "Aku angkat telepon dulu"
__ADS_1
"Ya, lakukanlah." Belvan mulai konsentrasi mengemudi, Belvan kesal setiap kali ingin mencium Nayara ada saja gangguan. Mobil yang tadinya terparkir di depan rutan mulai menginjakkan rodanya di aspal hitam.
"Nay, kamu mau langsung pulang atau kita makan makan dulu."
"Pulang aja Belvan, aku sangat lelah, aku harus istirahat."
"Baiklah, kalau itu yang kamu inginkan." Belvan lalu mengantar Nayara pulang ke apartement. tiba di apartment Bibi langsung menyambut keduanya dengan bahagia.
"Nona, syukurlah," bibi lega melihat Nayara pulang dalam keadaan baik baik saja.
"Bibi tolong siapkan air hangat untukku, aku ingin segera mandi, dan Belvan jamu pasti sibuk banget, jadi lekas kembali ke perusahaan aku tidak mau Kak Flora akan marah lagi karena sudah melalaikan pekerjaan.
"Baiklah, kabari aku segera jika butuh sesuatu."
"Siap." Nayara lagi-lagi harus tersenyum di depan Belvan. meski sebenarnya dia terus kepikiran dengan sosok lelaki yang tak menghubunginya lagi sejak siang tadi.
Nayara berfikir Morgan pasti marah, tapi Nayara tidak bisa berfikir jernih, dia terpengaruh dengan ucapan Briana.
__ADS_1