
Nayara sedang ingin ganti baju, dia menurunkan handuknya dari tubuhnya, Berlahan kain berbulu itu jatuh ke lantai.
Morgan yang buru-buru akan ke kantor dia membuka pintu kamar Nayara dengan pelan, Morgan mengira Nayara pasti sudah selesai ganti baju, karena di dalam dia sudah hampir sepuluh menit.
"Nay" Morgan terkejut, tapi bukannya segera pergi, tapi dia malah melihat tubuh bak gitar spanyol, milik sekretarisnya tanpa ada niat sedikitpun berpaling.
"Nay, maaf, anggap aku tak pernah melihatnya." Morgan segera memalingkan wajah begitu Nayara menoleh dan terkejut, Nayara segera mengambil kembali handuk yang sengaja dia jatuhkan ke lantai.
Namun, Morgan tidak bisa dengan cepat menghapus dari ingatannya, apa yang baru saja dilihat baru saja.
Nayara tidak menyangka Morgan akan datang sendiri ke kamar, harusnya dia memanggil bibi supaya membantunya.
Nayara dengan cepat mengunci kamar, mengacuhkan Morgan yang sedang berdiri seperti patung di depan pintu.
Nayara sangat malu, tubuhnya dilihat oleh atasannya.
"Bibi sedang sibuk di belakang, jadi aku pikir daripada memanggilnya lebih baik aku segera menemuimu sendiri, aku harus pergi sekarang, terimakasih sudah membantuku menerjemahkan dokumen ini," ujar morgan dari luar pintu.
Dengan perasaaan bersalah dan menyesal Morgan melangkah ragu meninggalkan apartement Nayara.
Sampai diparkiran Morgan masih lebih sering mendongak menatap kearah lantai sepuluh dimana Nayara tinggal.
"Tuan, apakah kita pergi dari sini sekarang." Tomi bertanya karena terlihat ada keraguan di wajah Morgan.
"Iya, kita pergi saja, aku ada pertemuan dengan client." Lelaki itu menyerahkan tas pada Tomi.
"Baik Tuan." Tomi segera menyalakan mobil terbaru milik tuannya, tapi Morgan tidak langsung masuk, rupanya ada hal lain yang menarik baginya
Morgan tertarik dengan lelaki yang baru saja menghentikan mobil tepat disebelah mobilnya.
Belvan yang melihat Morgan berdiri di dekat mobilnya, dengan buru-buru langsung turun.
Dua CEO itu saling tatap dan memasang wajah tak bersahabat. Namun, untuk menutupi semuanya mereka akhirnya berusaha untuk tersenyum.
"Pagi, Tuan Morgan."
"Pagi juga, Tuan Belvan"
Mereka saling bertegur sapa seolah seperti sahabat karib. Morganenelisik penampilan Belvan yang bisa dibilang sangat rapi.
"Em sejak kapan anda disini," tanya Belvan santai.
"Belum lama, aku baru saja kembali dari apartement Nayara, ada Dokumen yang harus dia terjemahkan."
Belvan hanya menganggukkan kepala tanda mengerti. "Baiklah aku juga ada perlu." Belvan mengeluarkan buket bunga mawar merah dari dalam mobilnya.
Morgan tidak suka Belvan hendak memberi nayara bunga, Otak Morgan kembali bekerja keras, sibuk mencari cara untuk menggagalkan rencana Belvan.
"Belvan apakah kamu mau menemui Nayara?" Morgan kembali bicara membuat langkah Belvan tertahan.
"Iya, memangnya kemana lagi Tuan, Kalau bukan untuk menemui dia," ujar Belvan berusaha ramah.
__ADS_1
"Em, Nayara baru saja keluar, yang ada hanya Bibi Nunik."
"Benarkah?" Belvan menyipitkan matanya.
"Kalau mau kasih bunga, lebih baik langsung ke orangnya saja, sekedar kasih saran sih." Dalam hati Morgan mencibir bunga Belvan sangat buruk.
"Yakin Nayara sudah pergi sepagi ini?" Belvan memperhatikan arlojinya.
"Buktinya, aku juga kembali, dia sedang ke SPA, mungkin nanti sore baru pulang," kata Morgan berakting semeyakinkan mungkin untuk mengelabui Belvan.
"Kalau tidak percaya buktikan saja sendiri, maaf aku harus segera pergi." Morgan membuka pintu penumpang, dan meminta Tomi untuk segera melajukan mobilnya.
Belvan yang sudah berdandan rapi dengan memakai celana putih tulang, warna jas yang senada dan kemeja putih, berniat mengajak Nayara bertemu orang tuanya, tapi kini dia hanya bisa terpaku sambil memandangi bunga mawar di tangannya.
"Tuan, coba saja telepon dia," saran asisten Belvan.
"Kamu benar, terpaksa aku harus memberitahu nayara, padahal tadinya ingin aku buat kejutan."
Belvan akhirnya memutuskan untuk menghubungi Nayara terlebih dahulu.
"Nay hallo?!"
"Hallo Nay!"
"Belvan tolong!"
"Nay! Hallo Nay!"
Tut ...Tut ...Tut.
Belvan berlari dan membuang bunga yang ada ditangannya.
Asisten pribadi Belvan segera ikut keluar dan mengejar tuannya yang sudah lari lebih dulu. Meski dalam hatiasih terus bertanya. ada apa sebenarnya?
Belvan butuh waktu sepuluh menit untuk sampai di kamar Nayara.
"Nay, apa yang terjadi!" batin Belvan, panik.
Belvan tidak sabar antri di dalam lift, terpaksa dia keluar dari antrian dan berlari menaiki tangga beberapa kali.
Gubrak! Belvan mendobrak pintu.
"Naya! Nay! Nay!!" Suara Belvan memenuhi ruang tamu pandangan matanya gelisah.
"Mphhh ...mphhh ... mphh." Seseorang sedang berusaha memanggil
"Tuan! dikamar belakang ada orang." Asisten Belvan mendengar seseorang berusaha memanggilnya, tetapi sepertinya mulutnya sedang di sumpal dengan sesuatu sehingga suaranya tidak jelas.
Belvan segera menuju kamar belakang bersama asistennya.
Belvan membuka kamar belakang dengan satu tendangan kakinya. kamar yang tidak terkunci itu terbuka dengan mudah dan ternyata benar Bibi Nunik sedang di ikat dengan kaki ranjang dan mulutnya disumpal dengan baju miliknya sendiri.
__ADS_1
"Bibi!" Belvan segera membuka ikatan tangan dan kaki bibi. sedangkan Asisten Belvan membantunya.
Belvan kemudian membiarkan bibi di bebaskan oleh asistennya. Belvan mulai mencari Nayara ke setiap sudut ruangan.
"Tuan, Mereka sepertinya sudah berhasil membawa Nona Nayara."
Kita kalah cepat beberapa menit dari mereka.
Tuan, ada lima lelaki membawa nona Nayara, mereka bekerja sama dengan sangat bagus dan turun lewat lift," ujar bibi yang sudah terbebas.
"Sial, apakah bibi mengenal mereka sebelumnya."
"Tidak Tuan, mereka semua menyeramkan, memakai kaos hitam dan celana hitam, tubuhnya dipenuhi tato. Aku takut Nona akan ...." Suara bibi tertahan, sekarang isak tangis yang terdengar dan airmata membanjiri pipinya.
"Tidak! Berdo'a Nayara akan baik-baik saja. Sedikit saja dia terluka aku akan mematahkan semua tangan dan kaki yang berani menyentuhnya."
Belvan menyesal selama ini dia terlalu sibuk dengan pekerjaan barunya menjadi CEO, hingga pengawasan untuk Nayara berkurang nyaris tujuh puluh persen.
Paman Bram sudah memberi Belvan kepercayaan untuk menakhlukkan hati Nayara dan menjaganya, tapi kini gadis itu malah dalam bahaya.
"Bibi, apakah Nayara memiliki musuh."
"Tidak Tuan, Yang datang terakhir kali dan membawa kekacauan dengan Nona Nayara hanyalah istri Direktur Morgan."
"Kurang ajar, berani sekali istri Direktur itu melakukan semua pada Nayara."
Belvan mengepalkan tangannya. Sekarang juga dia akan buat perhitungan dengan istri Morgan.
***
Di sebuah gudang kosong di tengah hutan.
"Ikat dia di kursi! sumpal mulutnya!" perintah pimpinan penculik.
"Bos juga melarang kita untuk memberi dia makan, yang ketahuan memberinya makan, dia tidak akan dapat ampunan," pimpinan itu kembali memberi peringatan pada ke empat anak buahnya.
"Siap Tuan," jawabnya serempak.
Nayara masih lemas, efek obat bius belum hilang dari tubuhnya. Nayara terlihat seperti seperti orang tidur, wajahnya tetap saja cantik.
Setelah mengunci gudang yang pengap penuh dengan sarang laba-laba, kardus bekas dan rosokan itu, mereka berempat keluar untuk melihat keadaan sekeliling markas.
Pimpinan penculik menghubungi Bos mereka jika misi pertamanya menculik Nayara berhasil.
"Bos, aku sudah bawa wanita penggoda itu ke markas."
"Bagus, kalian semua bekerja sangat bagus, sungguh bisa diandalkan. Kalian jaga dan awasi dia jangan sampai kabur,"
"Siap Bos."
"Hahaha, jangan sentuh dia sebelum aku memberi intruksi untuk apa yang harus kalian lakukan selanjutnya, mengertiii!"
__ADS_1
"Mengerti Bos, dia sangat cantik Bos."
"Tutup mulutmu, wanita kotor itu telah merebut suamiku, jangan pernah sekalipun memuji dia wanita ynag cantik di depanku, apa kamu menginginkannya hah? Sabar sebentar, akan ada waktunya untuk kalian memiliki dia," kata Wanita diseberang, sambil sesekali menghisap rokok.