Sekretaris Nakal (Balas dendam)

Sekretaris Nakal (Balas dendam)
Bosan mengalah.


__ADS_3

"Morgan tidak boleh berpaling. Dia hanya milikku!!" Briana tak akan rela melepas Morgan untuk siapapun, termasuk Sekretaris yang sudah dia benci sejak awal berkarir itu. 


Briana kembali memacu mobilnya dengan kecepatan tinggi. Tiba di depan perusahaan Briana segera memarkirkan mobilnya di dekat mobil Morgan.


 Briana juga melihat mobil Nayara ada di dekat mobil Morgan, membuat amarahnya  kembali memuncak.


 Namun Briana masih berusaha untuk menahan, amarah itu hanya akan dia tunjukkan di depan Nayara, bukan di depan Morgan.


Saat masuk ke ruangan Morgan, Briana sedikit lega tidak melihat Nayara ada di tempat kerja, setidaknya mereka tidak mesum di kantor seperti yang dia takutkan.


"Sayang!" Briana membuka ruang pribadi Morgan dengan berusaha tenang, dia juga memakai baju kurang bahan untuk menarik perhatian Morgan. 


"Kenapa tidak telepon dulu kalau mau kesini?" Tanya Morgan sambil sibuk mengamati laptop.


"Kenapa aku harus telepon? Bukankah dulu kamu sangat suka jika aku kesini? dan aku tidak perlu telepon dulu untuk bertemu suamiku tercinta." Briana mendekati Morgan dan duduk di pangkuannya.


"Menyingkir kamu, aku sedang sibuk, jangan ganggu aku." Morgan merasa jijik dengan Briana, bahkan jika mengingat pernah meniduri wanita itu berulang kali, rasanya dia sangat benci dengan dirinya sendiri


Morgan merasa menjadi lelaki paling bodoh dan paling tidak setia dengan kekasihnya. Morgan tak yakin jika Naya ingat semuanya dia akan bisa menerima dirinya lagi atau tidak, pria bodoh yang sudah menikahi saudara tirinya yang jahat. 


"Sayang, kamu pasti marah karena aku jarang telepon, kamu tahu aku harus fokus dengan pengobatan mama."


"Aku sibuk, bisakah kau keluar?"


"Sayang berhentilah marah padaku, aku minta maaf, aku janji tidak akan pergi lama lagi, aku akan memasak untukmu, dan aku akan membuat kamu bahagia." Briana masih salah paham, dikira Morgan marah karena lama di luar negeri.


"Briana cukup! Pergi dari sini atau aku akan …" Morgan menghentikan kata-katanya begitu ingat ucapan Tomi, dia harus hati- hati berbicara sebelum ingatan Naya pulih.


"Pulanglah, aku lagi banyak kerjaan," kata Morgan dengan nada suara lebih rendah daripada tadi. 


Baiklah sayang, aku akan pulang, tapi kamu harus berjanji akan pulang cepat, aku sudah bawakan kamu banyak hadiah. Dan malam ini aku akan memasak untukmu." kata Briana. Wanita itu mengecup kening Morgan lalu melenggang pergi meninggalkan ruangan Morgan. 


Morgan menanggapi dengan acuh. Dia tidak peduli Briana mau kemana, yang jelas dia saat ini hanya akan fokus untuk membuat Nayara ingat masalalunya terlebih dahulu. 


Briana keluar dari ruangan Morgan, dia kembali masuk ke ruangan Nayara. Tapi Nayara sedang bersama Rangga dan Andre, mereka sedang membahas masalah pekerjaan. 


Briana memilih bersabar, menunggu Nayara keluar ruang meeting. Dia akan menemui Nayara dan berbicara empat mata.

__ADS_1


 Tidak membutuhkan waktu lama untuk menunggu Nayara keluar. Begitu gadis itu meninggalkan ruang meeting dengan banyak dokumen di tangannya. Briana segera menarik lengan Nayara masuk lift.


"Nayara apakah masih ingat aku?" Senyum sinis terlihat di wajah Briana. 


"Tentu aku ingat Nyonya Morgan," jawab Nayara dengan santai. Nayara sama sekali tidak takut menghadapi wanita di depannya.


"Nayara, bagaimana rasa luka yang aku berikan tempo hari? Apakah rasanya sangat manis?" Kata Briana berlahak sombong sambil memberi ancaman.


"Ya, rasanya aku tidak akan pernah lupa Nyonya Morgan. Itu sangat menyakitkan. Tapi tenang, hukum karma di dunia ini akan berlaku untuk orang jahat seperti anda," jawab Nayara sambil tersenyum.


"Lalu kalau kamu masih ingat rasanya sangat sakit, kenapa kau tidak juga pergi meninggalkan kota ini?"


Nayara memasang senyum tipis, tapi senyum itu sangat menyakitkan bagi Briana.


 Briana mengetatkan giginya dan menatap Nayara dengan nanar.


 "Apa? Kau bilang aku harus pergi dari kota ini! Karena takut dengan kelakuan gila kamu yang menculik dan menyakiti aku?" 


"Jadi kamu tidak takut?" Tanya  Briana. 


"Briana kamu lupa aku belum melaporkan semua itu pada polisi, jika polisi tahu kira-kira apakah kamu akan bisa berkata dengan sombong seperti hari ini?" kata Nayara memancing emosi Briana. 


Nayara membalas menarik rambut Briana dan terjadilah aksi tarik menarik. 


"Aaaaaa." Briana memekik kesakitan. 


Nayara tersenyum bahagia melihat Briana kesakitan, dia bisa menahan sakitnya sendiri yang tidak seberapa itu, tapi Briana akan merasa sangat terhina karena sekretaris berani menarik rambut seorang istri direktur.


"Lepas!!" Briana meronta.


"Tidak akan, jika kau tidak melepas rambutku."


"Briana melepas rambut Nayara. Tapi Nayara tidak melepas rambut Briana, justru Nayara menarik rambut Briana dengan keras. 


"Aaaaa. Sakit." Pekik Briana. Nayara sangat menikmati teriakan Briana. Dia menarik ulur rambut Briana yang panjang. 


"Aku akan membuat Morgan memecatmu."

__ADS_1


"Lakukan saja, aku tidak yakin Morgan akan setuju," Jawab Nayara dengan penuh percaya diri. 


"Morgan akan setuju dengan setiap ucapanku, kamu lihat saja nanti, surat pemecatan tidak hormat untuk kamu akan segera kamu tanda tangani hari ini juga," ancam Briana. 


"Jika memang aku dipecat! Tidak masalah. Aku tidak akan pernah menyesal keluar dari perusahaan ini." Nayara sengaja mengancam balik 


Briana tau Morgan tidak akan mudah memecatnya, dia tahu sendiri suaminya sudah jatuh hati dengan sekretaris kelewat yantik di depannya. 


"Kau melawanku Sekretaris si*laaaan!"


"Ya, aku melawanmu, bukanlah aku waktu itu sudah menyerahkan diri untuk kau rendahkan!" Nayara mendorong tubuh Briana ke dinding. Mencekik lehernya hingga Briana sulit mengambil nafas. Briana tidak menyangka Nayara memiliki tenaga seperti banteng. Dan saat marah dia terlihat sangat menyeramkan. 


"Le-lepas!". 


" Aku tidak akan melepasmu, kau yang mulai duluan, jadi aku akan menerima setiap tantangan yang kau berikan." ujar Nayara dengan senyum smirk di wajahnya. 


"Le-le pas. Kau akan masuk penjara jika aku mati." Wajah Briana pucat pasi dan merah. Briana berusaha memukul Nayara tapi tangannya lemah. 


"Kamu kira aku takut masuk penjara!" Kata Nayara."


"Kamu sepertinya sudah gila."


"Ya, aku gila, setelah ini aku juga akan mengambil suamimu yang sangat kau sayangi itu." Nayara kembali tersenyum. " Semenjak aku merasakan cambuk yang beberapa kali aku rasakan di malam itu, otak ini menjadi gila.


Briana kali ini benar-benar takut dengan Nayara, dia tidak akan menang melawan Nayara yang semakin menggila dalam keadaan satu lawan satu. Briana berusaha keras untuk melarikan diri. Tangannya berusaha menyentuh tombol exit agar pintu lift terbuka.


Ketika pintu terbuka Nayara melepas tangannya di leher Briana, Nayara tidak mau ada oang lain memergoki kegilaannya. 


Nayara dan Briana keluar, yBrisna sangat pucat dan terbatuk-batuk. Jari jempoll Nayara bahkan meninggalkan jejak di tengkuk Briana. 


Nayara menarik lengan Briana dan membawanya ke mobil. Briana berusaha untuk melepaskan diri dengan melawan Nayara tapi lagi-lagi wanita itu terlalu kuat, bahkan tubuhnya yang putih mulus kini menjadi liat ketika bercucuran air keringat. 


Tomi sempat melihat Nayara sambil menggandeng paksa Briana, tapi lagi-lagi dia memilih acuh dan tak menghiraukan majikannya yang sombong.


"Kita akan kemana?" Briana ketakutan. 


"Kita akan bersenang senang Nyonya Morgan," kata Nayara dengan senyum penuh misteri. 

__ADS_1


Di dalam mobil Nayara memaksa Briana untuk menelan sebuah pil, Nayara sangat senang begitu pil yang diminum Briana sudah tertelan sempurna. Nayara yakin sebentar lagi tubuh wanita itu akan lemas dan tak akan ada kesulitan lagi membawanya ke tempat yang diinginkan.


__ADS_2