
Briana menunggu Morgan di kamar pribadinya seperti biasa, dengan wajah cemas. Dia mondar-mandir sambil meremas jemarinya.
Bosan di kamar Briana mulai keluar kamar dan duduk dimeja makan, perutnya sudah lapar. Sejak tadi dia sengaja menunggu suaminya pulang, dan mencari perhatian dengan tak makan dulu jika tak bersamanya.
"Ini perhiasan wanita, bukan milikku?" Briana menemukan gelang kaki di bawah meja makan.
Ini juga tidak mungkin milik asisten di rumah ini, barang ini terlalu berharga dimiliki seorang pelayan.
"Aku pernah melihat gelang kaki ini, tapi dimana, siapa pemiliknya." Briana meneliti gelang kaki yang menurutnya tak murah itu, "Ya Nayara yang memakai gelang kaki ini, jadi wanita itu datang kesini disaat aku tidak ada. Aku harus membuat perhitungan dengan j*lang itu.
Briana mengambil gelang kaki itu dan menyembunyikannya. Dia akan membawanya menemui Nayara besok.
"Nayara, berani menyentuh Morganku, adalah sebuah kesalahan besar. Kamu akan menyesal Nayara, aku akan membuatmu menyesal hingga bertekuk lutut di kakiku sambil memohon ampun." Briana terus saja menatap gelang dengan tatapan penuh misteri, sambil mengelus rambutnya yang wangi.
Sebelum pulang Briana sudah membersihkan diri ke SPA, membersihkan sisa-sisa percintaan dengan Leon hingga tanpa jejak.
Bagaimanapun Briana takut Morgan akan mencium aroma perselingkuhannya. Dia tidak mau kehilangan Morgan yang memiliki semua kriteria suami idaman.
Leon adalah lelaki selingkuhan yang paling bisa membuatnya terkesan dia bisa memuaskan hasratnya hingga berkali-kali.
Leon juga ikut pulang ketika Briana kembali, lelaki itu berjanji akan menemui Briana lagi. Leon juga memberi tahu tentang tempat tinggalnya di apartement yang ada di kota B.
-
-
"Tuti katakan padaku selama aku tidak ada siapa wanita yang berkunjung kesini?'
"Tidak ada Nyonya, Tuan Morgan sendiri di rumah."
'Kamu yakin Tuti?"
"Yakin Nona,"
Briana mendekati Tuti dan menarik rambutnya, Briana juga menyiram air teh ke wajah Tuti. "Sejak kapan kamu berbohong Tuti aku sangat benci pembohong ada di rumahku?"
"Ampun Nyonya, saya tidak tahu Nyonya. Saya hanya bertugas di dapur. Saya tidak melihat Tuan membawa wanita." Tuti bersikukuh untuk tidak mengaku.
Briana melepaskan rambutnya dari tangan Tuti dan mendorong wanita itu hingga jatuh tersungkur mencium marmer.
Briana dengan angkuh masuk ke kamar meninggalkan Tuti yang menangis terisak.
Asisten lain membantu Tuti setelah Briana pergi. Mereka membawa Tuti ke rumah belakang dan membiarkan Tuti membersihkan diri.
"Tuti kenapa kamu tidak jujur kalau tuan Morgan berselingkuh? Dia membawa wanita lain ke rumah ini." bisik teman Tuti.
"Buat apa aku harus bercerita, lagipula Nyonya Briana juga tak akan berhenti kasar sama aku," kata Tuti.
Teman yang lain pun akhirnya mengerti kenapa Tuti suka melawan Briana, karena wanita itu memang selalu menjadi korban keganasan Briana.
"Aku justru senang kalau tuan Morgan menikahi Nayara, dia sangat cantik dan baik, sepertinya tuan juga akan lebih bahagia mendapat istri yang suka masak di dapur untuk dirinya."
__ADS_1
"Kamu sudah gila, Tut," ledek kawan Tuti.
***
Tak lama mobil Morgan telah tiba. Tomi membuka pintu kedua dan tak lama Morgan keluar.
Tomi membungkuk di depan Morgan. "Tuan, sepertinya lebih baik rahasiakan apa yang anda ketahui dan bersikap biasa."
"Aku akan mencobanya, tapi aku sudah tidak sabar untuk membuat Briana mengakui perbuatannya."
"Maaf Tuan, aku khawatir Nyonya akan menghabisi Nona Nayara sebelum anda membuat Nona Nayara ingat semuanya."
"Baiklah. terimakasih sudah selalu mengingatkan" Kata Morgan sebelum melangkah masuk.
Morgan hendak langsung masuk ke kamarnya, Briana yang sejak tadi sudah mengintai dari kamar pribadinya segera memeluk Morgan dari arah belakang.
"Sayang aku merindukanmu. Aku sangat mencintaimu."
Morgan menghempaskan tangan Briana yang melingkar di perutnya.
"Sayang apa kamu tidak merindukan aku?" Briana kecewa.
"Aku lelah untuk hari ini jangan ganggu aku," jawab Morgan dingin.
"Sayang aku baru pulang dan kau seperti ini?"
"Jangan membantah aku sedang tidak ingin berdebat."
Morgan tidak menghiraukan ucapan Briana, dia justru mengunci pintunya dari dalam.
"Semua ini pasti karena wanita sialan itu, dia benar-benar ingin mengambil Morgan dariku."
"Jangan harap Nayara aku akan melepaskan kamu setelah ini." Briana berteriak dengan kesal.
-
-
Di dalam kamar Morgan segera melepas semua pakaiannya dia lalu mandi dan berendam di bathup, dia sudah tak sabar menanti hari akan berganti dengan esok. Morgan ingin segera bertemu dengan Nayara dan berlahan akan memberi kejutan-kejutan kecil yang mengingatkan akan masalalu indah yang pernah dia lewati.
Usai mandi Morgan memakai handuk kimono. Menatap rembulan malam yang bersinar cerah.
"Nay aku berharap kamu segera ingat semuanya, apakah kamu benar-benar tak ingat dengan masalalu kita, aku dan kamu bermain sambil hujan hujanan di bukit. Kamu selalu bilang aku adalah suami kamu di masa depan.
***
Malam semakin larut, makan malam juga berakhir.
Flora mendekati Nayara saat Belvan sedang mendapat telepon penting dari rekan bisnisnya.
Nayara dan Flora sama-sama berdiri ditepi pagar teralis sambil melihat pemandangan disekitar mansion Belvan.
__ADS_1
"Hay nay …"
"Hay, Kak Flora"
"Sudah lama kenal Belvan?"
"Iya, sudah lama, Kak."
"Boleh tahu alasannya kenapa mau pacaran sama dia?"
"Em, alasannya …. Kami teman baik."
"Teman? Jadi kamu menganggap dia teman, sedangkan Belvan mencintaimu? Kok mau diajak kesini? Atau kamu suka Belvan karena dia lelaki sukses?"
"Enggak begitu maksud aku, aku akan belajar mencintai Belvan."
"Nay, kamu tahu kan Belvan itu adik aku satu-satunya. Dia kesayangan keluarga kami. Aku mau wanita yang akan menemani dia adalah wanita baik-baik, tidak matre dan dia juga mencintai Belvan. Tapi aku lihat kamu memanfaatkan dia, dia begitu bertekuk lutut jika denganmu"
"Memanfaatkan?" Nayara semakin tidak mengerti.
"Iya," jawab Flora pendek.
"Mungkin itu perasaan kakak saja."
"Sudahlah yang jelas aku tidak mau kamu mendekati Belvan karena kamu hanya memanfaatkan kekayaan dia."
Nayara tidak percaya dihari pertama bertemu dengan saudara Belvan wanita itu berkata sangat menyakitkan, secara tidak langsung dia menilai dirinya dekat dengan Belvan karena ada maunya.
"Belvan itu kalau sudah cinta dia sangat sulit untik melepaskan, jadi jika niat kamu tidak tulus mending kamu jaga jarak sama dia."
Flora sebenarnya takut Nayara yang begitu cantik di depannya akan kabur setelah mendapat harta kekayaan Belvan seperti kekasih Flora terdahulu. Setelah dapat cinta harta dan kesuciannya kekasih Flora menghilang bak ditelan bumi.
Itu sebabnya Flora tidak suka Nayara karena dia terlalu bersinar dan cantik di malam ini, belum lagi sifat Belvan yang meratukannya.
"Maaf, dari percakapan kita tadi aku tidak mengerti apa maksud anda, yang jelas aku tak ada niat lain selain tetap berhubungan baik dengan Belvan," Kata Nayara.
Nayara pamit pada Flora untuk segera pulang. Karena Belvan sudah selesai berbicara di telepon. Lelaki itu berjalan mendekat ke arah Nayara.
"Ma, mau antar Nayara pulang." Belvan pamit terlebih dahulu pada Mama.
"Iya Belvan. Kamu jaga Nayara ya."
"Siap Ma."
"Kak Flo aku pulang." Pamit Nayara pada Flora.
"Hem, Belvan kamu cepat balik ya, Kakak mau minta tolong sama kamu, masalah kerjaan."
"Baik, Kak." Belvan mengangguk lalu menggandeng Nayara ke mobil.
Di mobil Nayara lebih banyak melamun, dia terus memikirkan ucapan Flora. Apakah saat ini di sedang memanfaatkan kebaikan Belvan?
__ADS_1