Sekretaris Nakal (Balas dendam)

Sekretaris Nakal (Balas dendam)
Semakin lengket.


__ADS_3

Naya tertidur di bahu Morgan, Morgan dengan senang memberikan bahunya untuk tempat bersandar.


Mereka sudah sampai di depan Villa, akan tetapi Morgan tidak segera turun. Dia tidak mau mengusik tidur Nayara yang tengah pulas.


"Ehm." Nayara menggeliat, dia membuka matanya dengan cepat begitu sadar pipinya basah, air apa yang membasahi pipinya?


Nayara mengusap dengan cepat, dia juga melihat kemeja Morgan basah membentuk lingkaran kecil.


"Upsss." Nayara segera menutup bibirnya yang reflek terbuka dan membentuk huruf o.


"Morgan apa tadi aku ...." Nayara sangat malu, dia tidak tahu lagi harus kemana menyembunyikan wajahnya, melihat ada liur menghiasi kemeja Morgan.


"Morgan lepas saja kemeja itu, aku akan mencucinya, Ayo! cepat lepas dari tubuhmu!" perintah Nayara sambil memaksa Morgan melepas kemejanya.


Morgan tertawa melihat Nayara yang salah tingkah. Sebenarnya ini bukan pertama kalinya pundaknya menjadi sandaran Nayara dan gadis itu meneteskan liur disana.


"Kamu yakin mau melihat tubuhku? bagaimana kalau kau tidak tahan dan menginginkannya."


"Kau kenapa mesum sekali, aku tidak mungkin tertarik dengan tubuh jelekmu." jawab Nayara.


"Hm, benarkah?" Morgan mulai melepas satu persatu kancing kemeja yang dia pakai.


"Nayara melihat jelas betapa indahnya pahatan tubuh Morgan, perut kotak dan bulu halus di dada yang tidak dimiliki oleh semua laki-laki.


"Aku yakin kamu pasti akan mengeluarkan liur lebih banyak ketika melihat tubuhku, Nay. Aku bukan Morgan yang gendut seperti dulu." kata Morgan penuh percaya diri.


"Kau terlalu percaya diri, Aku tidak melihat ada yang istimewa dari tubuhmu, itu masih biasa-biasa saja." jawab Nayara mencibir. Nayara tidak ingin Morgan akan makin melambung ke angkasa kalau dia memujinya.

__ADS_1


"Nih! dasar gadis sudah gedhe masih suka ngiler." ledek Morgan. lelaki itu menyerahkan kemejanya pada Nayara.


"Tadi liur itu keluar karena posisi tidurku tidak benar. Biasanya juga nggak pernah"


Nayara buru-buru turun sambil memeluk kemeja Morgan. Morgan menyusul turun tanpa mengenakan kemeja. Dada bidangnya terekpos membuat Tomi yang melihatnya berfikir macam-macam."


'Jadi, itu sebabnya mereka lama di dalam mobil tadi?'


"Tuan Morgan tidak boleh ceroboh, kalau sampai publik tahu mereka macam-macam sebelum Tuan Morgan resmi bercerai, ini akan jadi berita publik yang sangat buruk dan menghancurkan nama baiknya dan perusahaan," kata Tomi berbicara seorang diri sambil melihat mereka berdua yang beriringan.


Apalagi Tomi melihat Nayara tengah memeluk kemeja milik direkturnya.


Morgan dan Nayara sama-sama berjalan masuk.


Tomi mendekat dan menghentikan Morgan. "Maaf Tuan, bukannya ikut campur tapi sebentar lagi ada meeting. Dan ...." Tomi ragu meneruskan kata-katanya.


"Baiklah, kamu baik sekali sudah mengingatkan aku. Nayara bukan gadis bodoh, dia tidak mungkin mau melakukannya sebelum ada ikatan pernikahan," jawab Morgan seolah tahu apa yang dipikirkan oleh Tomi.


Tomi bernafas lega. Tomi memang asisten Morgan yang sudah mendapat mandat dari keluarga Morgan supaya terus mendampingi, oleh karena itu Tomi tidak sungkan menegur Morgan ketika ada perilakunya yang salah.


Morgan segera mandi dan ganti pakaian, dia sebentar lagi akan meting. Nayara mencuci baju Morgan dengan mesin, lalu duduk di dekatnya sambil bermain ponsel.


Morgan tersenyum melihat Nayara sibuk bermain ponsel dan lupa jadwal meting. Sepertinya dia ingin sekali mengerjai Nayara


"Ehm, Nay, lima menit lagi meting, bagaimana bisa kamu masih sesantai ini?"


"Apa!? kenapa aku baru tahu, seharusnya aku lebih tahu dulu kalau ada perubahan jadwal. Aku yang jadi sekretaris tapi kenapa aku tidak dibutuhkan dalam hal ini?" Nayara terlihat gugup, panik dan kesal. Sedangkan Morgan berusaha menahan senyumnya.

__ADS_1


Nayara segera bangkit dari duduknya dan berjalan meninggalkan mesin cuci yang masih berputar, karena dia butuh waktu cepat untuk segera merapikan diri. Morgan menarik lengannya dan membawa tubuh Nayara ke dalam dekapan.


"Cup." Morgan mengecup kening Nayara.


"Aku berbohong, ternyata kamu panik banget, Sayang.


"Sayang." Nayara terkejut Morgan memanggilnya sayang.


"Iya, Sayang. Aku berbohong," kata Morgan tersenyum nakal.


"Kenapa suka sekali bikin orang senam jantung." Nayara bernafas lega. "Dan satu lagi jangan panggil aku sayang.


"Kenapa tidak boleh? Belvan saja memanggilmu, Honey? dan tak ada yang melarang."


Saat mereka berdebat, tiba tiba terdengar pintu diketuk.


Tok! tok!


"Siapa ya?" Nayara bertanya pada Morgan, sedangkan lelaki itu hanya mengendikkan bahunya tak mengerti.


Nayara dan Morgan sama-sama menoleh ke arah pintu, ketika seseorang di seberang sama tak kunjung menyerah.


"Tomi," lirih Morgan.


"Nggak mungkin Tomi, soalnya ngapain dia pake ketuk pintu," ujar Nayara sambil menjauhkan diri dari Morgan.


Nayara mendekat dan membuka pintu, alangkah terkejutnya melihat seseorang yang berdiri di depan pintu itu adalah sosok yang begitu familiar.

__ADS_1


*Yuk, mampir di karya emak satunya lagi ya. Emak ikut misi kepenulisan, doakan lolos biar bisa lanjut. Judulnya ( Terlambat menyadari CINTA)


__ADS_2