Sekretaris Nakal (Balas dendam)

Sekretaris Nakal (Balas dendam)
Penyelidikan


__ADS_3

"Tomi, tolong mampir ke kota X, aku ingin kesana."


"Tapi Tuan, belok kesana lumayan jauh, dan anda harus istirahat."


"Tomi, kamu bilang aja kalau sebenarnya mulai bosan kerja sama saya."


"Tentu tidak Tuan, Saya sebenarnya cuma khawatir kondisi kesehatan anda."


"Tomi, aku tidak suka kamu berfikir aku sangat lemah seperti seorang kakek-kakek renta, aku hanya demam." Morgan Menatap tajam ke punggung Tomi yang sedang menyetir. Sejak kemarin Morgan sangat kesal dengan Tomi yang sudah menceritakan semuanya di depan Nayara dan Belvan. 


"Maaf tuan." Tomi akhirnya diam, daripada bicara akan semakin salah. 


Morgan tiba di rumah megah yang dulunya menjadi tempat tinggal gadis masa kecilnya. Rumah yang dihuni orang baru itu belum banyak berubah.


Morgan tahu rumah itu dijual oleh Diana, dengan alasan tidak ingin terus mengingat mendiang suami dan anak tirinya yang sudah tiada, kepergian keluarga barunya membuat dirinya terpukul. 


Diana pura-pura depresi dan ingin menunjukkan pada semua orang kalau dia juga sangat kehilangan.


"Tuan kita sudah sampai." Tomi menatap rumah megah ketika mobilnya berhenti tepat di depan gerbang. 


Morgan nampak diam, ingatannya kembali pada Naya kecil,  bayangan gadis kecil paling suka boneka bear tengah menyambut kedatangan dirinya beserta sang papa saat berkunjung, kembali terlintas di benak. 


'Naya, maafkan aku. Bukannya aku ingin mengusik ketenanganmu di surga, atau meragukan surat wasiat yang kau tulis untukku. Aku hanya ingin tahu semua kebenaran itu, karena akhir-akhir ini aku merasa ada yang disembunyikan Briana. Aku tidak mau terus hidup dalam tanda tanya.


Morgan bertanya pada penghuni baru rumah orang tua Nayara. Tapi lagi-lagi mereka tidak tahu apa-apa seperti sebelumnya. Mereka datang untuk membeli rumah itu dalam keadaan sudah kosong.


"Tuan, bagaimana jika kita tanyakan pada tetangga sebelah, semoga mereka masih penghuni lama."


"Kamu benar, Tomi." Morgan setuju dengan ide Tomi. Kedua lelaki itu akhirnya mencoba mendekati seorang pria paruh baya yang sedang duduk di depan Rumah nya yang sudah reot.


"Permisi!" Tomi menyapa dan langsung saja membuka pagar dari bambu.


"Oh, iya Tuan, sepertinya kita tidak saling kenal. Anda siapa?"


Morgan memberi kode pada Tomi, meminta lelaki itu untuk menjelaskan maksud kedatangannya. 


"Begini Pak, Tuan saya ingin bertanya pada anda tentang kejadian tiga belas tahun silam, apakah gadis kecil bernama Naya yang tinggal di sebelah ini telah meninggal karena sakit keras."


"Nona Naya?" Laki-laki itu terkejut, dia tidak menyangka ada orang yang akan menanyakan kematian Nayara yang waktu itu di anggap mengenaskan.


Morgan bisa melihat perubahan wajah laki laki itu, Morgan yakin bapak tua itu tahu sesuatu dan bisa memberinya informasi. 


"Katakan padaku semua yang anda tahu Pak!"


"Maaf, aku tidak tahu apa-apa," jawab Pria itu dengan gugup. Berusaha menghindar dari pertanyaan, lelaki itu bergegas hendak pergi dan mengunci pagar. 

__ADS_1


"Pergi dari rumah ku, aku hanya orang miskin, percuma tidak akan ada informasi yang kalian dapat."


Lelaki itu berbicara kasar dengan Morgan dan Tomi. 


Tomi mendekat dan dan membisikkan sesuatu. "Tuan, melihat gelagatnya, dia pasti tahu sesuatu.


"Kamu benar, sepertinya aku harus lakukan sesuatu."


"Cepat pergi, tunggu apalagi?" Jangan pernah datang kesini lagi!"


"Jika anda tidak menjelaskan semuanya, maka saya pastikan anda akan menyesal!" Morgan menodongkan pistol yang baru saja diambil dari saku celana.  Morgan yakin lelaki itu bisa memberi sedikit informasi.


wajah lelaki yang tadinya sok berani kini nyalinya langsung ciut. "Ampun, tolong jangan lakukan itu."


"Jika anda jujur dan memberi informasi sebenarnya, mungkin saya akan memaafkan anda, tapi jika anda berbohong, jangan harap ada ampunan, polisi pun tak akan bisa menyelamatkan jiwa anda saat ini," kata Morgan, ucapanya terdengar dingin dan menakutkan bagi orang yang tidak mengenal sebelumnya.


"Saya hanya orang miskin, tolong ampuni saya. Saya akan cerita sesuai yang saya tahu. Sebenarnya saya waktu itu bekerja sebagai tukang kebun di rumah Nona Nayara. Nona Nayara sebenarnya meninggal setelah dirawat di rumah sakit, sebelumnya dia mengalami kecelakan karena tubuhnya ditabrak oleh mobil seseorang yang tidak dikenal, dengan kecepatan tinggi. Dan kebetulan waktu itu pengemudi sedang mabuk."


"Katakan apalagi yang anda ketahui?" Kata Morgan yang sudah tak semarah tadi.


"Saya menyaksikan Nona Nayara telah didorong oleh Nyonya Diana, tapi waktu itu Nyonya Diana meminta kepada saya untuk tidak menceritakan pada siapapun, karena anak dan istri saya juga dalam bahaya kalau sampai semua berita itu bocor."


Morgan terlihat marah, raut wajahnya semakin memerah. Alangkah bodohnya selama ini dia percaya begitu saja dengan berita yang di dapat dari Briana dan orang tuanya.


"Tuan, saya sudah ceritakan semua pada anda, tolong lindungi keluarga saya, saya takut kalau mereka benar-benar akan menghabisi anak dan istri saya."


Morgan menepuk punggung lelaki yang sudah memohon sambil berjongkok di depannya.


"Kamu akan selamat, isi cek ini sesuai harga rumah dan tanah yang akan kau beli, dan tinggalkan rumah jelekmu ini." Morgan memberi mantan tukang kebun Nayara dengan cek kosong, tapi jika suatu hari aku tahu berita yang kau berikan ini bohong, maka aku sendiri yang akan mencarimu dan meremukkan seluruh tulang mu."


"Tidak Tuan, aku berani bersumpah tidak ada kebohongan yang aku katakan," pria itu berani menjamin jika kesaksiannya benar.


-


Morgan dan Tomi pergi meninggalkan kediaman Nayara. Morgan melangkah dengan ling-lung, hatinya hancur karena dia harus menikahi wanita licik seperti Briana.


Meski kesaksian lelaki itu benar, tetap saja hanya membuat Morgan semakin sedih, cinta pertamanya mati mengenaskan karena ulah ibu tirinya, dan parahnya dia bahkan menikahi anak dari wanita yang menjadi pelaku kejahatan.


"Argggg." Morgan memukul dasboard mobil dengan keras. 


"Tuan, kendalikan emosi anda, orang akan mengira anda sudah gila.


"Argh." Morgan meremas rambutnya frustasi. 


"Tuan, anda harus bisa mengendalikan diri, ini tidak benar."

__ADS_1


"Pergi Tomi, pergi!" Morgan meminta Tomi pergi, karena saat emosi dia akan memukul siapapun yang ada di dekatnya. 


Sudah diberi peringatan, tapi Tomi keras kepala, karena memaksa Morgan untuk masuk, akhirnya dia terkena siku Morgan hingga tubuhnya terjerembab ke tanah.


Tomi mengusap sikunya yang berdarah dan membiarkan Morgan merutuki kebodohannya. Lelaki itu segera masuk ke mobil dan menyalakan mesin.  


Dengan langkah sempoyongan Morgan iku masuk menyusul Tomi karena takut Tomi kesal dan meninggalkannya.


-


-


Tiba di rumah, Morgan langsung ke kamar pribadinya, menuang satu gelas minuman beralkohol, yang dia jadikan untuk obat penenang. 


Morgan meracau sendirian saat di dalam kamar, Tomi meminta asisten Tuti untuk memantau Morgan. 


"Brengsek! Wanita gila. Bisa-bisanya dia membodohiku selama ini." Rancau Morgan sambil menonjok foto pernikahan mereka yang terpajang di salah satu sudut dinding.


***


Esok hari Morgan berusaha menghubungi Briana, kata-katanya manis dan lembut,  berpura pura kalau sudah sangat merindukan kehadiran sang istri. 


"Sayang, kapan kamu pulang? Anakonda sudah sangat merindukanmu."


"Sayang, Suruh anakonda bersabar beberapa hari, karena mama kembali sakit,"


"Baiklah, aku akan merindukanmu."


"Sayang, mama butuh uang seratus juta untuk biaya berobat."


"Oke sayang, tunggu sebentar aku akan segera transfer."


'Dasar wanita licik, ini terakhir kalinya kau menikmati uangku, setelah itu kau akan mendapatkan balasan setimpal dari perbuatanmu.' Morgan tersenyum smirk sambil menatap foto besar di depannya yang sudah robek.


*Hallo sayang, biar emak semangat update yuk dikasih Vote, Bunga, dan Like.


*Komentarnya yang rame ya.



 


 


 

__ADS_1


__ADS_2