Sekretaris Nakal (Balas dendam)

Sekretaris Nakal (Balas dendam)
Ketakutan Briana.


__ADS_3

Usai telepon dengan Morgan, Nayara menarik kursi kecil ke tepi jendela kamar, melihat pemandangan luar dikala malam yang sangat sunyi.


Semua orang lelap dalam tidurnya, tapi entah kenapa netra nayara sulit sekali untuk terpejam, bahkan kantuk pun tak sedikitpun dia rasakan.


Dipegang dan dimainkannya cincin yang sejak semalam tersemat di jari manisnya. Bentuknya indah, harganya fantastis tapi kenapa tidak sanggup membuat Nayara bahagia.


Dia sadar kalau pagi benar-benar akan tiba setelah cahaya kemerahan terlihat di ufuk timur, Akan tetapi mata belum juga dapat terpejam.


"Nona, anda semalam tidak tidur?" Asisten rumah tangga Nayara menyapa, ketika mengantarkan teh hangat ke kamar.


"Tidak Bi, mata ini susah untuk di pejamkan." Nayara beranjak dari kursi.


"Aku tahu, Nona pasti sedang dalam masalah yang berat, "kata bibi lagi.


Nayara berusaha tersenyum. "Bibi tahu aja, Bibi memang paling mengerti," kata Nayara sambil meraih gelas dan meneguk teh hangat.


"Non, baju kerja sudah aku siapkan."


"Tidak usah Bi, sepertinya aku akan libur dalam beberapa hari ini, atau mungkin aku akan mencari kerja yang lain." kata Nayara dengan suaranya yang gemetar.


"Oh, baiklah Non. kalau begitu bibi akan melanjutkan pekerjaan di dapur," kata Bi Nunik.


Tak lama suara bel apartement Berdering, Nayara hanya menoleh ke arah pintu lalu kembali menatap ke arah jendela seperti semalam.


Nayara sudah tahu siapa yang datang, pasti Belvan. Karena pagi ini Uncle dan Aunty akan kembali pulang ke negaranya. Lelaki itu tentu bersemangat untuk mengantarnya.


"Belvan masuk!" Suara Aunty terdengar begitu sumringah menyambut kedatangan Belvan.


"Nunik, cepat Belvan buatkan minuman yang hangat, dan panggilkan Nayara."


Karena Nayara tak kunjung keluar, Belvan masuk menemui Nayara dengan langkah yang sengaja dipelankan.


Belvan melihat Nayara yang melamun, dia segera mendekat dan menghampiri, masih dengan langkah pelan.


"Selamat pagi, Honey!" Belvan memeluk Nayara dari belakang. Nayara tidak kaget, hanya tersenyum tipis.


"Pagi," jawab Nayara memaksa senyumnya. Ketulusan kini tidak ada lagi, semuanya yang dilakukan seolah terpaksa. Nayara sedang berusaha menjadi pemain protagonis terbaik didepan lelaki yang dianggap tak lebih dari sahabat itu.

__ADS_1


Belvan menempelkan dagunya di pundak Nayara, lalu menunjukkan hadiah yang dia bawa pagi ini, buket bunga mawar dengan beberapa kalimat ucapan sayang menempel disana.


"Terimakasih, Belvan." Nayara menoleh dan lagi-lagi hanya tersenyum.


"Sama sama Honey. Baru semalam kita bertemu, sekarang aku sudah sangat rindu."


"Jangan terlalu cepat rindu, bagaimana kalau sesuatu terjadi padaku dan aku tak ada di dunia ini lagi."


"Hem, mungkin aku akan gila."


"Tidak Belvan, kamu harus selalu baik-baik saja," jawab Nayara.


Nayara lalu bangkit dan meletakkan bunga dari Belvan di atas meja setelah menciumnya.


Nayara mengeluarkan dua baju yang menurutnya bagus untuk dipakai pagi ini ke bandara, satu warna putih dan warna hitam.


Belvan memeluk Nayara dari belakang. Nayara kembali terkejut dengan perlakuan Belvan yang tiba-tiba.


"Belvan, jaga batasan kita, kita tidak boleh seperti ini, kamu sebaiknya tunggu aku di depan saja."


"Nay, diantara kita tidak ada batasan lagi, sebentar lagi aku akan menikahimu."


"Baiklah aku minta maaf jika aku salah. Aku mengira kamu akan senang dengan surprise yang aku berikan. Tapi sepertinya aku salah." Belvan keluar dengan mimik muka kesal.


Nayara masuk kamar mandi, dia sengaja berlama-lama di dalamnya. Nayara benar-benar pusing menghadapi sikap Belvan yang semakin tak bisa diduga.


***


"Belvan, kamu harus bersabar menghadapi Nayara, dia memang keras kepala. Apalagi semua kehidupan pahit yang menimpanya sejak kecil," kata Aunty


"Belvan tahu Aunty, oleh sebab itu saya ingin membuat Nayara menjadi wanita paling bahagia di dunia ini."


"Terima kasih Belvan, Aunty percayakan Nayara di sini bersama kamu."


"Jangan khawatir, Aunty."


Belvan dan Aunty berbicara banyak hal tentang Nayara, Uncle Bram ikut bergabung dan mereka sama-sama menikmati teh hangat.

__ADS_1


Tak lama Nayara keluar kamar, dia memilih memakai blouse warna putih dan riasan sederhana saja. Nayara tetap terlihat cantik dengan apapun yang melekat di tubuhnya.


"Dia sangat cantik Uncle." Belvan senyum senyum sendiri melihat Nayara keluar.


"Kamu benar. Keponakanku memang sangat cantik. Kamu sangat beruntung." Uncle berbisik pada Belvan.


Nayara mengambil duduk di dekat Belvan. mereka berempat sarapan bersama dalam suasana bahagia, sebelum akhirnya mereka berangkat ke bandara.


***


Morgan baru bangun setelah dia semalam juga tak bisa tidur. Lelaki yang memiliki kebiasaan tidur dengan bertelanjang dada itu segera turun ke dapur untuk mengambil minum hanya dengan memakai celana kolor saja.


Saat mata masih terasa berkabut, Morgan merasakan ada tangan lembut yang sedang memeluknya.


"Sayang kamu rupanya sudah pulang, kenapa kamu tidak langsung menemui ku di kamar, aku sangat merindukanmu."


Morgan tahu itu suara Briana, ingin rasanya dia segera mencekik leher wanita itu, tapi Morgan tidak akan melakukannya sekarang, dia harus tahu banyak hal, kalau selama ini apa yang dilakukan sudah terbongkar semua. Dan Morgan tidak bisa membiarkan Briana lolos begitu saja karena wanita itu sudah membuat dirinya salah melangkah.


"Sayang, aku sangat merindukanmu." Briana menempelkan wajahnya di punggung Morgan mencium aroma keringat yang sudah menjadi candu baginya.


"Apa yang kamu lakukan?! menyingkirkan." Morgan melepaskan tangan Briana dengan kasar, Akan tetapi sepertinya Briana tidak patah semangat dia kembali memeluk tubuh kekar suaminya.


"Sayang. Maafkan aku aku bersalah telah mengabaikan kamu demi ibu, sekarang aku sudah kembali untukmu, aku tidak akan pergi lagi," rayu Briana.


Morgan masih diam, mengumpulkan kesabaran untuk menghadapi kelakuan Briana. Morgan ingin tahu apa saja kebohongan yang ingin dikatakan wanita yang pernah menjadi istrinya itu.


"Sayang, aku tidak mau kita berpisah, aku akan memperbaiki semuanya." Briana menangis sesenggukan hingga membasahi punggung Morgan.


"Simpan airmata kamu Briana, aku tidak akan pernah tertipu lagi, apa yang kamu lakukan tidak akan pernah ku maafkan. Sudah saatnya kamu menyerahkan diri pada Nayara. Selama ini kau sudah membuatnya sangat menderita," kata Morgan dingin.


"Nayara! sepertinya kamu sudah termakan oleh kata manis Nayara. Dia ingin mengambil kamu dariku. Nayara yang dulu dan sekarang sudah berubah, dia sangat menakutkan." Kata Briana memasang wajah ketakutan.


"Lihat ini, dia bahkan telah menusukku dengan keji." Briana menunjukkan bekas lukanya di dada.


"Lihat punggungku." Briana membuka seluruh baju atasnya hingga menyisakan benda mirip kacamata itu saja.


Morgan sama sekali tidak simpati dengan keluhan Briana. dia hanya tersenyum. "Bagus jika itu semua Nayara yang melakukan."

__ADS_1


"Morgan. Tolong lindungi aku. Nayara sangat berbahaya. Kita sudah bersama sangat lama tidakkah ada setitik cinta untukku. Morgan Nayara akan membunuhmu." Rengek Briana memohon perlindungan dari Morgan.


__ADS_2